Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Wali Lara


__ADS_3

Prewed selesai. Lara dan Adam yang sudah lelah pulang kerumah, lalu melihat Mama ana sedang merancang undangan. Menulis daftar tamu, dan. Menghubungi beberapa percetakan.


"Lara... Sini, Nak. Mama mua nanya." panggil Mama ana, yang terlihat cantik dengan kacamatanya.


"Iya Ma, kenapa?" tanya Lara.


"Mama lupa nanya, sangking ngga ambil pusingnya sama status. Tapi, ternyata ini penting. Nama orang tua Lara siapa, Nak? Setidaknya ditulis disini meskipun sudah tidak ada." ucap Mama ana.


"Waduh.... Kenapa ngga kepikiran tentang ini. Nanti kalau Mama sadar ketika kusebutkan nama Ayah bagaimana?" batin Lara, panik.


"Lara... Kok ngelamun? Mama nanya loh, udah buru-buru ini." tegur Mama ana.


"Nama Ayah Lara... Fajar Antoro, Ma. Kalau Bunda, Tulis aja Nuraini." jawab Lara, terbata.


Mama ana sedikit tercengang mrndengar nama itu, seolah pernah mendengar nama orang yang sama yang menjadi bagian hidupnya.


"Fajar Antoro?" tanya Mama ana.


"Iya.... Ayah udah meninggal ketika Lara balita. Ma'af, Lara bohong lagi."

__ADS_1


"Iya? Ah mungkin hanya sama namanya. Nama itu juga kan, pasaran. Itu nama sahabat Mama, yang sudah meninggal sekitar Dua Belas Tahun lalu." jawab Mama ana.


"Owh, iya Ma... Nama itu memang pasaran. Ada lagi, Ma? Lara mau permisi mandi dulu. Capek sama gerah rasanya." ucap Lara.


"Iya, mandilah sana. Istirahat, udah itu kesini lagi. Bantu Mama masak, soalnya Dion mau datang."


"Owh, iya.... Lara keatas dulu." pamit Lara.


Lara berjalan pelan menuju kamarnya hatinya kembali berdebar ketika tahu jika Dion akan datang.


"Semoga saja menginap." harap Lara dengan ceria.


Seperti rencana, Lara masuk kekamar dan langsung mandi. Lara terus bersenandung selama aktifitas mandinya karena terlalu ceria karena kabar kedatangan Dion. Rasa lelahnya seketika hilang, dan langsung berlari kebawah untuk membantu Mama ana memasak.


"Masak kesuka'an Dion, udah Mama siapin alat-alatnya. Lara bisa masak rendang?" tanya Mama ana.


"Bisa... Jawab Lara dengan senang hati, lalu mulai mengolah daging.


Lara yang sudah terbiasa membantu dirumah makan, tak ragu lagi dalam meracik bumbu rendang, terlebih lagi karena itu makanan kesuka'an Dion. Lara tahu betul, apa yang tak disukai Dion, takaran pedas, dan tingkat kekentalan santannya.

__ADS_1


Mama ana hanya menatap Lara yang terlalu lihai, bahkan faham akan pantangan Dion. Namun masih belum mau menegurnya.


"Anak ini, sebenarnya menginginkan Dion, tapi kenapa menikahnya dengan Adam? Semua tentang Dion, Dia sudah begitu faham sampai sedetail itu." batinnya.


Mama ana masih diam, hingga Lara menyelesaikan tugasnya dan Mama ana mengerjakan yang lain.


"Ma... Coba cicip, pas ngga?" pinta Lara.


"Pas... Ini Dion banget. Sefaham itu Lara sama Dion?" tanya Mama ana.


"Hah? Eng- engga... Lara masak sesuai yang Lara pelajari dirumah makan." tukas Lara, terbata-bata.


"Jangan terlalu semangat Lara. Dion kemari untuk kami, bukan untuk kamu. Kamu faham bukan?"


"Iya, Lara faham. Ma'af." jawab Lara.


"Jangan sampai, Mama menpertanyakan apa alasan kamu mau menikah dengan Adam. Karena Mama selama ini tak ambil pusing soal itu. Sekarang, lanjutkan masaknya. Sebentar lagi Papa dan Dion datang."


"Apa perlu, Lara tambah bumbunya, agar Dion tak terlalu peka dengan rasanya?" tanya Lara.

__ADS_1


"Tidak... Tapi bilang saja, jika ini buatan Mama. Maka Dion akan diam, Ia tak perlu merasa galau ketika memakan masakanmu yang terlalu sesuai dengan seleranya." ujar Mama ana, lalu menggantikan Lara mengaduk masakanya.


Mama ana benar, ketika Dion tahu jika masakan itu buatan Lara, perasa'an mereka akan bergetar kembali, dan Ia tak mau itu terjadi. Lara milik Adam, dan Mama ana sudah memilihkan jodoh sendiri untuk Dion.


__ADS_2