
"Kenapa lagi Dia? Sudah ku bilang untuk berhenti mengingatku." Dion membaca pesan itu dengan begitu kesal.
Dion sebenarnya begitu malas menemui Lara kali ini. Tapi entah mengapa, ada perasaan lain yang hingga akhirnya membawa Ia kesana. Ketempat yang Lara ucapkan. Meskipun sudah hampir Satu jam Lara menunggunya.
"Kenapa?" tanya Dion, dengan duduk diaebelah Lara.
"Aku... Hamil." jawab Lara, dan membuat Dion tercengang.
"Kamu hamil, kamu punya suami, kenapa lapornya ke aku?" Dion tertawa geli.
"Ini anakmu." jawab Lara dengan gugup.
"Bagaimana bisa?" Dion mulai meninggikan nada bicaranya.
"Beberapa waktu lalu, ketika aku menjemputmu yang mabuk di Bar. Kita melakukan-nya." Lara menjelaskan, dengan terus menundukan kepalanya.
"Ngaco kamu. Meskipun iya, itu hanya sekali dan aku pun tak terlalu merasakan nya."
"Itu karena kamu mabuk, dan aku pun tak bisa mencegahnya. Ditambah lagi sebelum pergi, aku meminum vitamin kesuburanku. Kamu tahu? Mas adak di diagnosa mandul Yon." Lara mulai menatap Dion dengan air mata yamg mulai menganak sungai.
"Lalu, apa yang kamu mau? Tak mungkin aku bertanggung jawab atas bayi ini. Kak adam akan syok, bahkan bisa lebih dari itu." jawab Dion dengan santai.
__ADS_1
"Aku... Ingin menggugurkan-nya."
"Gila! Jangan bodoh kamu Lara. Bisa merusak nama baik keluarga jika terjadi apa-apa."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Akui saja anak itu sebagai anak Mas adam. Setidaknya Ia akan lebih bahagia, dan lebih memiliki harapan hidup lebih lama karena kebahagiaan itu. Lagipula, Mama benar-benar menginginkan-nya."
"Apa? Tega kamu Dion. Nanti kalau mereka curiga bagaimana?"
"Curiga apa? Asal kamu diam dan tetap tenang, tak akan ada yabg curiga. Bahkan, golongan darahku dan Kak Adam sama, jadi itu lebih aman." Dion lalu berdiri, dan merapikan Jasnya.
"Pulanglah, ikuti kata-kataku. Anggap saja tak terjadi apa-apa. Aku akan menikahi Dewi setelah ini, agar keadaan semakin aman."
"Jangan bicara tentang kejahatan, jika kamu pernah melakukan kejahatan yang lebih parah Lara. Aku tak mengorbankan siapapun disini, justru aku membuat Kakakku bahagia. Ambil saja sisi positifnya." Dion lalu pergi, meninggalkan Lara yang masih termenung menatap danau yang ada dihadapan-nya.
Lara merasa begitu perih, karena semua yang Ia rancanakan untuk Sang Ibu harus tertunda karena adanya masalah ini. Dan Ia merasa, seolah semua niat jahat justru berbalik padanya.
"Bolehkah aku mati saja? Aku ingin menyusul ayah." ucapnya dengan tatapan kosong itu.
Lara menenangkan diri sejenak, hingga tak mendengarkan jika Hpnya sedari tadi bebunyi. Adam menelpon-nya karena khawatir.
__ADS_1
"Dua Puluh panggilan. Ia benar-benar mengkhawatirkanku." Lara langsung mengelap air mata dipipinya, dan berusaha menormalkan suaranya yang serak.
"Hallo, Mas. Kenapa?"
"Lara kemana? Kenapa lama sekali angkat telpon-nya? Tadi Mama bilang, Lara pergi dalam keadaan cemas."
"Mas pulang ya, Lara punya kejutan. Lara tunggu dirumah." ucap Lara, lalu menutup telepon-nya.
Ia menghela nafas sejenak, berdiri dan berjalan pulang setelah menghentikan sebuah taxi.
"Mampir ke klinik terdekat Pak." pinta Lara pada Sang supir.
Lara memerikasakan diri sebentar agar memiliki surat keterangan, dan mereka tak bertanya kemana perginya yang tergesa-gesa. Dan langsung pulang setelah surat itu Ia dapatnkan, beserta foto USG janin kecilnya.
Taxi tiba dirumah, dan Lara langsung turun setelah membayarnya. Lara melangkah perlahan, dan masuk kerumah, terlihat Adam dan Mama ana menunggunya diruang tamu.
"Mas..." Lara memanggil adam, dan adam langsung menghampirinya dengan begitu cemas.
"Lara... Darimana sayang? Lara baik-baik saja?" Adam mencecar Lara dengan beberapa pertanyaan.
"Lara baik, Lara sehat. Tapi......" Lara menghentikan bicaranya, lalu memberikan selembar surat pada Adam.
__ADS_1
"Buka aja, Mas." ucap Lara, dengan berusaha tersenyum manis, meski sebenarnya cemas.