
"Ma... Mama ngga papa?" tanya Lara, yang lari kearah Mama ana.
"Kamu tanya tidak apa-apa? Kamu gila? Saya dibentak suami saya, hanya karena saya memarahi kamu. Kamu siapa? Kamu hanya orang baru dirumah ini. Orang yang dipungut Adam dari jalanan, dan saya asuh dengan baik. Kenapa begini? Kenapa seolah menjadi bumerang bagi hidup saya?" tanya Mama ana, dengan tangis yang begitu perih.
Kata-kata itu begitu menusuk dan menyakitkan bagi Lara. Ia memang sadar diri akan posisinya selama ini. Namun, ketika hal itu dipertegas kembali, Ia merasa begitu sakit, bahkan untuk menangispun tak mampu mengeluarkan air mata.
Namun Lara tetap mengangkat tubuh Mama ana, dan memapahnya kekamar untuk istirahat. Hingga beberapa lama, Mama ana tak henti-hentinya meracau tentang semua rasa kecewa yang baru saja Ia alami.
"Ma... Mama demam?" tanya Lara, yang menempelkan lengan dikening Mama ana.
"Seperti ini, jika Mama mendapat sebuah syok yang berat. Terutama, ketika Mama dibentak seseorang. Akan begitu sakit, hingga demam." jawabnya lemah.
Lara langsung mengompres keningnya, dan memberi obat penurun panas agar Mama ana segera sembuh dari demamnya.
__ADS_1
"Satu lagi, sesuatu yang sama persis dengan ku. Ketika tak bisa menerima sebuah amarah yang langsung bisa membuat ambruk seketika. Masihkah tak mau mengakuiku ada? Kita sama, kita nyaris tak ada beda. Tak sadar, atau memang tak perduli? Tapi nanti, kamu akan tahu semuanya." batin Lara, yang duduk menatap Mama ana yang sedang tidur pulas karena pengaruh obat yang Ia berikan.
Malam tiba, Adam dan Papa farhan sudah menunggu dimeja makan untuk santap malam bersama. Lara turun perlahan, dengan memegangi perutnya yang sudah kian membesar. Karena kasihan, Adampun berdiri menyambutnya, dan menuntun-nya menuju meja makan.
"Mama, mana pa?" tanya Lara.
"Mama masih demam. Begitulah Mamamu tak bisa dibentak atau dimarah. Makanya, kadang meskipun salah, Papa tetap berusaha lembut agar Mama tak syok dan ambruk." jelas Papa farhan, yang mulai menyantap makan malamnya.
Adam mengambilkan nasi untuk Lara, dan membantu memotong bebeapa bagian daging yang Lara sukai, agar lebih mudah untuk dinikmati. Lara harusnya bahagia, Lara harusnya begitu bersyukur. Namun hati kecilnya berbeda.
"Pengen-nya normal. Tapi, lihat besok USGnya gimana. Jadi jelas alasan kalau mau SC."jawab Lara.
" SC, maupun normal sama saja, yang penting bayi kita dan Ibunya sehat." balas Adam, dengan senyumnya mengelus rambut Lara.
__ADS_1
Lara tersenyum getir, bingung kembali melanda dirinya. Ia kembali terfikirkan Ayah dari anaknya itu.
"Sedang apa Dion? Apakah kamu bahagia dengan-nya? Tahukah, jika anakmu ini sebentar lagi akan lahir." batin-nya, kembali bergumam sendiri.
"Mas, kenapa Lara rasa, tempat tidur kita makin sempit?" tanya Lara.
"Mungkin, efek kandungan Lara yang semakin besar, dan Lara mulai susah gerak. Makanya, jadi berasa engap sama semua situasi." jawab Adam, yang begitu lembut dan pengertian.
"Mas, Lara pindah kamar lama, boleh?"
"Loh, kenapa?" tanya Adam.
"Ngga papa, biar lebih lega aja. Kadang rasanya sumpek, gerah, pengen bebas. Takutnya gara-hara kegelisahan Lara, Mas jadi ngga nyaman tidurnya." Lara beralasan.
__ADS_1
"Hmmm, kalau itu menurut Lara buat nyaman, baiklah. Mas akan coba mengerti, tapi Lara juga harus kewajiban ya? Jangan sampai terlena tidur sendiri, jadinya lupa sama agenda sehari-hari."
"Iya, Lara ngga akan lupa. Lara akan bangun sebelum Mas bangun, nyiapin alat kekantor dan lain-lain." jawab Lara, dengan begitu riang gembira.