
"Astaghfirullah, Mas kenapa?" teriak Lara dengan berlari menghampiri Adam.
"Mas ngga papa, kenapa? Cuma ngga sengaja nyenggol vas kesayangan Mama." ucap Adam, dengan wajah penuh cemas, namun tak secemas Lara sa'at ini.
Jantungnya berdebar, Kakinya gemetar hingga rasanya ingin jatuh karena sudah berfikiran macam-macam. Karena lemasnya, Ia lalu duduk dikursi menepuk-nepuk dadanya.
"Lara kenapa?" tanya Adam.
"Kirain Lara... Mas jatuh, sakit, pingsan. Lara sampai gemeteran tau ngga ish..."
"Ya ampun, segitunya." tawa Adam dengan kerasnya hingga terbatuk.
"Ketawa terus, ketawa... Batuk kan?"
"Iya, ma'af deh. Bantuin Mas beresin ya? Tolong....." rengek adam.
"Lara lagi nyuci piring loh. Lara tinggalin gitu aja karena kaget."
"Ya ampuuuuun, Laraaaaaaaa! Ini kenapa airnya sampai meluber?" teriak Mama ana.
Lara menepuk jidatnya, lalu berlari kembali kedapur.
__ADS_1
"Ma... Ma'af, Lara ngga sengaja." sesal Lara.
"Kenapa sampai begini? Lara kenapa?" tanya Mama ana dengan lembut.
"Gara-gara adam mecahin vas bunga Mama tadi, dikiranya Adam pingsan jatuh. Jadi Lara langsung lari nyamperin." bela Adam, dan Lara hanya mengangguk.
"Ya Allah, Lara... Segitunya, lain kali hati-hati ya sayang. Sekarang bersihin air ini dulu, Adam bantuin. Mama mau nyicil anter undangan soalnya."
"Iya, Ma..." jawab Lara, kemudian Mama ana pergi dengan membawa mobilnya sendiri.
"Melakukan kesalahanpun, Ia tak memarahiku. Ada apa denganya, benarkah sebaik dan setulus itu?" gumam Lara dalam hati.
"Eh, kok ngelamun? Ayo bersihin. Nanti mlesetin orang, malah tambah dimarah kita."
"Belum... Mama kalau ngomel, tandanya belum marah. Ngomel seharianpun ngga papa. Tapi jangan diem, kalau Mama diem, kami seisi rumah jadi takut dan tegang. Serem auranya melebihi nonton film horor." ucap Adam dengan Hiperbola nya.
"Gitu ya? Pantes, meskipun ngomel tapi Lara ngga takut." lirihnya.
Mereka lalu diam, berdua membersihkan air yang mengalir keseluruh lantai dapur. Membersihkan, sembari bersenda gurau, hingga lelah dan beristirahat disofa dengan menonton tv.
❤️❤️❤️
__ADS_1
"Selamat siang Dewi, sudah siap bekerja besok?" tanya Dion, pada Dewi yang datang mengantar berkas.
"Udah sore loh, Pak. Nyindir saya ya, karena datang terlambat?"
"Loh, udah sore ya? Kirain masih siang. Ngga nyindir, memang lupa waktu. Dewi kenapa telat?"
"Ada urusan bentar, konsul skripsi malah gagal terus. Giliran jadi, coretan semua, stres rasanya." jawab Dewi.
"Hmmm, yok kita kekantin. Sore gini masih buka kan kantinya? Kita cek yang salah, terus kita perbaiki. Mupung saya free." ajak Dion.
Dewi menurutinya, berjalan dibelakang Dion dengan perasa'an gembira. Sebenarnya, Dewi menyukai Dion sejak lama. Tapi Dion hanya menganggapnya sebagai adik, itu karena mamang mereka dibesarkan bersama-sama dirumah itu, dengan asuhan Mama ana.
Awalnya Dion mengira, Dewi memang diadopsi untuk menjadi adiknya perempuanya karena Mama ana tak bisa memiliki anak. Tapi kenyata'anya salah. Dewi seolah diasuh dan dimanfa'atkan tenaganya dirumah itu dengan upah pendidikan dan pekerja'an yang setimpal atas jasanya. Sehingga bisa ditarik bekerja diperusaha'an. Dan setelah itu, Dion tak tahu lagi bagaimana kelanjutannya.
Sekarang bagi Dion, Dewi adalah adiknya. Dan Ia akan berusaha membimbingnya dalam segi apapun yang Ia bisa lakukan.
"Bagian ini, seharusnya begini. Bagian itu, sharusnya lebih terperinci penjelasanya. Dan diusahakan lebih rapi penulisanya agar lebih mudah difahami. Ngerti?" tanya Dion pada Dewi, yang sedari tadi justru fokus menatap wajahnya yang tampan dan begitu mempesona.
"Wi.... Helloooo, kenapa? Kok lihatin saya?" tegur Dion.
"Ah... Engga, Mas. Hanya saja....."
__ADS_1
"Saya tampan... Ya, saya faham itu." potong Dion, dengan gaya narsisnya.