Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Sampah


__ADS_3

"Assalamualaikum..." ucap Dion, disusul Papa farhan dari belakang.


Raut wajah Lara berubah, dan Mama ana menyadari itu.


"Jaga sikap, Lara. Panggil Adam dikamar, ajak makan malam." pinta Mama ana, lalu berjalan menyambut Dion dan Papa farhan didepan.


"Sayaaang, akhirnya datang juga. Kama udah nunggu daritadi. Mama juga udah masakin makanan kesuka'an Dion. Yuk, makan." gandeng Mama ana pada Dion.


Dion dengan senang hati mengikuti Mama ana, dan duduk dimeja makan. Ia begitu berselera, ketika menatap rendang kering dimeja makan itu dan ingin mengambil sepotong dagingnya.


"Eeeeh, ngga sopan. Nanti, tunggu Kakak sama Lara." tegur Mama ana, dengan menepuk bahu tangan Dion.


"Selera, Ma. Mama yang masak?" tanya Dion.


"Iya, dibantuin Lara." jawab Mama ana.


"Hmmm...." jawab Dion, dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Mereka mana?" tanya Dion lagi.


"Lara lagi manggil Mas adam dikamar."

__ADS_1


"Hah! Mereka sekamar?"


"Heh... Enak aja! Engga lah. Lara dikamar sebelah kamar Dion. Jauh dari kamar Mas adam." jawab Mama ana.


"Lah, kenapa dekat kamar Dion?"


"Kenapa? Lagian kalian ngga kenal. Dion juga lebih banyak ke apartemen kan?"


"Iya..." jawab Dion, dengan nada datar.


Tap... Tap... Tap.! Suara langkah kaki Lara yang bergandengan dengan Adam. Mereka tampak cocok, dan begitu serasi.


Dion menatap mereka tajam, entah apa yang dirasakan. Antara cemburu, sedih, marah, atau bahkan benci. Semua jadi satu dalam hati Dion. Sekali lagi, Ia hanya bisa menghela nafas sabar melihat semua itu.


"Hay sayang... Sudah istirahatnya? Ayo sini makan. Sesekali Adam makan makanan berat ngga apa lah. Yang penting masih terkontrol." ucap Mama ana.


"Iya... Adam juga selera lihat makananya. Masa ngga kasihan, lihat Adam melongo ketika yang lain makan enak." balas Adam.


"Dikontrol Kak. Jangan sampai kumat, kasihan nanti Lara. Masa menjanda diusia muda." ledek Dion.


"Engga lah... Kamu apa sih. Mas kuat, dan belum akan ninggalin Lara." jawab Adam.

__ADS_1


"Apa sih, Mas. Kok ngomongnya gitu. Nakut-nakutin aja." tegur Lara.


"Takut ditinggal, Ra? Kirain biasa aja." ujar Dion, yang membuat mata Lara mendelik.


"Dion, Adam... Makan." tegur Papa farhan.


Lara melayani mereka semua tanpa terkecuali. Calon menantu pertama dalam krluarga itu berusaha bersikap ramah dan biasa saja pada calon adik iparnya, meskipun kenyata'anya lain.


Suasana menajadi hening ketika mereka mulai makan. Hanya bunyi sendok dan garpu yang mulai beradu diatas piring makan mereka. Mereka terbiasa tenang ketika makan, karena itu adab yang diajarkan Mama ana sedari mereka kecil, dan Lara sudah terbiasa dan mengikuti semua itu.


Makan malam selesai. Lara mulai membereskan piring-piring dimeja makan. Sedang yang lain berkumpul diruang Tv. Adam yang iseng kembali membuka album foto Dion. Dan mempertanyakan sebuah foto yang sedari dulu menjadi misteri baginya.


"Yon... Ini nih siapa?" tanya Adam.


"Apa? Kenapa buka foto itu? Ngga ada kerja'an." tegur Adam, berusaha merebut album itu.


"Ini seseorang dari masa lalu. Yang gue perjuangain hingga beberapa bulan lalu." jawab Dion, mengambil foto itu, dan merobeknya.


Hati Lara begitu sakit melihatnya, hingga Ia terhenti sejenak dari aktifitasnya. Ternyata memang sebenci itu Dion padanya sekarang.


" Lah... Kenapa berhenti berjuang? Perjuangin lagi lah. " ucap adam.

__ADS_1


"Dia aja udah buang gue kayak sampah. Kenapa gue harus balik perjuangin dia. Yang ada, gue harus balik bikin dia kayak sampah. Bahkan lebih sakit dari gue." ucap Dion, yang diam-diam melirik kearah Lara.


__ADS_2