Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Lara dan Adam


__ADS_3

Jantung Lara berdegup kencang, dengan Irama yang tak menentu. Matanya menatap heran, dengan apa yang barusan Ia alami, bengong, dan bingung akan menjawab apa.


"Ra.... Kok bengong. Saya ngajak kamu makan bareng loh." tegur Adam.


"Owh, tapi... Ngga papa disini?" tanya Lara, dengan memandang disekitar ruangan pentry.


"Ngga papa lah, sama kamu 'kan, Biasa aja." ucap adam, lalu duduk disebuah kursi dekat meja makan disana.


Mereka menikmati makan sinah berdua, dengan keakraban yang mulai terjalin hangat. Mereka tak menghiraukan semua orang yang menatap heran pada keduanya, seolah dunia adalah milik mereka berdua.


Setelah makan, Adam pamit kembali keruanganya, dan Lara pun kembali pada aktifitasnya.


"Ra...." panggil Mba asni.


"Iya, kenapa Mba?"


"Kenapa deketin Pak adam? Jadi bahan gunjingan loh kamu." tegurnya.


"Bukan Lara, Mba. Tadi Pak adam sendiri yang datang kemari, tiba-tiba ngajak makan bareng, disini lagi. Lara ngga mau, tapi Beliau maksa." terang lara.


"Bagaimana dengan Dion?"

__ADS_1


"Lah, kenapa ke Dion? Kami baik-baik aja. Kan, Mba dengar sendiri tiap malem telponan."


"Ra, jangan sampai kamu menyakiti salah seorang dari mereka."


"Mba, siapa yang akan tersakiti? Cinta Lara cuma buat Dion,"


"Tapi, Pak adam memandang kamu berbeda."


"Beda gimana, Lara ngga ngerti. Udah ah, Lara mau lanjut kerja." ujar Lara, lalu meninggalkan Asni yang masih diam menatapnya.


Sa'at ini, isi hati Lara hanya dipenuhin oleh Dion. Dion yang merubah kehidupan Lara menjadi lebih berwarna. Dion yang membawa Lara ke kehidupan yang lebih baik seperti sekarang. Meskipun terpisah jauh, hati mereka begitu dekat seolah tak aja yang akan bisa memisahkan mereka berdua.


Dion Pun begitu, Ia begitu menjaga hatinya untuk Lara disana. Meskipun banyak wanita yang memberi rasa padanya, Dion tak pernah sedikitpun berpindah rasa dari Lara. Bahkan, dikamar nya, Dion memajang foto Lara yang dicetak dengan bingkai besar, tepat didepan matanya ketika akan tidur.


Brughh! Lara mendengar suara orang yang jatuh diruangan sebelah, diselingi beberapa benda yang jatuh, yang kemudian menyusul berbunyi riuh.


"Apa itu? Bukanya disebelah ruangan Pak adam?" gumam Lara.


Perasa'an Lara tak enak, dan langsung berlari menuju ruangan sebelah, menemui Adam yang terbaring lemah disana.


"Astaghfirullah, Pak adam. Bapak kenapa?" teriak Lara, lalu memangku kepala Adam dipahanya.

__ADS_1


"Sakit jantung saya, nyeri." ucap adam, dengan nafas tersengal, dan terus memegangi dadanya, lalu pingsan.


"Pak, ya ampun. Kenapa malah pingsan, bahaya ngga ini? Sakit jantungnya kumat."


Lara panik, memanggil pegawai yang lain pun sudah berangsur pulang. Hanya ada beberapa yang datang, namun mereka pun tak tahu harus berbuat apa.


"Panggil dokter.!" teriak Lara.


Seorang berlari, lalu memanggil ambulance. Sedangkan Lara, memberi pertolongan pertama, sesuai dengan apa yang Ia pelajari dulu, sewaktu ingin meraih beasiswa kedokteran.


Beberapa kali Lara melonggarkan pakaia Adam, dan membimbingnya untuk posisi setengah duduk untuk mengatur pernafasan, begitu terus hingga beberapa menit. Hingga Adam menarik nafasnya panjang, lalu menoleh kearah Lara disampingnya.


"Lara..." lirih adam.


"Alhamdulillah, Bapak sadar." ucap Lara, dengan perasa'an lega.


Adam menatap Lara dengan tajam, dan senyumnya yang lebar, Ia ingin membelai pipi Lara, namun terhalang ketika paramedis datang dan menaikanya ke tandu.


Adam dibawa ke Rumah Sakit, bersama Lara disampingnya, karna memang Lara yang mrnemukanya ketika pingsan.


"Terimakasih, kamu menyelamatkan nyawa saya." ucap Adam.

__ADS_1


"Iya, kebetulan saya pernah belajar. Jadi ngerti sedikit." jawab Lara.


Adam memejamkan matanya sejanak, tangannya menggenggam erat tangan Lara, meletakan diatas dadanya seolah enggan melepaskanya sedetikpun.


__ADS_2