Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Tempat baru


__ADS_3

Dion menyetir mobilnya menuju toko perlengkapan. Ia memesan kan Lara beberapa alat dapur, serta sebuah lemari plastik.


"Pak... Nanti, kalau itu cewek nanya, bilang aja kalau lagi ada Dooprize. Nanti semua saya yang bayar." ucap Dion.


Pemilik toko mengangguk, dan mulai memerintah pegawainya memberi beberapa perlengkapan yang Lara minta.


"Loh, saya ngga mesen lemari, Pak." ujar Lara.


"Ngga papa, ini hanya hadiah karna Mbaknya sudah memborong ditoko kami. Kebetulan, toko ini sedang merayakan ulang tahunya." sahut Sang pemilik toko.


"Tapi, belanjanya juga cuma sedikit,"


"Udah, disyukuri aja, ngomel mulu. Bersyukur, dapet lemari buat narok baju." potong Dion.


Kalau aku membelikanmu terang-terangan, kamu tak akan menerimanya. Apalagi, jika aku membelikan barang bagus untukmu.


Lara dengan keada'an masih bingung, melanjutkan belanjanya. Lalu Dion membawanya ke kost barunya. Sebuah bedengan kecil, namun rapi dan bersih. Sebenarnya Dion ingin menyewakan tempat yang lebih bagus dari itu, namun Dion sudah tahu pasti tanggapan Lara.

__ADS_1


"Ini... Kok bedengan? Bukanya kamu bilang kost-kost'an aja, kalau begini kemahalan. Aku sendiri cuma sepetak kamar aja cukup loh."


"Ra... Cukup ngeluhnya, stop ngomel lagi, please. Ini dari kantor, dan aku cuma bertugas menyampaikanya padamu. Terima saja, ini pas lokasinya dekat kantor." balas Dion.


Lara menghela nafas panjang, berusaha melegakan hatinya, dan menerima semua kejutan ini, meskipun Ia ragu ini benar-benar inventaris kantor atau hanya pemberian Dion saja.


"Mana mungkin, seorang pegawai yang baru akan masuk bekerja, mendapat rumah tinggal sebagus ini." Batin Lara.


Mereka masuk, Dion membantu Lara membereskan seisisi ruangan itu. Meyusun lemari, dan semua peralatan dapur yang Lara beli. Lara pun menoleh kedalam kamar, dilihatnya sudah terdapat kasur busa yang empuk dan terkesan mewah disana.


"Hhh... Pasti kerja'an Dion lagi. Ingin rasanya aku memarahinya, dan menolak semua ini. Tapi, Ia sudah berusaha dengan keras menyenangkan hatiku. Baiklah, terima saja, daripada menyinggung hatinya nanti,"


"Dion, ini tehnya. Minum dulu biar seger." tawar Lara padanya.


Dengan senyumnya, Dion mengambil cangkir itu, dan perlahan meminum tehnya yang ternyata masih dengan suhun Tujuh Puluh Lima Derajad Celsius itu.


"Aaaargh!... Panas, Ra. Jahat kamu sama aku." 

__ADS_1


"Ya, kan baru mau bilang kalau itu masih panas. Keburu diseruput aja," ucap Lara, dengan memmbersihkan bibir Dion dengan sapu tanganya.


Dion menatap tajam Lara yang berada tepat didepan matanya. Hanya berjarak Lima Centimeter, dan cukup membuat hati Dion semakin berdegup kencang karenanya.


Dion meraih lengan Lara, dan menghentikan aktifitasnya diwajah Dion, lalu mecium lengan tersebut dengan mesranya.


"Lengan ini, adalah lengan yang aku inginkan setiap pagi, ketika nanti kita sudah bersama. Lengan ini, adalah lengan yang ku dambakan agar nanti, setiap pagi bisa membelaiku erat dan membangunkanku dari tidur panjangku. Lengan ini, hanya lengan ini yang ku inginkan, untuk ku gandeng, dan jarinya kupasangi cincin berlian terindah, yang ku berikan dengan seluruh hatiku, hanya untukmu... Lara," 


Lara pun menatap Dion dengan tatapan yang sama tajamnya, menunjukan ada sebuah rasa yang begitu dalam, yang masih belum bisa Ia utarakan. Bahkan, Lara masih belum mengerti, perasa'an apakah itu.


"Dion?" panggilnya.


"Ya, Ra?"


"Pulanglah, hari sudah sore. Bukankah kamu lelah?"


"Ra, ku mohon, sebentar saja. Berdua bersamamu seperti ini, adalah suatu hal yang begitu membahagiakan bagiku. Bahkan, aku tak dapat mengungkapkanya dengan kata-kata." ucap Dion.

__ADS_1


Lara diam, terpaku dengan semua ucapan Dion. Apakah Lara mulai tergoda dengannya, entahlah. Tapi, Lara begitu berusaha untuk menahan dirinya, terutama jika teringat akan semua tujuanya, yang Ia perjuangkan hingga ke detik ini. Yaitu, menemui Sang Ibu.


__ADS_2