
"Tuan farhan, perkenalkan, saya Lara." ucapna dengan mengacungkan tangan.
"Kenapa masih panggil Tuan? Saya calon Papa mertuamu, harusna panggil Papa bukan?" ucap Tuan farhan, dengan senyum ramahnya.
Deg.... !
"Seramah itukah mereka dengan ku, seorang yang hanya bekerja sebagai OB dikantor mereka. Benarkah, Ia sebaik itu??batin Lara.
"Lara, ayo duduk." tegur Pak farhan.
"Owh, iya, Pa." ucap Lara yang masih canggung.
Keada'an menjadi sedikit tegang bagi Lara, Ia hanya bisa diam tanpa bisa memulai bicara. Adam menatap Lara yang tepat disampingnya, lalu membuka pembicara'an.
"Pa, gimana? Lara cantik 'kan?" tanya Adam.
"Hmm, cantik, manis. Pintar kamu memilih calon istri. Dan sepertinya, Dia juga wanita yang pintar dan pekerja keras. Papa bisa lihat dari auranya." tawa Tuan farhan, memecah ketegangan.
__ADS_1
"Tapi... Lara yatim piatu, Pa. Bahkan, Lara tak punya kerabat dekat. Wali pun tak ada, apa tidak masalah batanya bagi keluarga ini?" tanya Lara.
"Tidak masalah, Papa tak terlalu melihat masa lalu. Lagipula, Lara seperti itu bukan mau Lara. Kecuali kalau masa lalu yang buruk tentang diri Lara. Hamil diluar nikah mungkin, menggugurkan, atau membuang anak, Itu baru dosa." ucap Tuan farhan, yang sontak yang membuat Nyonya Ana sedikit tegang.
"Uhuuuukkk, uhhuuukkkk!.... Ma'af, Mama ambil minum dulu." pamitnya, lalu melangkah kadapur.
"Mama, kenapa?" tanya Lara.
"Katana, dulu sahabatnya begitu. Hamil diluar nikah, terus anaknya ditelantarkan sama mantan suaminya. Bahkan dianggap ngga ada." jawab Adam, dengan berbisik.
"Hhhh, sahabat. Bukanya Dia sendiri yang seperti itu?" batin Lara, meledek.
"Jika, keluarga ini saja menerima saya dengan tangan terbuka, bagaimana saya bisa menolak, hanya karna sebuah sakit bawa'an. Lara menerima Mas adam, seperti Mas adam mamu menerima Lara." ucapnya, dengan menggenggam tangan Adam denag erat.
"Baguslah, Lalu kapan rencananya kalian menikah?" tanya Tuan farhan.
"Santai lah, Pa. Tunggu Dion aja sekalian, kan bentar lagi. Kasihan, Dia udah berjuang sejauh itu, masa pernikahan Adam juga harus dilewati." ucap Adam.
__ADS_1
"Oke.... Tunggu Dion wisuda, baru kalian menikah. Tak lama lagi, paling tinggal sebulan." lanjut Pak farhan.
Obrolan mereka berlanjut hangat. Terutama ketika Nyonya Ana datang dan menghidangkan secangkir teh manis untuk mereka. Lara merasa sudah mulai nyaman disana, dan merasa benar-benar memiliki keluarga seutuhnya sa'at ini. Mereka begitu baik dan tulus, hanya Nyonya ana yang menjadi fokus Lara sekarang.
Adam membawa Lara kesebuah ruangan, disana berisi semua foto keluarga. Satu persatu Album foto Adam buka, dan menunjukannya pada Lara, mulai dari foto Almarhumah Sang Mama kandung, hingga foto pernikahan kedua Papanya dengan Nonya Ana.
"Mas, sudah berapa lama, Mama dan Papa menikah?" tanya Lara.
"Sudah sangat lama, Ra. Dari awal Dion lahir, Sekitar Dua Puluh Satu tahun lalu. Eh, kalian seumuran Kan?" tanya Adam.
"Mungkin, Lara belum pernah bertemu dengan Dion soalnya." jawab Lara.
Pandangan Lara beralih kesebuah album foto, berisikan koleksi foto Dion dari kecil hingga dewasa. Lara membukanya satu persatu, dengan tangan gemetar dan dada yang sesak. Foto pria tampan yang sempat menjadi puja'an hatinya itu, begitu ceria disini.
"Ra, coba lihat ini. Foto siapalah wanita ini. Aneh-aneh saja Dion, gadis sedang istirahat dikelas, Ia foto, lalu ditempel disini." tunjuk Adam.
Lara menatap keaarah foto itu dan memperhatikanya dengan seksama.
__ADS_1
"Hah! Ini bukanya fotoku dulu? Foto ketika kami pertama bertemu di SMA? Dion menyimpanya sebagai kenangan?" batin Lara, lalu terisak. Andaikan Ia sedang sendiri, pasti Ia akan menagis sejadi-jadinya sekarang.