Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Pergi


__ADS_3

"Lara yakin mau pergi minggu depan?" tanya Uni ema.


"Yakin, ngga ada lagi yang dipamitin 'kan." jawab Lara.


"Ini, alamat Adek Ibu.. Langsung kesana aja. Dan rumah ini, akan Ibu kontrakin. Biarpun kecil jumlahnya, lumayan untuk ngirim Lara, dan buat biaya tambahan."


"Iya, Bu, terimakasih. Sementara, bolehkah Lara tinggal dirumah makan? Lara janji akan bantu bersih-bersih seperti biasanya." pinta Lara.


"Iya, silahkan. Dengan senang hati Ibu menerima Lara." ucap Uni ema, dengan memeluk gadis yang beranjak remaja tersebut. Sebenarnya berat melepasmu, ingin memelukmu saja disini. Namun, itu semua keputusanmu. Semoga menjadi awal yang baik, sayang.


Uni ema membawa Lara menuju rukonya, dan memberinya sebuah kamar kecil didapur. Sempit, namun nyaman untuk Lara yang hanya seorang diri, tidur beralaskan kasur yang sudah kempot.


Pukul Dua pagi, Lara sudah membantu mengupas bawang, memetik cabai, dan mengepel lantai, sembari menunggu para tukang masak datang.


"Lara, jam segini udah beberes? Ngga capek?" tanya Uda Herman.


"Ngga papa, Pak. Sekarang ketemu sama Lara, ditunda nanti juga, ketemu nya sama Lara." jawabnya.


Uda Herman hanya mengangguk, dan memuji kerja Lara. Ia pun begitu menyayangkan ketika Lara harus pergi, namu Ia harus tetap menghormati keputusan Lara, dengan mendo'akan yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Lara pamit sebentar kesekolah untuk meminta beberapa surat keterangan, dan tambahan leglisir di ijazahnya.


"Lara jadinya pergi kesekolah baru kapan?" tanya Kepala sekolahnya


"Nanti siang, kenapa, Pak?" tanya Lara.


"Hmmm, ini ada beberapa titipan dari para wali kelas, dan guru-guru disini. Tak seberapa, tapi lumayan untuk biaya hidup disana. Terutama untuk baiaya kost." ucap Sang kepala sekolah, sembari menyerahkan sebuah amplop besar.


"Terimakasih, Pak. Tapi Lara ngga ngekost, disana tinggal di Rumah Makan adiknya uni ema." jawab Lara, dengan menerima amplop itu.


"Yasudah, baik-baik disana, semoga apa yang Lara cita-citakan menjadi kenyata'an. Dan bisa membanggakan semuanya."


Lara masuk keruko, dan kembali membereskan semua barangnya. Ia membuka amplop, dan berisi lumayan banyak uang disana.


"Kenapa berasa seperti pengemis?" gumam Lara.


Namun Lara kembali teringat sebuah amplop yang diberikan seorang wanita waktu itu, lalu mengambil dan membukanya. Melihat nominal yang tertera disana, Lara terperanjat tak percaya dan langsung memanggil Uni ema dengan Lirih.


"Bu... Bu, sini deh." panggil Lara.

__ADS_1


Uni ema langsung menghampirinya, dan dibawa masuk kekamar Lara.


"Kenapa sayang? Udha beberesnya?" tanya Uni ema.


"Bu, Lara mau nunjukin sesuatu. Tapi Ibu jangan kaget."


"Apa itu?" uni ema penasaran.


"Ini, cek Dua Puluh Lima Juta." tunjuk Lara.


"Astaghfirullah, ini dari siapa?" tanya Uni ema.


"Sehari setelah nenek meninggal, paginya seorang wanita datang dengan mobil mewah dan dandanan cantiknya. Dia memberi Lara itu, tapi karna Lara buru-buru mau kesekolah, Lara ngga banyak tanya." jawab Lara.


"Ra.... Kamu mau apakam uang ini?"


"Ibu simpenin aja, Lara ngga berani bawa uang banyak. Ini aja cukup. Dikasih tadi sama sekolah. Nanti kalau Lara mulai kuliah, Lara minta uangnya, buat beli motor. Boleh kan, Bu?"


"Boleh sekali sayang. Nanti uang ini Ibu cairkan, dan Ibu simpan direkening Ibu. Ayo, siap. Sebentar lagi kita berangkat." pinta Uni ema, dengan mengusap tambut Lara yang indah itu.

__ADS_1


__ADS_2