
Lara menghidupkan Hpnya, bahkan sudah di set walpaper bergambar cincin lamaran Adam disana, begitu indah dengan berlian bernuansa maroon, dan pastinya mahal, bahkan terlalu mahal bagi Lara.
Seolah tahu jika Hp telah diterima dan dibuka, Adam langsung menelpon Lara. Lara pun yang terkejut langsung mengangkatnya.
"Hallo, Mas?"
"Hey, udah bangun?" sapa Adam.
"Iya, udah. Mas.... Kenapa kirim Hp baru?"
"Katanya Hp Lara rusak karena jatuh, jadi Mas belikan baru. Kenapa, ngga suka? Kalau ngga suka model itu, nanti kita beli lagi, Lara pilih sendiri."
"Eng, engga gitu maksud Lara. Maksudnya, Hp ini tuh mahal banget. Masa Hp aja Tujuh Juta'an, seharga motor Lara. Sayang uangnya,"
"Uang ngga seberapa bagi Mas, yang penting Lara senang. Oh iya, nanti malam, Papa sama Mama mau ngajak ketemu, bisa?" tanya Adam.
__ADS_1
"Hah? Jangan nanti deh. Lara gara-gara sakit, seharian tidur terus, jadi matanya bengkak. Jelek, Mas."
"Oh, iya? Bagi Mas, Lara tetap cantik. Tapi, yasudah. Besok aja, kalau Lara belum siap."
"Iya... Makasih, ya Mas. Lara mau pamit kekampus dulu, bisa pakai kacamata aja nanti kalau kekampus. Nyerahin tugas bentar aja." pamit Lara pada Adam.
"Baiklah, selamat siang Laraku. Jangan lupa makan, biar cepat sembuh, ya." pesan Adam, dengan penuh mesra.
"Iya, Mas...." jawab Lara.
Setelah Adam menutup telepon mereka, Lara langsung bersiap dengan rencananya. Mengganti pakaian dan berangkat kekampus. Dan Ia tak membohongi Adam kali ini.
Lara, seorang gadis yang begitu sederhana yang mampu nembuat fokus hidupku jatuh padanya. Gadis manis dengan rambut panjang, mengingatkanku pada Mama yang telah tiada. Senyumnya, matanya, semuanya. Aku bahkan tak ingin terlalu melihat masa lalunya yang begitu sulit, aku hanya ingin membuat masa depanya lebih indah denganku, serta membahagiakanya bersamaku.
"Adam, bagaimana? Lara mau bertemu nanti malam?" tanya ayah Papa.
__ADS_1
"Hmmm, tunda dulu, Pa. Lara demam, seharian istirahat matanya bengkak, ngga Pd ketemu Mama katanya."
"Owh, iya... Apalagi, Mama mu itu perfectionist orangnya. Besok saja, agar Lara terlihat sempurna."
"Lara memang begitu sempurna dimata Adam, Pa." puji ku.
"Iya, Lah.... Papa tahu betul bagaimana perasa'an orang yang sedang jatuh cinta. Bagaimana dengan keluaraga? Meskipun Ia yatim piatu, setidaknya ada keluarga lah. Paman, Bibi atau siapa gitu." tanya Papa lagi.
"Ngga ada, bahkan neneknya sudah meninggal. Lara selama ini numpang dirumah makan, tidur disana, makan disana, dengan bekerja sebagai pencuci piring. Dikampung halamanya, dan di opor kesini karena beasiswa SMA, dan tinggal diRumah Makan lain, tak jauh dari sini. Itu, yang adam tahu. "
"Kamu tahu banyak, dapat info darimana, apa memang sudah dekat lama?"
"Diam-diam, Adam mencari tahu. Adam bahkan menyewa seorang detektif, tanpa sepengetahuan kalian. Tahu sendiri, Adam ini pemalu. Untuk mendekati Lara saja, Adam canggung." jawabku, sedikit malu-malu.
Percakapan kami menjalar hingga kearah pernikahan. Papa memang orang yang ramah. Beliau tak terlalu melihat orang dari kasta, dan statusnya sebagai apa. Asal benar-benar baik, pekerja keras, maka Beliau akan menerimanya. Begitupun ketika Beliau menikahi Mama dulu. Terlebih lagi, ketika mendengar semua hasil penyelidikanku tentang Lara, simpatinya semakin besar, dan semakin mendukungku untuk menikahinya.
__ADS_1
Dengan semua percakapan, dan persetujuan dari Papa. Aku semakin yakin, dan seakan ingin mempercepat rencana pernikahanku denganya.
"Sabar, Adam. Tunggu Dion wisuda, agar Ia bisa datang dan menyaksikan pernikahanku dan Lara. Pasti Dia akan begitu bahagia, dan Dion pun akan membawa kekasihnya kepernikahan kami nanti." harap Adam.