Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Bertemu Pak johan


__ADS_3

Dion menatap bingung pada mereka berdua. "Ma... Apa maksudnya ini?" tanya nya.


"Jangan dengarkan dia." jawab Mama. Ana.


"Kenapa? Mama terlalu sering menjadikan contoh atas nasib orang lain pada Lara. Lara curiga jika itulah masa lalau Mama." tukas Lara, berkacak pinggang dihadapan semuanya.


"Kamu sudah gila Lara. Kenapa jadi seperti ini?" tanya Dion padanya.


Lara hanya diam, tak mau menjawab lagi. Hatinya mulai kesal sekarang, Ia hanya ingin melawan dan memarahi semua orang yang ada disana.


"Sudahlah, Lara capek Ma. Mama ngga usah terlalu memaksa Lara untuk melakukan apa yang Lara mau. Meski Lara suka dengan cara Mama memanjakan Lara, tapi Lara kesal ketika dipaksa melakukan hal yang ngga Lara suka." Lara lalu naik kekamarnya, dan mengunci pintu dari dalam.


" Mas... Lara kenapa?" tanya Dewi, yang bingung dengan keadaan ini.


" Ngga usah difikirkan, Dia hanya stres dengan kehamilan-nya. Terlebih lagi, jauh dari suami yang biasa memanjakan-nya." Mama ana berusaha mencairkan keadaan.


"Iya, Dewi sama Mas Dion mau kekantor dulu, abis itu mau Wo buat ngurusin pernikahan." pamit Dewi, lalu mencium tangan Mama ana.


Selepas kepergian mereka, Mama ana membereskan meja makan. Lalu melakukan aktifitasnya seperti biasa diluar.

__ADS_1


"Ana...." Pak johan datang menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Mama. Ana.


"Pernahkah kamu mengingat tentang dia?"


"Siapa? Anak itu? Kenapa harus mengingatnya?" Mama ana kembalu bertanya maksud Pak johan yang datang, tanpa dipersilahkan masuk, bahkan duduk.


"Dia sudah dewasa, seusia Lara dan Dion."


"Jangan ungkit dia dihadapanku. Hanya mengingatkan ku pada luka itu Johan. Aku bahkan benar-benar sudah menganggapnya tak ada, sebelum kamu datang dan menanyakan tentangnya barusan."


"Darah daging yang tak ku inginkan kehadiran-nya, bahkan membawa perih yang begitu dalam hingga sekarang."


"Namanya pun kamu tak ingat?" Pak johan kembali berusaha mengingatkan.


"Tak ingat, dan tak mau mengingatnya." Mama ana yang begitu keras hati, begitu tak ingin membahas masa lalunya yang pahit.


Lara dari atas, diam-diam mendengar percakapan mereka, dan semakin perih yang Ia rasakan. Ia turun, lalu menyelinap keluar melalui pintu belakang, dan naik mobil Pak johan diam-diam.

__ADS_1


"Baiklah, aku pamit. Aku hanya ingin membuatmu setidaknya ingat sedikit saja. Tapi kenyataan-nya, kamu sudah menganggapnya mati."


Pak johan pergi, Mama ana hanya diam dan fokus dengan tanaman-nya. Air matanya tiba-tiba jatuh tak tertahan, menangis batin, namun tak pernah menyesali apa yang tekah terjadi.


Pak johan kembali berjalan pelan dengan mobilnya, berniat menuju kekantor.


"Astaga... Lara, kapan kamu masuk? Dan... Kenapa menyelinap?" Pak johan terkejut ketika melihat Lara ternyata dibangku belakang.


"kaget?" tanya Lara dengan tersenyum sinis.


"Apa-apaan kamu? Mau menggoda saya? Ingat, kamu istri adam." tegurnya.


"Anda fikir saya mau dengan pria tua yang miskin macam anda ini? Tidak Pak, apalagi anda telah membuang saya dan menempatkan saya kedalam penderitaan ini."


"A-apa maksud kamu?"


"Dua belas tahun lalu, setelah Ayah meninggal. Anda mengambil saya dari rumah, dan membuang saya dengan nenek yang begitu jauh disana. Anda ingat?"


"Kamu?"

__ADS_1


"Ya, saya anak itu. Anak yang telah anda buang dulu. Kenapa, tak menyangka saya masih hidup, bahkan menjadi istri tuanmu?"


__ADS_2