Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Mencintai wanita yang sama


__ADS_3

Setelah kejadian yang Ia alami tentang Nyonya Ana. Lara menjadi semakin gencar mencari tahu semua info tentangnya, termasuk tentang Pak johan. Ia hanya ingin menanyakan kembali, dimana Ia memakamkan Orang tuanya. Dan apa alasan sebenarnya Pak johan mau membuangnya.


Sudah setahun Lara mencari tahu, namun tak kunjung mencari titik terang. Mereka terlalu sulit untuk didekati, apalagi kondisi Lara yang belum bisa sepenuhnya membagi waktunya, antara kerja, dan kuliah.


Namun ada hal positif dari semua ini, yaitu hubungan Lara dan adam yang semakin akrab dan semakin intim. Adam semakin gencar mendekati Lara, meskipun Lara tak terlalu menghiraukan rasa itu, karna hati Lara hanya milik Dion sa'at ini, dan hubungan Lara dan Adam, hanya Ia anggap sebagai hubungan karyawan dan atasan saja, meskipun Lara juga begitu nyaman berada didekat Adam.


Setiap makan siang, Adam yang selaly menghampiri Lara untuk makan bersama, dan Lara tak pernah bisa menolaknya. Karena semua yang terjalin, tak ayal mereka menjadi bahan perbincangan seluruh karyawan kantor, namun mereka tak ambil pusing dengan itu semua.


🥀


"Adam... Mama mendengar suatu yang tak mengenakan dikantor." ucap Nyonya ana. Ketika makan malam dirumah mereka.


"Apa itu?" tanya Adam.


"Hubungan kamu, dengan Lara."


"Lantas, ada apa dengan hubungan kami?" tanya Dion.


"Siapa Lara?" tanya Tuan Farhan.

__ADS_1


"Dia bekerja sebagai OB dikantor kita, Pa. Dia anak yang rajin, kerja pun sambil kuliah, dan beasiswa daru perusaha'an kita." jawab Adam.


"Wah, hebat, berarti dia anak yang pandai. Apa hubunganya dengan kamu, kamu menyukainya?" tanya Tuan farhan.


"Pa... Kenapa harus dipertegas?" tegur Nyonya Ana.


"Papa hanya bertanya. Lagipula, bagus jika Adam mulai jatuh cinta. Usianya juga sudah matang, pas untuk menikah."


"Tapi bukan Dia yang pantas buat Adam kita." balas Nyonya ana, dengan kesal.


"Apakah, Papa setuju jika Adam bersamanya?" tanya Adam, melirik Sang papa.


Nyonya ana hanya mendelik kesal, seolah ingin menegur, namun tak tahu akan bicara apalagi. Mengenai status pekerja'an Lara yang menurutnya tak pantas untuk Adam pun tak bisa Ia sanggah, karena dulu Ia pun dengan posisi yang sama dengan Lara, hingga bisa meraih hati Suaminya.


"Ma.... Gimana menurut Mama?" Sambung Adam.


"Bagaimana keluarganya?"


"Lara... Yatim piatu, tanpa saudara." jawabnya lagi.

__ADS_1


"Sebatang kara... Baiklah, kalau memang Adam begitu ingin denganya, Mama tak akan melarang. Lanjutkan, dan segera perjuangkan cinta Adam." dukung Sang mama. Meskipun tak tahu, dukungan itu benar-benar tulus, atau hanya Gimic semata untuk membuat Adam semakin simpatis padanya.


Karena pembicara'an itu, Adam semakin bersemangat memeperjuangkan cinta Lara, bahkan sudah berniat untuk langsung melamar Lara secepatnya.


Adam menelpon Dion, dan menceritakan semuanya, namun tak menyebutkan nama Lara dalam percakapan itu.


"Wah... Sukses Kak, semoga langsung diterima. Kalau loe cepet nikah, gue abis wisuda juga bisa langsung nikah sama cewek gue." ucap Dion dengan antusias.


"Cewek loe siapa? Bule?" tanya Adam.


"Bukanlah, gue ngga doyan bule. Temen sekolah gue dulu, kita udah LDRan hampir Tiga tahun ini. Rencananya, pulang mau gue lamar langsung." ucap Dion.


"Oke, gue dulu nikah. Abis itu, loe nyusul. Do'ain gue, secepetnya bisa ngumpulin keberanian lamar Dia besok. Karna jujur, Dia wanita tangguh, yang agak sulit ditaklukin. Dia itu, bukan wanita sembarangan, yang cuma lihat gue dari status, dan harta gue. Dia bener-bener tulus." puji Adam.


Obrolan berlanjut semakin seru antara mereka, hingga malam tiba, mereka saling menutup telpon.


🥀🥀


"Ra.... Satu langkah lagi, setelah Kak Adam menikah, aku alan langsung lamar kamu. Dan kita menyusul." ucap Dion, dengan memandang foto Lara didinding kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2