
**
"Silahkan, Tuan dan Nyonya. Pesanan yang sudah. Anda pesan, semoga sesuai dengan selera anda." ucap Sang pramusaji dengan ramah.
Lara membalasnya dengan menganggukan kepala, seraya melihat kepiting Saus padang yang begitu besar, ada dihadapanya.
"Mas... Ini gimana makanya." tanya Lara.
"Katanya suka kepiting?"
"Iya, tapi biasanya dapet yang kecil-kecil. Belum. Pernah makan yang sebesar ini." balas Lara.
Adam menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul. Ia lalu meraih kepiting besar itu kehadapanya, lalu menjepitnya dengan alat yang sudah disediakan. Setelah itu, Ia mengeluarkan daging kepiting dengan sumpit, bergantian dengan sendok kecil yang tersedia.
"Udah, tinggal makan. Itu dagingnya udah Mas pisahin dari cangkang. Terus, kalau mau lagi, tinggal hisap yang ini." ucap Adam, yang dengan telaten, mengurusi semua keinginan Lara.
Lara mengembangkan senyum kesenangan, lalu memakan dengan lahap yang ada dihadapanya tanpa rasa canggung. Begitu juga dengan Adam, yang menikmati makananya, dengan menatap Lara gemas.
__ADS_1
"Abis ini, Mas langsung balik kerja kekantor, ya? Lara kalau masih mau belanja, bawa credit card Mas aja."
"Males, mending pulang aja. Mau ngerjain tugas kuliah. Lara kan mau skripsi juga. Sama kayak Dion, oops.. Keceplosan."
"Owh, iya. Kalau difikir-fikir, jadwal kalian sama. Jangan-jangan, nanti wisudanya barengan. Bisa bingung Mas atur jadwal." ucap Adam.
"Untung, Mas adam tidak terlalu ngeh dengan ucapanku." batin Lara lega.
Setelah menghabiskan semua makanan mereka, Adam kembali menggandeng Lara keluar restaurant itu.
Genggaman Adam tak pernah lepas dari Lara. Seolah Adam memberi perlindungan ekstra untuk kesayanganya itu. Dan Lara pun sudah mulai terbiasa dengan semua ini, hingga ketika Adam mulai lengah, maka Lara yang akan menggenggam tangan Adam.
NATIONAL UNIVERSITY OF SINGAPORE.
Hari ini, Dion sedang melaksanakan sidang skripsinya yang pertama, dengan beberapa rekan lainya. Tapi semangatnya sedikit berkurang, dikarenakan seseorang yang membuatnya kuat selama ini tak lagi bisa memberinya semangat seperti dahulu lagi.
Dion melamun, seraya menunggu antrian panggilan untuk memasuki ruangan ujian, tanpa resah, tanpa gemetar, namun tetap optimis.
__ADS_1
"Aku harus segera lulus, sesuai dengah janjiku pada Lara, dan kembali ke Indonesia. Tapi, kali ini bukan untuk mengejarnya lagi. Melainkan, untuk membuatnya menyesal telah meninggalkanku. Andai saja aku bisa menggagalkan pernikahan mereka, tapi itupun tidak mungkin. Kasihan Mas adam. Tetap Lara yang menjadi tujuan utamaku sekarang." gumam Dion.
"Hey, kok malah ngelamun." tegur Naura, yang datang menepuk bahu Dion.
"Eh, Nau... Kenapa?" tanya Adam, dengan gugup.
"Ngga papa, cuma mau kasih semangat aja. Kamu pasti nungguin Lara kan?"
"Hhh, nomornya dan semuanya sudah ku blokir, Nau. Mengingatpun malas." ucap Dion.
"Tapi sayangnya kamu ngga akan bisa bohong Dion. Semua isi hati dan fikiran kamu, masih untuk Lara. Aku tahu banget." balas Naura.
"Iya sih... Gimana lagi, tahu sendiri lah. Itu pasti ngga mudah bagiku. Bahkan luka ditanganku pun belum sepenuhnya hilang. Apalagi luka dihati." ucap Dion, dengan menunjukan bekas lukanya.
Naura lalu meraih bekas luka itu, dan membalutnya dengan sebuah sapu tangan, lalu mencium sapu tangan itu hingga memberi bekas lipstik diatasnya.
"Muah... Kalau mulai inget Lara, lihat aja balutan ini. Pasti jadi inget aku. Aku ngga jelek-jelek bangetkan buat diinget wajahnya. Jadi kamu ngga akan ilfil." ucap Naura, dengan mata sipitnya yang terpejam ketika sedang tersenyum.
__ADS_1
Dion membalas senyuman itu, lalu mencium balik sapu tangan itu dengan bibirnya, dan mengembalikan senyum pada Naura, hingga membuat gadis itu tersipu malu.