Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Perjodohan Dion


__ADS_3

"Aaaarghhhh... LARA....! Aku benar-benar membencimu." gerutu Dion.


"Iyaaaa, kenapa panggil Lara? Sahut Lara yang berlari menuju kamar mandi." AAAARRRGH,...! Dion kenapa ngga pakai baju? " teriak Lara.


"Lah kamu ngapain kesini? Katanya mabok?" omel Dion.


"Tadi dengar kamu manggil, makanya kesini." jawab Lara.


"Siapa pula manggil kamu, dasar mesum" umpat Dion.


"Kenapa, sayang?" tanya Adam yang datang menyusul.


"Dion bugil, Mas." tunjuk Lara, yang masih menutupi mata sebelahnya.


"Daritadi mandi ngga selesai, kenapa masih begitu bentuknya?" omel Adam pada Dion.


"Ya, urusan mandi itu terserahku lah. Itu Lara kenapa datang-datang kesini?" tanya Dion.


Adam mendelik kearah Lara, dengan penuh tanya.


"Tadi, Lara dengar kayak Dion manggil nama Lara. Jadi, Lara dateng karena fikir Lara, Dion ada perlu atau minta sesuatu. Ma'af, Mas. Lara ngga cabul kok, sumpah." rengek Lara pada Adam.

__ADS_1


"Yasudah, Mas percaya. Tapi, jangan ulangi lagi. Dion, lain kali kalau mandi kamarnya dikunci. Jadi kalau teriak sambil nyanyi, ngga ganggu pendengaran orang" ujar Adam.


"Iya.... Yaudah sana. Gue Mau ganti baju. Untung masih pakai handuk." balas Dion dengan kesal.


Adam menggandeng tangan Lara keluar menuju ruang tamu, lalu mengajaknya duduk disana.


"Mas... Mas marah? Cemburu? Sumpah Lara ngga ngapa-ngapain." bujuk Lara.


"Engga... Mana bisa Mas marah sana Lara, Mas kesel sama Dion."


"Lah... Kenapa? Dion juga ngga salah, Lara cuma salah dengar aja." balas Lara.


Lara diam menggaruk kepala, Ia bingung harus menjawab apa dengan perkata'an Adam itu. Untung saja, Mama ana datang dan mewakili Lara menjawab pertanya'an Adam.


"Adam... Adam harus maklum sama Dion. Dia itu dari Luar Negri, terbiasa bebas tanpa aturan. Apalagi, memang dari dulu kan sifatnya begitu. Sama Adam aja, baru sekarang manggilnya sopan. Iya, kan?" tanya Mama ana.


"Kita sudah faham, Ma. Tapi Lara?"


"Lara faham kok, Mas. Lara juga biasa aja dengan sikap Dion. Kami juga, baru bertemu. Mungkin juga, karena kami seumuran, makanya Dion masih enggan menaruh hormat lebih sama Lara." rayu Lara, menenangkan Dion.


"Iya, terimakasih sayang, karena sudah mau mengerti dan memaklumi Dion." ucap Adam, dengan mengusap rambut Lara.

__ADS_1


"Yaudah... Kita pulang yuk mas ngga enak Lara disini kelama'an. Rikuh sama Dion, terus ngga enak sama Mas, gara-gara kejadian tadi." bujuk Lara.


"Iya... Adam sama Lara pulang aja duluan. Mama masih mau beresin apartemen Dion. Rumah bujangan memang harus banyak diberi perhatian. Apalagi Dion yang serba berantakan." ucap Mama ana.


"Yasudah, ayo sayang pulang." ajak Adam.


"Eh... Tapi inget ya, dibebasin bukan berarti terlalu bebas. Jaga diri masing-masing. Tahan dengan hasrat, toh Dua minggu lagi kalian menikah." Mama ana menasehati.


"Iya Mama sayang. Adam inget kok, apalagi dirumah ada Dewi kan? Amanlah." balas Adam.


Mama ana hanya mengangguk dengan senyum penuh ketenangan. Adam kembali menggandeng Lara keluar apartemen itu, dan pulang kerumah menggunakan mobil Dion.


"Mas... Mba dewi itu pinter ya?" tanya Lara, selama diperjalanan.


"Pinter.... Dulu dipanti termasuk paling pinter, terus cerdas. Makanya Mama mau kuliahin Dia. Katanya sayang, kalau kepintaran itu ngga diasah. Kan lumayan buat perusaha'an." jawab Adam.


"Iya, lumayan buat perkembangan. Terus, nanti Lara gimana? Boleh kerja?" tanya Lara.


"Hmmm, lihat besoklah. Kalau memang ngga betah ya, kerja aja. Tapi kalau mau dirumah aja, lebih baik. Soalnya, setelah dewi wisuda, Dia akan dinikahkan dengan Dion." ucap Adam. Dan itu begitu mengejutkan bagi Lara.


"Hah? Menikahkan dengan Dion?"

__ADS_1


__ADS_2