
Lara melangkah kan kakinya dengan gontai pulang kerumah Adam. Ia malas, hatinya begitu campur aduk rasanya. Ia tak terfikir, jika akan seperti ini. Ia fikir, akan sesuai rencananya. Yaitu, Ia akan melupakan Dion dalam beberapa bulan, dan tak akan pernah mengingatnya lagi. Namun kenyata'anya salah. Semakin Ia berusaha melupakan, semakin dekat bayangan Dion dalam fikiranya.
Bruuugh! Lara nenjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu dengan kasar. Ia mendongakan kepalanya ke langit-langit rumah besar itu, dan menatap kosong padanya.
"Mba Lara kenapa?" tanya Mba dewi, yang menyusul Lara duduk disofa.
"Besok... Dion pulang." jawab Lara, tanpa menoleh.
"Lah, terus? Apa masalahnya? Ini kan rumahnya juga, wajar dong pulang." jawab Mba dewi dengan santai.
"Huuuftzzzz.... Iya, saya lupa. Mba dewi udah makan? Saya harap sudah, karena saya sudah kenyang. Jadi, ngga perlu lagi repot-repot masakin saya." tanya, dan jawab Lara sendiri.
Lara membenarkan posisinya, lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Namun, dipertengahan jalan Ia membalik badan.
" Lara mau tidur dulu, besok mau ke Bandara. Mau jemput Mas adam. Rindu sekali rasanya."ucap Lara tanpa ekspresi. Sedangkan Mba dewi, hanya menatapnya bengong.
__ADS_1
"Dia kenapa? Aneh sekali." gumam Mba dewi, dengan menggelengkan kepalanya.
Braaakkk! Lara membuka dan langsung menutup pintu kamarnya kembali setelah masuk. Ia lalu merebahkan dirinya lagi dikasur yang empuk dan nyaman itu. Lara memejamkan matanya meski begitu sulit, karena hatinya masih bergetar tak karuan.
"Sedih, gundah, kesal, malas.... Semuanya menjadi satu." gerutunya kali ini.
Tak lama kemudian, Lara memejamkan matanya. Ia bermimpi, dimana ketika Ia dan Dion baru saja bertemu dengan semua gagguan dari Dion. Dan itu, membuat Lara begitu gelisah, seolah sedang bermimpi sangat buruk, namun tak mampu membuka matanya. Lara menangis dalam tidurnya.
Ke'esokan harinya, keluarga Adam beserta Dion sudah bersiap untuk pulamg ke Indonesia. Mereka berangkat pagi, agar sampai disana tak terlalu kesiangan.
Dion tak membawa banyak barang untuk pulang, karena beberapa minggu lagi akan kembali untuk mengurus yang lainyaa, sedangkan Adam membawa berbagai oleh-oleh untuk wanita tercintanya itu.
"Iya...." jawab Adam dan Dion serentak.
Papa farahnpun sudah siap dan menunggu mereka didepan dengan Hp ditanganya. Setelah itu, mereka berjalan bersama berangkat ke Bandara dengan taxi yang sudah dipesan.
__ADS_1
"Ngga ada yang ketinggalan, sayang?" tanya Mama ana.
"Engga... Bukan ketinggalan, tapi memang ditinggalkan. Aku tak ingin membawanya pulang." jawab Dion.
"Barang apa? Nanti berharga? Ilang sayang loh." imbuh Mama ana.
"Engga, berharga cuma buat Dion. Tapi tidak bagi yang lai. Cincin lamaranku untuk Lara."
Mama ana hanya mengangguk, dan meraih Hpnya untuk mengambil sebuah foto yang akan Ia upload di instagram. Sedang Adam sedang asyik menceritakan Lara pada Dion, dan Dion sedang berusaha menjadi pendengar yang baik.
Sementara itu dirumah Adam, Lara bangun pagi-pagi. Ia berdandan rapi menunggu jemputan dari Pak johan, yang akan membawanya ke Bandara.
"Lara... Sudah siap?" tanya pak johan.
"Iya," jawab Lara, disertai dengan anggukan.
__ADS_1
Ini kedua kalinya Lara satu mobil bersama orang ini. Orang yang dulu membawa dan membuangnya begitu jauh, lalu mengabaikanya bagai sampah, yang bahkan begitu menjijikan untuk diingat.
Lara mengikuti arahan Pak Johan, menaiki mobilnya lalu berangkat ke Bandara Internasional. Ia mencuri pandang ke Pak johan selama perjalanan, seolah kembali merasa kembali ke masa kecilnya, ketika Ia membawanya pergi jauh.