Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Keceria'an Lara


__ADS_3

Berhari-hari, berminggu, bahkan berbulan bulan. Lara sudah mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. Teman baru disekolahnya pun ramah, dan mau membantunya mengejar pelajaran yang tertunda.


"Lara, hari ini nenek pulang malam. Jangan ditunggu, karna mau ngupas bawang di rumah makan." ucap Sang nenek padanya.


"Iya, nanti Lara jemput malamnya." jawab Lara, sembari membaca bukunya.


Nek Ratmi pergi, berjalan kaki seperti biasanya. Sesekali bertegur sapa dengan para tetangga disana. Nenek ratmi adalah orang yang ramah, menjadi panutan oleh warga karna kebaikanya. Hanya saja, anaknya Pertiwi sempat salah bergaul, hingga akhirnya Hamil diluar nikah, dan melahirkan Lara.


"Lara mana, Nek?" tanya Uni ema, pemilik rumah makan.


"Di tinggal dirumah, Ni. Mau belajar, katanya sebentar lagi ujian."


"Wah, coba aja dibawa kesini. Itu ada sisa kepala ikan kesuka'anya. Nanti dibungkus aja ya, Nek." ucap Uni ema.


"Iya, terimakasih. Akhirnya Lara makan ikan besok pagi." ucap Nek ratmi dengan senang hati.


Nek ratmi pergi kebelakang, dan memulai pekerja'anya. Bukan hanya piring dan gelas, tapi kuali besar, dandang dan lainya pun ikut Ia cuci, sebagai ucapan terimakasih pada Sang majikan.


"Hari ini ramai, Ni?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, Nek. Andai saja Lara ngga lagi ujian, pengenya dia ikut bantu. Lumayan, buat tambahan uang jajan."


"Iya, tapi untungnya dia anak yang pintar, nilainya selalu bagus. Seperti... Ibunya," lirih nek ratmi, ketika mengingat sang anak.


"Tiwi... Bener-bener ngga pernah pulang, nek? Sudah begitu nyaman sepeertinya dengan suami baru dan anaknya."


"Iya... Anak sambungnya ada Dua, lali-laki semua. Tapi yang satu, punya sakit jantung. Jadi, tiwi harus ekstra menjaganya." jawab Nek ratmi.


"Nek... Ma'af, anak nenek aneh. Anak sambung dijaganya sampai mati. Anak kandung dibuangnya hingga hampir mati kelaparan." ucap Uni ema.


"Sudah garis tangan saya, Ni. Do'akan saja, semoga Lara menjadi anak yang baik." jawab Nek ratmi.


Setelah menyelesaikan pekerja'anya, dibagian cuci piring, Nek ratmi berpindah kebagian mengupas bawang. Puluhan kilo bawang Ia kupas, kadang sampai menangis, atau bahakan jarinya teriris. Itu semua resiko dari pekerja'anya.


"Assalamualaikum," ucap Lara, yang datang menjemput Neneknya.


"Wa'alaikum salam. Lara jemput? Kenapa ngga langsung istirahat saja?"


"Diluar hujan, nenek susah jalan kalau kehujanan. Jadi Lara jemput. Masih lama, Nek?"

__ADS_1


"Tinggal ngupas bawang." jawab Nek ratmi.


"Lara datang? Makan dulu sayang. Ada kepala ikan itu, kesuka'an Lara" tawar Uni ema lagi.


"Bu, Lara bungkus aja, ya? Lumayan buat sarapan, sekalian kuahnya Lara banyakin." ucap Lara, laju menuju ruang makanan.


Lara lalu menghampiri Sang nenek untuk membantu mengupas bawang, hingga akhirnya semua pekerja'an terselesaikan dan pulang.


"Deras ujanya, Ra." ucap Sang nenek yang berjalan sambil kedinginan.


"Makanya Lara jemput. Kalau seperti ini, nenek ngga bisa lihat jalanan." ucap lara, yang langsung menggenggam lengan Neneknya erat, dan menuntunya pulang.


🥀🥀


Pagi harinya, Lara bersiap kesekolah, dan sarapan dengan gulai kepala ikan semalam, lebih tepatnya, nasi bercampur kuah yang diseruputnya dengan nikmat.


"Lara ngga makan ikanya?" tanya Nenek.


"Buat nenek aja. Lara takut keselek tulang. Lara berangkat dulu, Assalamualaikum." ucapnya dengan mencium tangan Sang nenek.

__ADS_1


Lara berjalan dengan ceria kesekolahnya, menatap masa depan yang baik diharapanya. Membahagiakan sang nenek, dan mencari Ibu kandungnya dikemudian hari. Cita-cita yang manis untuk anak seusianya.


__ADS_2