
Target pertama selesai, tiba berpinfah ketempat berikutnya yang tak jauh dari sana. Rencana dan perkata'an mereka sama. Mereka yang terkesan begitu kaget dengan undangan yang lumayan mendadak itu. Wajar saja, karena memang selama ini Adam tak pernah terlihat berpacaran atau bahkan dekat dengan wanita, lalu tiba-tiba datang meminta restu untuk menikah.
Tapi mereka semua antusias dan memberi selamat, bahkan juga ikut bahagia dengan kabat itu. Sehingga semua penuh keceria'an, dan berjanji akan menerima semua undangan yang dihaturkan.
"Apalagi yang kurang, ya? Kayaknya udah semua. Salon, make up, semuanya udah sama WO sekalian. Apa lah ya?" gumam Mama ana, dengan memijati kepalanya.
"Ma'af Ma, Lara juga ngga faham, jadi ngga bisa bantu mikir." sesal Lara.
"Iya, ngga papa. Lara meang ngga boleh kebanyakan mikir sekarang, rileks aja menuju hari H." ujar Mama ana.
Perjalanan selesai, mereka kembali kerumah, dan beristirahat, terutama Adam yang mulai terlihat kelelahan.
"Mas kekamar dulu, ya." pamitnya.
"Iya..." jawab Lara dengan lembut.
"Lara... Tolong antarkan makanan buat Dion dikantor dong. Ini tadi dibawain makanan sama tante Rika. Bagi dikit ke Dion." pinta Mama ana yang sibuk menyusun makanan.
"Haj? Iya Ma, Lara anter. Tapi Lara mau ganti baju dulu, ya? Gerah banget keringetan."
"Iya, mandi sekalian. Gatel nanti." jawab Mama ana.
Lara mengangguk, Ia langsung naik dan mandi dengan cepat, lalu kembali kebawah setelah selesai. Jujur saja, Ia begitu senang ketika diminta mengantar makanan pada Dion.
__ADS_1
"Abis nganter, cepet pulang. Lara udah ngga boleh keluar lama-lama." ucap Mama ana.
"Kenapa?"
"Lara udah mulai dipingit. Jadi ngga boleh banyak keluar." jawab Mama ana.
"Iya, Ma.... Lara pamit, Assalamualaikum." ucap Lara, lalu pergi diantar Pak bandi. Supir keluarga mereka.
❤️❤️❤️
"Pak, ini dokumen yang harus dicek dan harus ditandatangani." ujar Dewi yang sudah mulai bekerja menjadi sekretaris Dion.
"Baiklah, taruh saja disana. Saya sedang mengerjakan ini." jawab Dion.
"Ngerjain apa?"
"Hah? Mau buat perusaha'an?"
"Iya, tapi belum bilang sama Mama Papa. Masih rencana sama ngumpulin modalnya. Terbiasa mandiri, kalau kerja begini kurang enak, bukanya mgga bersyukur." ujar Dion.
"Baguslah, semangatnya Dewi acungi jempol. Boleh daftar jadi sekretaris lagi?" goda Dewi.
"Boyong aja kita nanti, ngga usah pake ngelamar, langsung pindah." ajak Dion, dengan peuh antusias.
__ADS_1
Obrolan berlangsung seru antara mereka berdua, dari pekerja'an hingga status kejombloan yang kembali menjadi pembahasan. Obrolan mereka santai, tapi menjurus kesemua topik dan itu begitu nyambung dengan mereka. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan obrolan itu.
"Dion...." panggil Lara dengan membuka pintu.
Air muka Dion berubah sedikit keruh, tak seperti ketika bersama Dewi tadi, meskipun Dewi masih berada didepanya.
"Kenapa kesini?" tanya Dion yang masam.
"Disuruh Mama antar makanan." jawab Lara.
Dewi menganggukan kepala pertanda undur diri, tapi Dion melarangnya. Tapi Dewi tetap pergi.
"Kenapa harus kamu, bukankah bisa dikirim melalu Ojol?" ujar Dion.
"Haruskan sekasar ini padaku, begitu beratkah dosaku padamu Dion. Setidaknya aku sekarang sedang berusaha membuat Mas Adam bahagia. Hanya itu, ujar Lara."
"Kak Adam pun ngga akan mau, jika kebahagia'anya datang dengan cara mengorbankan kebahagia'an orang lain." ujar Dion.
"Lalu? Kamu fikir aku tak ikhlas mencintainya?"
"Itu terlihat dari matamu." jawab Dion.
Lara mendekati Dion dengan senyum menyeringai. Meletakan tempat bekal dimeja, dan duduk dihadapanya, mengarahkan matanya tepat didepan mata Dion.
__ADS_1
"Begitu memahamiku Yon, sampai mataku pun, kamu masih faham. Tatapan ini kan, yang membuatmu jatuh cinta padaku?"
"LARA....!" Teriak Dion.