
"Dewi... Aku ingin kita langsung menikah saja."Dion meminta pada Dewi dengan begitu serius, namun itu justru memebuat Dewi meragukan niatnya.
"Dengan alasan apa, Mas meminta itu semua?" tanya nya, dengan santai.
"Tidak ada, hanya ingin segera bisa memelukmu dengan halal. Aku tak ingin jika sekali lagi, aku sakit hanya karena menunggu terlalu lama."
"Aku hanya sebagai pelampiasanmu... Benar begitu?" Ucapan Dewi begitu membuat Dion menatap tajam kearahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Dion, dengan segala keterkejutan-nya.
"Tidak, anggap saja aku tak tahu, Mas. Lalu bagaimana, undangan sudah ditulis acara pertunangan kita? Itu tak mungkin dihapus." Dewi berusaha tetap tenang, lalu mengalihkan arah pembicaraan mereka ke hal yang lain.
"Biarkan saja seperti itu. Tapi di acara nanti, kita menikah." jawab Dion, dengan menggenggam tangan Dewi lalu menciumnya. Meskipun dalam hati bertanya, apa yang diketahui Dewi tentangnya.
__ADS_1
Malam ini Dion sengaja mengajak Dewi bertemu diluar. Makan malam bersama dengan romantis pun telah ia siapkan untuk calon istrinya itu. Tapi, hatinya merasa hambar, meski kadang Ia begitu menyayangi sosok Dewi dalam hatinya. Itu tak lebih dari perasaan seorang Kakak pada Adiknya karena mereka memang dibesarkan bersama dari kecil.
"Setelah menikah, kita tinggal dimana Mas?" tanya Dewi yang kembali dengan sikap cerianya.
"Di apartemen, Mas ngga nyaman ketika harus tinggal beramai-ramai dirumah Mama. Ngga papa kan? Nati kalau tabungan Mas cukup, Mas akan buatkan rumah impian buat kamu." Dion memberi harapan indah dalam hidup Dewi, yang membuat wanita itu tersanjung bahagia.
Makan malam romantis yang dipersiapkan Dion pun tak sia-sia. hal itu cukup mampu membujuk Dewi untuk menyetujui permintaan-nya, membuat Dion sedikit lega.
Langkah kaki mereka bersama memasuki rumah itu, disambut oleh Mama ana dengan senyum manis, dan Lara dengan wajah datarnya. Lara menatadengan kosong, entah memikirkan apa. Namun Dion yang menjadi titik fokusnya.
"Sayang, udah pulang? Gimana makan malamnya?" tanya Mama ana.
"Enak Ma. Mas Dion khusus menyiapkan sebuah tempat buat Dewi, dengan hiasan lampu dan bunga yang indah." Dewi menjabarkan dengan baik suasana di resto barusan, dan membuat Lara mengerenyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kamu membahagiakan Dewi dengan begitu keras, sedang aku disini megandung anakmu dalam keadaan tersiksa." batin Lara menggerutu dengan semua kekesalan-nya.
Malam ini Adam dan Papa farhan tidak dirumah, mereka keluar kota untuk beberapa hari. Oleh karena itu, perasaan dan jiwa Lara semakin kacau karena lebih banyak waktu menyendiri. Lara lebih sering beradu batin, antara perasaan dan fikiran-nya.
Mereka semua berbincang dengan dengan begitu ceria disana, terutama Mama ana yang semakin bahagia karena keinginan-nya terwujud, yaitu Dewi dan Dion membatalkan pertunangan-nya tapi akan langsung menikah. Perencanaan semakib matang, Mama ana menelpon kembali WO yang sudah dipesan dan menggantinya dengan paket pesta pernikahan mewah.
Hati Lara semakin ketar-ketir dan terasa perih, karena tak sanggup mendnegar semua kebahagiaan itu. Hinga akhirnya, Lara pamit kekamarnya dengan berbagai alasan.
"Lara ngantuk, istirahat duluan ya Ma, Wi." ucapnya, yang dibalas anggukan mereka semua. Kecuali Dion yang asyik dengan Hpnya.
Lara melanglah gontai, menaiki tangga Satu persatu hingga akhirnya tiba dan merebahkan tubuhnya degan kasar.
"Dion, Dion, Dion.... Sekali lagi, kejutan darimu membuat lukaku semakin menganga dan perih. Dendam yang kau janjikan sudah terbalaskan, belumkah cukup?"
__ADS_1