Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Kejelasan yang semakin jelas.


__ADS_3

"Tidak... Saya bersyukur kamu masih hidup. Karena itulah yang saya inginkan."


"Bohong... Lalu kenapa anda membuang saya jauh. Bukanya membawa saya pada Ibu?"


"Kamu tahu dia Ibumu?" Pak johan kembali terkejut.


"Ya.... Karena itulah saya menerima lamaran Mas adam, dan meninggalkan Dion. Karena ingin membalaskan dendam saya dengan dia. Tapi justru saya semakin terjebak dengan keadaan."


"Aku tidak membuangmu." ucap Pak johan, yang meliriknta dibelakang.


"Apa? Bohong. Jelas-jelas kamu membuangku."


"Tidak... Aku menyelamatkanmu. Menyelamatkan dari wanita gila  yang begitu ingin kamu mati, dan hilang dari hidupnya." pak johan menghentikan mobilnya, lalu mulai mengungkap sesuatu.

__ADS_1


"Ketika kecelakaan itu, Aku lah yang mengurus Ayahmu, dan memakamkan-nya. Di detik terakhir kematian-nya, Ia memintaku membawamu pergi dari rumah, dan membawamu sejauh mungkin dari Ana. Kamu tahu, ana begitu membencimu karena menganggapmu sebagai sumber malapetaka untuknya. Kesengsaraan, dan semua penderitaan yang Ia alami."


"Kenapa... Seperti itu? Aku anaknya!" teriak Lara, yang semakin menangisi kenyataan.


"Lara... Kamu anak diluar nikah dari Ayah dan Ibumu. Setelah menikah, mereka hidup miskin, Ibumu harus tetap bekerja keras meski sedang hamil, karena kebutuhan kalian tak juga tercukupi, meski sudah bekerja hingga rambut mereka rontok. Ia benci ketika kamu lahir dan membuatnya semakin lemah. Maka dari itu, namamu adalah Lara. Sumber dari semua kesakitan yang Ia rasakan."


Lara bersandar lemas dengan semua pengakuan itu. Ini kenyataan yang harus Ia terima, bahkan lebih pahit dari semua yang Ia ketahui. Ia semakin sakit, bahkan semakin membenci Ana dengah semua tingkahnya. Meradang hingga keotak terkecil, dan ke ulu hati. Hingga Ia tak bisa merasakan yang lebih pedih dari ini.


"Dimana makam ayahku, Dimana?" tangisnya pecah dalam keheningan itu.


"Bawa aku kesana." pinta Lara, dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Pak johan kembali menghidupkan mesin mobilnya, dan membawa Lara ketempat yang Ia minta.

__ADS_1


"Apa yang akan kamu lakukan padanya?" pak johan kembali memberi pertanyaan pada Lara yang mulai tenang.


"Awalnya, aku hanya ingin kata Maaf keluar dari mulutnya yang dengan tega mengabaikanku. Tapi sekarang, kata maaf pun seolah tak pantas untuknya. Mereka harus tahu siapa dia sebenarnya." Lara menahan emosi yang mulai memuncak.


"Dia sudah terlalu dikenal baik oleh semua orang sulit bagimu menjatuhkan-nya. Itu bisa membahayakan dirimu sendiri." tegur Pak johan.


"Matipun aku siap, setidaknya dalam kedaan puas."


Pak johan hanya bisa diam, menggelengkan kepala terhadap ambisi wanita itu. Lara belum tahu seberapa kuat Ana, yang berpengaruh dalam kehidupan keluarga barunya itu.


Mama ana yang baik, Mama ana yang anggun dan tegas berhati malaikat. Itu yang diketahui orang banyak, yang membuat Mama ana disanjung dimanapun kakinya berpijak.


Pak johan memghentikan mobilnya disebuah pemakaman umum. Tempatnya lebih rapi dan lebih terawat dibandingkan yang dahulu Ia hampiri.

__ADS_1


Pak johan menunjukkan makam Ayah Lara, dengan Makam sang bunda disebelahnya. Begitu bersih dan indah, membuat Lara kembali menangis dan bersimpuh dipusara itu.


"Kalian dipindahkan, tapi Lara ngga tahu. Maaf, maafkan Lara. Lara oergi terlalu jauh dari kalian, sehingga Lara tak pernah sekalipun kemari. Lara bahkan kesulitan mencari hidup untuk Lara sendiri. Benar-benar sendiri disana, berjuang tanpa teman dan sanak saudara. Lara sakit, Lara lelah, bahkan Lara ingin tidur lelap bersama kalian yang sudah tenang disini. Lara rindu....."


__ADS_2