
"Lara sudah siap?" tanya Mama ana yang sudah rapi dengan dress warna ungunya, serta rambut pendeknya yang tertata rapi, sedangkan Papa farhan dengan setelan kemeja dan jeansnya yang lebih santai.
"Iya, Ma... Udah siap kok, Mas adam juga." jawab Lara yang bergandengan dengan Adam.
Mama ana menyambut mereka dengan senyum, lalu memepersilahkan Adam menyetir dan Lara duduk disebelahnya. Sedangkan Mama dan Papa duduk dikursi bagian belakang.
"Mau kerumah siapa Ma?" tanya Adam.
"Kerumah Om Santoso, Beliau nanti jadi wakil tuan rumah yang akan memberikan kata sambutan buat keluarga kita untun para tamu yang datang. Terus kerumah Om Rizki dan Om taufik, mereka akan jadi penyambut tamu nanti." jawab Papa farhan yang sibuk memainkan Hpnya. Adam menurut, dan menyetir mobilnya sesuai arah yang dituju.
"Papa nelponin siapa sih? Sibuk terus." tegur Mama ana.
"Dion ini loh, daritadi ditelpon ngga angkat. Katanya belum kekantor dia ini. Bikin marah saja." omel Papa farhan.
__ADS_1
"Sabar, Pa. Dion itu belum terbiasa." ujar Adam.
"Belum terbiasa itu dibiasain, jangan didiemin gini. Tuman dia nanti. Nah, ini jadi. Hallo, Dion.... Dimana kamu belum berngkat kekantor?" omel Papa farhan.
"Lagi dijalan kekantorlah ini, sbentar lagi sampai kalau Papa ngge nelponi terus." jawab Dion yang kebetulan diloundspeaker oleh Papa. Papa farhan yang kesal lalu mematikan teleponya.
"Udah lah, Pa. Inget darah tingginya, kalau emosi terus bisa lebih parah nanti." ujar Mama ana dengan mengusap dada nya.
"Anak itu memang harus dikerasin."
"Iya, Pa... Adam kan sudah bilang begitu, persis seperti yang Lara bilang." sahut Adam.
"Lalu, bagaimana? Sudah terlanjur, biasakan saja. Dia akan lebih kuat nantinya, tak usah terlalu membelanya." jawab Papa farhan dengan nada datar.
__ADS_1
Lara dan Adam saling berpandangan, mereka akhirnya pasrah dengan keputusan Papa farhan mengenai Dion. Mereka tak mampu berkata-kata lagi, dan juga pendapat itu selalu bertentangan dengan keinginan Papa dan Mama.
Mereka akhirnya tiba ditempat yang dituju, sebuah rumah besar milik Adik laki-laki Papa farhan yang bernama Om santoso. Mereka sudah disambut disana dengan penuh senyum ramahnya.
Papa farhan terlebih dulu masuk, disusul Mama ana serta Adam dan Lara dibelakangnya. Berbasa basi sebentar dengan memperkenalkan Lara, lalu masuk ke acara inti, dimana Papa farhan dengaj terus terang meminta bantuan tenaga mereka dihari pernikahan kami yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
"Kok mendadak? Adam ngga pernah kelihatan pacaran loh." ujar Om santoso.
"Ngga pakai pacaran lah, Om. Suka, nyatain, langsung lamar. Untung aja diterima." jawab Adam
"Ya... Mana mungkin juga ada yang bisa menolak seorang Adam. Udah tampan, mapan, ngga perlu duragukan lagi. Lara pun cantik, pantas lah kalian berdua, udah klop. " puji Om santoso, yang sontak membuat air muka Lara tersipu malu karenanya.
"Om, bisa aja, Lara jadi malu. Lara juga beruntung dapat Mas adam, Lara kan cuma OB disana. Sempet ragu mau nerima, apa nolak. Tapi mungkin karena emang jodoh, ya terima aja." jawab Lara.
__ADS_1
"Jadi... Lara ngga cinta sama Mas?"
"Jangan ditanya lah Mas. Kalau ngga cinta, kenapa mau diajak nikah." jawab Lara, yang sontak membuat seisi rumah tertawa karena tingkah mereka.