Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Membujuk Dion pulang


__ADS_3

"Dialah yang sudah merawatmu dari kecil Dion!"


"Tapi dia juga yang telah membuangku jauh dari keluarga ini. Hingga Larapun ikut membuangku."


"Kenapa menjadi keras kepala seperti ini, apa yang salah?" Adam kembalu bertanya, dengan segala emosinya.


"Aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh kalian. Kenapa kalian terkejut, ketika aku melakukan hal yang sama pada kalian, terutama Mama dan Papa. Sudah, kembalilah. Jangan perdulikan aku Kak, jaga saja kesehatanmu. Jika kamu sakit, aku juga yang repot." ucap Dion, tanpa menoleh ke Adam.


Dengan emosi, Adam kemudian keluar dari ruangan Dion dengan membanting pintunya. Dion hanya diam, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Bahkan Ia tak tahu apa yang Ia fikirkan.


"Apa masalahmu Dion, kenapa jadi seperti ini. Dendamkah kamu pada Mama dan Papa? Mereka melakukan itu juga demi kebaikanmu." Adam menggerutu dan kembali keruang kerjanya.


Adam duduk termenung, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan sekuat hati Ia berusaha melupakan semua yang dikatakan Dion. Ia anggap sebagai angin lalu dan sebuah luapan emosi, karena dirinya yang masih patah hati.


"Baru beberapa bulan putus. Baiklah anggap saha Ia masih dalam masa frustasi sekarang. Seorang Dion, yang tak pernah terlihat menambatkan hati pada wanita, tiba-tiba mendengar kabarnya diputuskan kekasih. Pasti rasanta perih hingga sekarang. Sabar adam... Sabar." Adam berusaha bangkit dan menyelesaikan semua pekerjaannya.


Jam menunjukan jika sore telah tiba, Adam mulai membereskan semua pekerjaanya dan bergegas pulang. Di perjalanan, Ia melihat ruangan Dion, dan meihat Dion bekerja begitu keras dengan laptopnya, namu Adam enggan menegurnya.


"Biarkan Ia fokus. Bisa jadi, fokus itu nanti perlahan bisa membuatnya lupa pada cintanya itu." ujar Adam, melanjutkan perjalananya.

__ADS_1


💕💕💕


"Assalamualaikum." Adam tiba dirumah, lalu disambut Lara dengan senyum manjanya.


"Wa'alaikum salam. Gimana Mas kerjanya?"


"Alhamdulillah, makin semangat. Apalagi kalau pulang disambut istri tercinta begini. Makin seneng dan bahagia." jawab Adam, mencolek dagu Lara dengan gemas.


"Dion ngga ikut pulang, Dam?" Mama menyaut dari ruang belakang.


"Maaf Ma, Dion ngga pulang lagi." sesal adam, yang tak berhasil membujuk adiknya itu.


Adam duduk disebelah Mama ana, dan berusaha kembali menenangkan, mengusap bahu Mama ana, lalu memberinya pelukan.


"Mama sabar saja, nanti Adam akan gantikan Dion dengan cucu yang tampan ataupun cantik. Yang akan meramaikan rumah ini." Adam, memberikan harapan besar pada Sang Mama, tanpa Ia ketahui jika jantung Lara berdegup kencang ketika mendengarnya.


"Iya... Ma. Kami sedang berusaha sekarang." Lara menyambung pembicaraan.


Mama ana kemudian mengusap air matanya, lalu kembali tersenyum dengan penuh harapan. Ia begitu menginginkan cucu dari Adam, agar bisa menemani masa tuanya nanti.

__ADS_1


Malamnya, Lara dan Adam sedang bermesraan dikamarnya. Mereka sedang memulai aksi untuk program kehamilan Lara, meski Lara tahu itu mustahil.


Tiba-tiba Adim menelpon memberi laporan.


"Hallo, Kenapa?"


"Tuan, Dion sedang di discotik sekarang. Tapi saya tak bisa masuk, Ibu saya dirumah sakit dan saya harus menjaganya."


"Baiklah, jaga Ibumu dengan baik. Akan ku perintahkan yang lain untuk membawanya pulang." Adam langsung menutup telponya dalam keadaan marah.


"Kenapa Mas?" Lara bertanya dengan begitu beran.


"Dion didiscotik, Mas takut dia mabuk. Bagaimana ini?" lirih Adam.


"Mas jemput aja bawa pulang."


"Jantung Mas bisa sakit sayang. Dentuman disana bisa membuat jantung Mas berdegup lebih kencang dari ritme normal."


"Lalu siapa? Ngga mungkin Mama dan Papa. Atau... Lara saja yang menjemputnya?" Lara menawarkan dirinya untuk menjemput Dion dan membawanya pulang. Semantara  Adam memikirkannya dengan begitu serius.

__ADS_1


__ADS_2