Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Perlakuan Dion


__ADS_3

Pagi datang, Lara bangun dengan segera untuk membantu Mama ana menyiapkan sarapan dibawah. Tapi, ternyata Mama ana sudah bersama Dewi. Muncul sedikit rasa cemburu dihati Lara, mengenani Dewi yang akan dijodohkan dengan Dion nantinya, tapi Lara berusaha bersikap  biasa saja sa'at ini.


"Selamat pagi...." sapa Lara pada mereka.


"Eh, pagi sayang. Baru bangun? Mama juga telat ini, tau-tau Dewi udah masak." jawab Mama ana.


"Wah, Mba Dewi sigap sekali, ada sesuatu kah?" tanya Lara.


"Ah, engga... Cuma mau nambah waktu buat ngobrol sama Ibu aja. Mengenai... Mas Dion, Dia nawarin pekerja'an sekretaris buat Dewi. Kira-kira boleh ngga?" tanya Dewi.


Lara melotot mendengar pernyata'an itu, sedangkan Mama ana tersenyum bahagia. Bak gayung bersambut, rencananya dan adam ternyata menjadi kenyata'am tanpa Ia harus membujuk Dion dan Dewi.


"Ibu sangat setuju. Ngga papa, Dewi mulai kekantor aja." jawab Mama ana.


"Iya... Kata, Mas Dion, nanti sekalian bisa bantuin ngerjain skripsi sambil kerja." jawab Dewi, yang membuat Mama ana semakin bahagia.


"Ya, bagus itu. Jangan meragukan Dion, kamu tahu sendiri jika di Singapur, dia lulusan terbaik. Jadi percaya aja." ujar Mama ana meyakinkan.


Lara hanya terdiam terpaku, tatapanya kosong. Andai bisa, Ia ingin menyela, tapi itu tak mungkin sekarang. Mama ana akan semakin. Mencurigai perasa'anya dengan Dion.


"Lara... Siapin ini dimeja ya, Ma?" ucap Lara, dengan membawa mangkuk berisi sop.

__ADS_1


Lara membawanya dengan fokus yang terbagi. Hingga nyaris menabrak Dion yang tepat dihadapanya.


"Woy... Lihat-lihat kalau jalan!" tegur Dion.


"Owh... Ma'af." ucap Lara, lalu berjalan cepat menuju meja makan dan meletakan sop itu lagi dengan terburu-buru, hingga kuah panasnya mengenai tangan.


"Aargh... Panas." lirihnya, sambil mengibas tangan.


Adam datang dengan berlari ketika melihat kejadian itu, lalu meraih tangan Lara dan meniupnya.


"Lara, kenapa buru-buru?" tanya Adam.


"Tadi Lara hampir nabrak Dion, bajunya takut basah, jadi Lara buru-buru mau ngelap. Malah tangan Lara yamg kena panas."


"Namanya juga kaget. Lagian Dia ngapain bawa gituan sambil ngelamun? Kalau gue ngga negur, malah makin bahaya." balas Dion.


"Dion... Dikasih tau malah!" teriak Adam, dengan bergerak menghampiri Dion.


"Mas.. Udah, Lara ngga papa. Panas dikit kok." lerai Lara.


"Ada apa ini?" tanya Papa farhan, yang baru turun dari tangga.

__ADS_1


"Ngga apa, Pa... Ayo sini sarapan. Mama udah siapin makanan kesuka'an Papa. Dibantu Dewi dan Lara." ucap Mama ana, mencairkan. Keada'an.


Papa farhan mengangguk, lalu duduk dikursinya. Lara mengambil sikap normal untuk melayani mereka dan mengisi nasi dipiring masing-masing, meski sesekali menahan nyeri ditangan kananya.


"Sayang, masih sakit?" tanya Adam.


"Iya... Perih." jawab Lara.


Adam menarik tangan Lara dan meletakanya dibawah. Lalu Adam berbalik menyuapi Lara dengan penuh kelembutan.


"Kok malah nyuapin Lara, Mas ngga makan?" tanya Lara.


"Gampang... Nanti Mas nyusul, Lara aja duluan sampai kenyang." tukas Adam.


Kemesra'an mereka berlanjut hingga makanan Lara habis. Tak perduli jika semua orang memandangi mereka dengan senyum-senyum gemas. Dunia seolah milik mereka berdua dan tak ada yang bisa melerainya.


Tapi Dion berbeda. Ia memandang mereka dengan begitu bencinya, semakin Ia berusaha acuh, pandangan dan hatinya semakin akan terganggu hingga Ia membanting garpu dan sendoknya dipiring.


PYAAAARRR! Suara itu mengagetkan. Semuanya.


"Pemandangan macam apa ini... Bikin mood makan hilang." gerutu Dion, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka semua tanpa berpamitan.

__ADS_1


"Dion... Dion mau kemana sayang sarapanya belum selesai." panggil Mama ana, yang lalu ingin menyusulnya. Namun, dicegah oleh Papa farhan.


"Ngga usah dikejar. Biar saja Dia dengan tingkahnya."


__ADS_2