
Lara berjalan cepat hingga tiba dikantor, dan langsung melakukan semua pekerja'anya. Satu yang tak Ia sadari ketika itu adalah, ketika suasana kantor berubah sedikit hening, dan para karyawan tak ada yang mau memerintahnya, bahkan ketika makan siang.
Lara yang mulai lelah kerena semua pekerja'an, beristirahat sejenak disebuah ruangan, sembari meminum air putih dikantongnya. Hingga Mba asni memanggilnya.
"Ra..."
"Iya, Mba.... Ada apa, kok tergesa-gesa gitu?"
"Pak adam nyari kamu, dan menunggu diruanganya."
"Kenapa? Sakit lagi?" tanya Lara.
"Engga, justru sehat banget. Tapi~"
"Tapi kenapa?" ucap Lara dengan panik.
Lara kemudian berlari dengan meninggalkan semua peralatan kerjanya menuju ruangan Adam. Tapi yang aneh ketika itu adalah, terdapat hiasan bunga-bunga seperti seseorang yang sedang merayakan ulang tahun diruangan itu.
__ADS_1
Cekrreeek! Lara perlahan membuka pintu, tanpa memanggil Adam, yang ternyata berdiri menghadap kaca, dan memandan kearah luar.
"Pak adam, menggil saya?" tanya Lara, kikuk.
"Sudah saya bilang, kalau sedang berdua, panggil saya Mas. Jangan Bapak." jawab adam, tanpa sedikitpun menoleh.
"Kan... Ini dikantor." jawab Lara.
"Lara...."
"Iya?"
Lara mengerenyitkan dahinya dengan penuh tanda tanya. Lalu menghampiri Adam perlahan.
"Bapak kenapa?" tanya Lara, yang sudah semakin dekat dengan posisi adam.
Adam yang merasakan detak jantungnya kian kencang karna kehadiran Lara, lalu membalik badan dengan membuka kotak cincin berlian kehadapan Lara.
__ADS_1
"Lara... Aku memeperhatikanmu tanpa pernah berani untuk bicara. Aku menyimpan rasa untukmu, tanpa pernah berani untuk mengungkapkan. Rasa ini sekian lama ku tahan, karna aku begitu ingin mengenalmu lebih dulu. Namun, seiring berjalanya waktu, aku semakin tak bisa menahan rasa ini, Ra. Kamu masuk begitu dalam ke hatiku, hingga aku tak mampu menatap yang lain lagi. Mau kah, kamu menikah denganku, Ra. Aku tak ingin berlama-lama lagi, secepatnya kita akan menikah jika kamu bersedia."
Adam lalu berlutut, dengan melipat satu kakinya, meminta tangan Lara untuk Ia genggam, tapi Lara menolaknya.
"Pak... Kenapa, seperti ini?" tanya Lara, makin gugup.
"Kenapa? Ada yang salah dengan perasa'an saya? Saya sudah memendamnya bertahun-tahun. Dan sekarang, saya berhasil mengucapkannya, setelah Mama dan Papa menyetujuinya."
Lara tertegun, "Hah? Nyonya menerima saya sebagai istri bapak?"
"Iya, Mama begitu welcome dengan kamu. Papa juga, secepatnya saya akan bawa kamu bertemu dengan mereka." jawab Adam, lalu berdiri dari posisinya.
"Pak, ma'af, saya kekamar mandi dulu sebentar." ucap Lara, lalu keluar menghalau sekumpulan karyawan yang ramai melihat proses lamaran itu.
Lara menangis dikamar mandi, Ia tak ingin menerima lamaran itu karna hanya ada Dion dihatinya. Tapi, ketika Adam berkata bahwa Nyonya ana menyetujui hubungan mereka, hati Lara seolah berbalik. Lara begitu ingin mendekati Nyonya ana dengan segera. Lara ingin merasakan ramahnya Sang ibu, meskipun dengan status berbeda. Lara ingin melihat sneyumnya ketika begitu menyayangi Lara yanng akan menjadi menantu nya esok.
"Bu, Lara rindu ibu. Lara ingin mendapat perhatian Ibu. Andai ini menjadi jalan Lara untuk meraih hati Ibu, Lara akan lakukan. Tapi Dion, Dion akan begitu sakit dengan semua ini."
__ADS_1
Lara duduk dipinggir kamar wastafel, merenung sejenak menanti sebuah keputusan.
"Aku ingin membalas perlakuanya yang telah mengabaikanku. Bukankah, Mas adam adalah anak kesayanganya? Jika kupergunakan Mas adam, maka semua akan semakin cepat untuk aku melakukan semua rencanaku. Dan Dion, Dion tak perlu ikut terseret dalam semua ini. Biarkan Ia sakit karena aku, biarkan saja Ia membenciku, tanpa tahu alasanku. Ma'af Dion, Aku tetap mencintaimu." gumam Lara, lalu berdiri tegap, kembali berjalan dengan sebuha keputusan dalam hatinya