Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Bahagia dalam kebohongan


__ADS_3

Adam menerima amplop itu, perlahan dengan penuh tanya Ia membukanya. Dengan tangan gemetar, lalu menatap Lara dengan penuh haru bahagia.


"Lara hamil?" Adam mendekati Lara, lalu mengelus perut yang masih rata itu.


"Iya, Lara hamil. Penantian dan usaha kita sudah dijawab yang kuasa, Mas. Mas bahagia?" Lara menggenggam tangan Adam yang berada diatas perutnya.


Tangis Adam tak tertahan, air matanya mengalir deras mbasahi pipi, lalu bersujud dilantai.


"Sebahagia itu kamu Mas? Bagaimana jika kamu tahu, jika ini anak Dion?" batin Lara, menatap Adam yang begitu bahagia mendengar kabar ini.


"Lara hamil?" Mama ana menyahut dari belakang dan tak kalah bahagianya dengan yang lain.


Mama ana salah satu orang yang paling menunggu moment itu, begitu juga Papa farhan. Sayangnya beliau masih dikantor.


"Papa harus tahu." Mama ana langsung meraih Hp, dan menelpon suaminya untuk memberi tahu kabar yang membahagiakan itu. Namun, Mama ana kembali mendapat surprize oleh Papa farhan.


"Dion ngelamar Dewi dikantor?"

__ADS_1


Deg....! Lara terbelalak dengan ucapan Mama ana itu. Lalu melihat kearahnya yang bertambah bahagia.


"Dion membuktikan kata-katanya dengan cepat. Tidak perlukah memikirkan nya lagi? Sebegitu cepatkah kamu melupakan berita barusan?" batin Lara kembali bergejolak.


"Mama dapat Dua kabar bahagia hari ini. Rasanya, Mama pengen ngadain syukuran saat ini juga karena bahagianya." Mama ana mendekati mereka kembali, memberitahu perasaanya.


"Kenapa Ma?" tanya Adam, penasaran.


"Dion melamar Dewi barusan. Keinginan Mama dan kita semua bersambut. Tanpa harus bersusah payah membujuk Dion." jawab Mama ana.


"Baguslah... Bagaimana kalau kita adakan syukuran?" tanya Adam pada Lara.


"Iya Adam... Lagian, takutnya malahan Lara kecapean gara-gara bolak-balik, malah kenapa-napa nanti."


"Owh, iya baiklah. Kesenangan ini setidaknya Papa sama Dion harus tahu. Mas kekantor dulu." pamit Adam, lalu mencium janin diperut Lara.


Lara mencium tangan Adam, lalu mengantarkan nya keluar menuju mobil.

__ADS_1


"Hati-hati ya, Mas."


"Lara yang harus hati-hati, terutama sama bayi kita. Harus jaga diri, jaga makan, jaga fikiran supaya ngga stres. Apa maunya ngomong aja, nanti Mas cariin, Mama juga pasti buatin kalau mama bisa." Adam mengusap rambut Lara dengan lembut.


"Iya," jawab Lara singkat, lalu melepaskan Adam pergi.


Lara berjalan pelan kembali kekamarnya, namun Mama ana mencegah. "Lara kemana? Ngga makan dulu, udah siang loh." tawarnya.


"Mau istirahat, Ma. Lara lemes, rasanya pusing. Nanti kalau Lara lapar, Lara cari sendiri ya."


"Iya, kalau males lagi, panggil aja Mama." ujar Mama ana yang begitu perduli pada kesehatan Lara dan bayinya.


Tiba dikamar, Lara menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ia mengusap perutnya, dan sesekali menepuknya dengan kasar.


"Apalagi ini, kenapa sekarang seolah menjadi bumerang bagiku. Fokusku harus kembali terbagi hanya karna kehadiranmu. Kamu datang disaat yang kurang tepat." gerutunya. Karena seperti itulah Lara, selalu menggerutu ketika sedang sendirian dikamarnya.


Ia memejamkan mata lalu memijat keningnya dengan kasar. Fikiranya kembali semrawut dengan semua keadaan yang menimpanya. Terlebih lagi, ketika Dion serius dengan ucapan-nya untuk menikahi Dewi.

__ADS_1


"Dion...  Seriuskah kamu dengan niatmu. Apakah kamu mencintai Dewi? Atau hanya pelampiasan untuk menghindariku?" Lara tersenyum sendiri, bertanya sendiri, dan menjawab sendiri semuanya.


__ADS_2