
Pov Dion.
Bruuumm, Brummm...!
Kuparkirkan motor Sport hitamku digarasi yang penuh dengah koleksi mobil mewah milik Ayahku.
Aku bukan anak terbuang, tapi aku hanya merasa disisihkan dalam keluarga ini. Hanya karna Kakakku yang menderita sakit jantung.
"Dion, darimana saja kamu, jam segini baru pulang? Ngelayap lagi, tawuran lagi?" tegur Mama ku ketika aku masuk kerumah.
"Dion baru masuk, capek. Nanti aja debatnya." jawabku tanpa ekspresi.
"Ngga sopan kamu lama-lama, kayak anak ngga ada pendidikan. Makanya sekolah yang bener, kayak Kak Adam....."
"Ya, ya.... Kak adam yang paling baik, paling pinter, paling hebat. Semuanya Kak adam. Dion memang ngga punya tempat disini. Owh... Ataukah, Dion harus bergaya seperti Kak adam, agar Mama menjadi lembut pada Dion?" tanyaku padanya, dengan menyunggingkan senyum kekesalanku.
"Dion...! Kenapa begitu sama Mama?" tegur Kak adam, yang datang dari belakang.
"Ngga ada, cuma bersenda gurau sama Mama aja. Kan, Dion jarang ketemu Mama. Kakak sehat? Sehatlah sepertinya, kan diperhati'in terus." ucapku padanya, lalu naik kekamar.
Itu Mamaku, mama tiri yang membesarkanku dari kecil. Beliau adalah perawat Ibuku dulu, Ibu yang memiliki penyakit jantung, sama dengan Kak adam. Kadang aku bertanya-tanya, apakah Ia merawat Ibuku dengan benar, sebelum Ia meninggal.
__ADS_1
"Lihatlah Dia, lihat kelakuanya sama Mama. Bagaimana bisa seperti itu. Sangat berbeda denganmu Adam."
"Ma, sudahlah. Dia itu masih labil diusianya yang sekarang. Dia belum bisa membedakan baik dan buruk."
"Andai saja dia bisa bersikap dewasa sepertimu, jadi Mama tak terlalu sulit mengaturnya."
Itu yang selalu kudengar setelah perdebatan yang kami alami. Kak adam selalu berusaha menjadi penengah, namun akhirnya justru menjadikan kami bahan perbandingan. Dan aku, tetap menjadi yang terburuk dimata keluarga ini.
"Aaarghh, menyebalkan. Kapan aku bisa lulus, dan segera pergi dari rumah ini. Kenapa SMA begitu lama?" gerutuku dalam kamar.
Aku terlelap sebentar, tak ada selera makan meski Kak adam merayuku untuk segera makan, bahkan membawakan makan siangku kekamar.
"Makanlah, nanti kamu sakit. Repot semuanya, apalagi sebentar lagi ujian, kan?" bujuknya.
"Ngga usah ngawur, Gue yang sakit kesana kemari biar sembuh, Loe yamg sehat malah pengen sakit." omelnya dengan menjitak dahiku.
"Weh... Sakitlah, ngga usah pake jitak."
"Kayak mana ngga ngejitak, Loe dibilangin ngelawan mulu." balas Kak adam padaku.
"Berantem lah, ayok berantem. Baku hantam aja sekalian. Gila gue lama-lama."
__ADS_1
"Mau gue tonyor lagi? Ngga usah ngajak berantem, giliran kena jotos, Loe yang kabur."
"Iya kabur, Loe yang cari gara-gara, gue yang dimarahin."
Begitulah kami, akur dalam pertengkaran. Karna setelah kami saling melempar ejekan dan pukulan, kami akan tertidur bersama bagai bayi kecil dengan manisnya.
"Kak..?"
"Hmmm?"
"Tadi... Gue ketemu cewek aneh. Kayak loe gitu, suka ngeledek gue, semua kata-kata gue disanggah mulu. Ngeselin."
"Kenapa? Loe suka dia?"
"Ngga tahu, bagi gue, dia aneh, tapi buat penasaran."
"Siapa namanya?"
"Lara, tapi ngga tahu Lara siapa?" jawabku, sambil senyum-senyum mengkhayalkanya.
"Cieeeee.... Jatuh cinta. Tapi awas, jangan nyalip Kakak pelangkahnya gede." ujarnya padaku.
__ADS_1
Aku hanya tertawa terbahak-bahak, membayangkan wajahnya yang tanpa senyum padaku. Wajah datar tanpa ekspresi, namun mampu mengganggu pandanganku.