Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Fokus


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba, ini adalah hari pertama ujian akhir sekolah menengah mereka. Bersama, Lara dan Dion berjalan memasuki ruangan kelas yang berbeda.


"Dion...."


"Ya, Ra?"


"Mulai sekarang. Kita fokus dulu dengan ujian masing-masing. Manfa'atkan yang telah dipelajari, jangan pernah bertemu lagi, hingga kelulusan tiba." ucap Lara.


"Tapi, Ra...." ucapan Dion terpotong dengan janji pada Sang Mama. Ia tak mau, jika Lara mengetahui,


"Tapi, Ra? Ngga bisa gitu."


"Bisa, harus bisa. Kita harus sama-sama fokus. Aku dengan beasiswaku, dan kamu, dengan kebangga'an orang tuamu. Kita punya tujuan kita masing-masing, setelah semuanya dapat, baru kita bertemu. Siap?"


"Okelah, aku siap." jawab Dion, mengengkan rahangnnya.


Mereka berpisah, tapi untuk sementara. Dion berusaha menahan gelisahnya demi Lara. Karna jika Ia gagal, maka Lara pun tak akan mendapatkan apapun.


Hari demi hari, mereka tak bertemu. Lara pun selalu menghindar meskipun perih dihatinya. Namun, ketika Ia ingin melambaikan tanganya pada Dion, Ia teringat akan perjuanganya selama ini, hingga akhirnya, Ia berlalu.


Hari ini, setelah mereka semua berjuang dengan tujuanya. Tiba lah sa'at nya pengumuman kelulusan.


Dion begitu bahagia, apa yang ditargetkan tercapai. Ia lulus dengan hasil memuaskan, lalu menghampiri Lara dikelasnya.

__ADS_1


Lara diam, memandang nilainya dengan tatapan kosong. Entah apa yang difikirkannya sekarang.


"Ra... Gimana?" tanya Dion, duduk disampingnya.


"Gimana nilaimu?" tanya Lara.


"Baik... Tuh, kan. Aku udah bilang, kalau aku sebenarnya pintar, cuma malas aja." ucap Dion dengan bangga.


"Hmmmh," hanya itu, jawaban Lara.


"Kamu... Bagaimana? Sini lihat." tanya Dion, dengan merebut lembaran kertasnya.


"Lah, ini lulus. Kenapa begitu? Ngga puas, nilainya memuaskan banget padahal."


"Ra... Itu pun sulit kamu dapat, dan harus kamu syukuri. Bukankan begitu katamu padaku?"


"Iya... Tapi, sedih rasanya. Aku sudah menantinya, dan memperjuangkanya begitu kuat Dion, tapi lepas."


"Manfa'atkan yang ada, Ra. Ini beasiswa full, kan? Kamu ngga akan mengeluarkan biaya sepeserpun. Bahkan jika kamu mau, kamu bisa bekerja paruh waktu diperusaha'an Papa. Gimana?"


"Dion?" panggil Lara, dengan menatap wajahnya tajam.


"I... Iya, Ra?"

__ADS_1


"Kamu dalang semua ini? Kamu yang meminta beasiswa ini untuk aku? Kenapa?" tanya Lara.


"Ra... Itu ungkapan rasa terimakasihku sama kamu, dan aku ngga tega, dengan hidupmu seperti ini. Kamu akan belajar ilmu sekretaris langsung, dalam bimbingan kantor Papa. Dan nanti, kita akan lulus sama-sama lagi ketika kuliah. Lalu, kamu akan jadi sekretarisku. Sudah jangan menolak lagi," pinta Dion.


Lara tak menjawab, Ia langsung membawa tas dan hasil ujianya pulang dalam keada'an menagis.


Dirumah, Ia menceritakan semua pada Uni evi, dan Uni evi pun mengatakan hal yang persis sama dengan perkata'an Dion.


" Syukuri yang ada, Ra. Setidaknya, meskipun tak dapat kedokteran, kamu bisa kuliah sekretaris. Langsung dapet kerja, kan?"


"Iya... Bisa kerja sambilan juga, karna ekstensi. Lara ambil kuliah sore. Tapi, Lara ngga bisa bantu disini lagi." jawab Lara.


"Ngga papa, masa mu disini sudah selesai. Melangkahlah ke jenjang yang lebih tinggi, masa depan mu, sudah ada didepan mata." ujar Uni evi, seraya mengelus dan mencium rambut Lara.


Akhirnya Lara luluh, dan mengikuti saran kedua orang itu. Lara bersiap untuk menyambut hari barunya yang diharapkan lebih baik.


Keesokan harinya adalah acara perpisahan, dengan bahagia, Lara dan Dion berfoto bersama hingga acara selesai.


"Dion, itu siapa?" tanya Lara, ketika melihat seseorang menjemput Dion.


"Itu, Pak Johan, supir Mama." jawabnya.


"Pria itu, Dia yang membawaku kerumah Nenek, Dia yang melemparkan aku dalam semua kesulitan ini. Ada hubungan apa Dia dengan ku, dan apa hubungan nya dengan keluarga Dion?"

__ADS_1


__ADS_2