
Deggg! Batin Lara kembali tegang ketika mendengar ucapan Dion. Tapi tak tahu harus apalagi semua sudah terjadi. Hanya tinggal beberapa langkah lagi, asal tak ada yang berusaha menghalangi.
"Ketika aku sudah masuk, maka aku dengan leluasa bisa menyelidiki Mama dan Pak johan." gumam Lara dari dalam dapur.
Lara mengalihkan semua perhatianya dari Dion dengan membereskan semua sudut ruangan rumah itu hingga lelah. Dari depan, kebelakang, bahkan keruangan yang tak pernah terpakai seperti gudang dan lainya.
"Lara kok beresin gudang?" tanya Mama ana.
"Ngga apa, Ma. Pengen beresin aja. Nanti waktu pesta kan semua bersih," tukas Lara.
"Udah, ngga usah. Ini udah malam, kalian istirahat aja. Besok masih banyak jadwal kalian." ucap Mama ana.
"Yaudah, Lara tidur." jawabnya, lalu perlahan pergi dari gudang itu.
Lara berjalan malas, dengan sesekali mengeretukan pinggangnya. Melewati kamar Dion, Ia mencium parfum khas itu lagi, dan sesekali. Mendengar Dion bernyanyi dengan memetik gitarnya. Alunan nada yang begitu indah, dipadu dengan suara Dion yang tak kalah merdu. Dan lagi, itu adalah lagu kesuka'an mereka ketika SMA, dan sering dinyanyikan dikontrakan Lara, dulu.
Lara terlarut dalam irama itu, hingga berlama-lama berdiri didepan pintu kamar Dion, dan tiba-tiba Dion keluar.
__ADS_1
"Ngapain disini? Ngintip?" tegur Dion.
"Eh, Ma'af... Cuma dengerin kamu nyanyi tadi. Suaramu masib bagus, petikan gitarnya juga. Lagu itu....."
"Itu lagu kesuka'anku. Jangan dihubung-hubungkan dengan kita." ucap Dion, dengan nada datarnya.
"Dion... Ma'af." ucap Lara.
"Ma'af...? Aku akan mema'afkan mu kalau kamu pergi dari kehidupan Kak adam. Jujur, aku tak pernah bisa iklas jika kamu bersamanya. Aku akan jadi orang yang paling mengawasimu, Ra." ancam Dion.
Dion lalu meninggalkan Lara yang dalam keada'an diam, lalu turunĀ kebawah dengan bernyanyi, seolah tak terjadi apa-apa dengan mereka barusan.
"Jahat kamu Dion....!" gerutu Lara.
Ia menangis batin hingga lelah, lalu membalikkan tubuhnya menatap langit-langit kamar itu.
"Hhhh.... Apa yang kamu katakan Lara? Itu kan semua salahmu. Kenapa malah kamu yang membencinya. Dasar bodoh.... Tidurlah saja, besok masih banyak persiapanmu menuju pernikahan. Kamu harus bahagia Lara, Harus...!" gumamnya sendiri, lalu perlahan memejamkan matanya.
__ADS_1
Disisi lain, Dion duduk diteras belakang. Ia membayangkan ekspresi Lara ketika mendengar perkata'anya tadi.
" Kenapa, Ra? Takut dengan amcamanku? Tidak mungkin bukan. Seorang Lara yang selalu mampu meraih tujuanya dengan segala kerja keras dan kegigihanya, sekarang mencari jalan pintas setelah menghianatiku. Tak tahu terimakasih, untung saja, Mama membelanya dan menganggapnya calon menantu kesayangan. Kalau tidak... Akan semakin mudah menyingkirkanmu. Apalagi Kak adam yang cinta mati padamu. Nikmati saja posisimu sekarang, hingga tiba sa'atnya aku membuktikan janjiku padamu. "gumamnya, seraya menghisap rokok pavoritnya.
"Mas Dion kenapa disini?" tanya Dewi.
"Eh, Wi... Lagi ngerokok aja, kan didalem ngga boleh ngerokok sama Mama. Dewi darimana?" tanya Dion.
"Dewi dari rumah temen, lagi sibuk ngerjain skripsi. Ternyata susah ya, pusing dibuatnya."
"Wah... Udah mau lulus Wi? Langsung jadi sekretarisku ajalah kalau gitu. Jadi ngga usah repot ngelamar kemana-mana." tawar Dion.
"Tapi Dewi belum lulus, masa udah kerja."
"Ya ngga apa lah, Mas adam bilang kamu udah bagus waktu magang. Aku males cari-cari yang lain. Kalau sama Kamu kan, udah kenal, pasti cocok. Nanti kita bisa nyambi ngerjain skripsimu, aku bantuin. Gimana?"
"Serius, Mas? Bolehlah. Tapi... Tanya Ibu dulu."
__ADS_1
"Yaudah, ditunggu jawabanya besok." ujar Dion, dengan mengisap puntung terakhirnya. Lalu pamit kembali kekamar untuk istirahat.