Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Dion pulang 2


__ADS_3

Lara bolak balik mencuri pandang pada Pak johan. Pria yang sebenarnya belum terlalu Tua itu, masih menyimpan sejuta tanya dalam hati Lara. Lara ingin segera bertanya, tapi perasa'an Lara masih takut ketika berhadapan dengannya. Lara takut, jika sesuatu yang lebih buruk akan terjadi padanya.


"Kenapa kamu lihatin saya?" tanya Pak johan, dengan tatapan fokus kedepan..


"Eng, Engga.... Bapak ganteng. Bapak umur berapa?" tanya Lara, mengalihkan perhatian.


"Kenapa nanyain umur? Ingat... Kamu milik Adam sekarang." jawab Pak johan.


"Saya sadar, saya milik Mas adam. Lagian, saya juga ngga mungkin naksir Bapak. Gantengan juga Mas adam, kaya lagi." jawab Lara.


"Dasar anak kecil. Yang dicari enaknya aja." ujar Pak johan.


Mereka kembali berdiam, Lara pun tak berani menegur lagi setelah itu, hingga mereka tiba di Bandara.


"Ini, bawa...." ucap Pak johan, memberika papan nama pada Lara.

__ADS_1


"Buat apa? Lara faham sama mereka. Ngga mungkin salah. Lagian, Mas adam kalau udah kerasa Lara disinu, pasti tau. Mas adam kan, BUCIN sama Lara." ucap Lara, menyanjung dirinya sendiri.


Pak johan hanya menggeleng heran dengan kelakuan bocah yang ada dihadapanya itu, lalu mempersilahkan Lara maju duluan, untuk menunjukan apa yang dinamakan BUCIN.


Lara berlari menuju bagian kedatangan dari Luar Negeri, dan dengan antusias Lara menunggu mereka dengan jantung yang berdegup dengan kencang.


Suara pesawat turun, Lara yang merasakan degupan jantungnya semakin kencang, pertanda Cinta nya sudah datang dan semakin mendekat denganya. Lara menikmati degupan demi degupan itu, dan sesekali membuka mata untuk menatap, apakah Adam, atau Dion yang ada dihadapanya.


"Lara,!!!" teriak seorang Pria dengan melambaikan tanganya, dan itu adalah Adam.


Lara mendelik, tak nampak sosok Dion disana, diantara Papa farhan dan Mama ana. Lara seketika berlari kencang, memeluk Adam hingga bergantung ditubuh yang tinggi dan tegap itu. Kini Adam terlihat seperti sedang menggendong Lara, lalu membawa Lara menyingkir dari keramaian.


"Kangen..." bisiknya.


"Iya, tau... Tapi kalau gini malu sama Mama Papa."

__ADS_1


"Mama Papa faham kok, mereka kan pernah muda." ujar Lara.


"Mama dan Papa faham, sayang. Tapi tidak dengan yang lain. Udah, lepas dulu, dan bawa ini. Ini oleh-oleh buag kamu dari Adam dan Mama." ujar Mama ana, dengan memberikan sebuah handie bag.


Lara turun dari gendongan Adam, lalu menerima dan membuka handie bag itu, lalu menilik isi didalam dengan gembiranya.


"Makasih, Lara dengan senang hati menerimanya." ucap Lara.


Sebuah jam tangan yang terlihat mahal dan mewah dibuka oleh Lara. Ia begitu bahagia, sampai ingin langsung mencobanya. Tapi, gerakanya terhenti ketika mendengar langkah kaki yang langsung menggetarkan hatinya.


Tap.... Tap.... Tap....!


Seorang pria bertubuh jangkung, dengan tinggi Seratus Delapan Puluh Centimeter itu menghampiri mereka. Seorang Pria, yang sedang sekuat tenaga Lara lupakan, sekarang justru ada didepan matanya. Tatapanya yang tajam dengan alis tebal, bibirnya  yang tipis namun sexy, ranbut yang tertata rapi dengan poni tipis membuatnya semakin mempesona. Terlebih lagi, dengan kemeja Abu-abu polos, dan jeans hitamnya. Benar-benar kesuka'an Lara.


"Hay... Apa kabar? Saya, Dion." ucapnya, dengan memberi salam,memberi jabatan tangan, dan mengedipkan satu matanya. Itulah ciri khas Dion yang sedari dulu tak pernah berubah, dan tak pernah terlupakan oleh Lara.

__ADS_1


Lara membalas jabat tangan Dion, dan menjawab senyumnya. Namun, kali ini mereka pura-pura untuk tak mengenali diri masing-masing.


"Saya... Lara." ucapnya.


__ADS_2