Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Perpisahan 1


__ADS_3

Sore yang cerah, matahari masih menyinari menjelang tenggelamnya diufuk barat.


Lara dengan peluhnya yang terus jatuh membasahi wajah, bersiap pulang dan mengistirahatkan tubuhnya yang begitu melelahkan hari ini. Lara berjalan sendirian, karna Mba asni sudah lebih dulu pulang setengah jam yang lalu.


Sementara itu, Dion yang sedari tadi mengajaknya berbicara, sudah menunggunya dirumah, tepat didepan pintu.


"Sejak kapan disini?" tanya Lara.


"Sejak tadi, udah setengah jam lebih. Kok, ngga bareng Mba asni?"


"Namanya anak baru, kerja'an tambahanya banyak. Aku mau mandi dulu, kamu tunggu disini." ucap Lara, dengan wajah lelahnya


"Ngga ngajak_...."


"Ngajak apa?" potong Lara, dengan mencubit telinga Dion.


"Sakit, Ra...."


Lara melepar jeweranya, lalu masuk dan mengunci pintu dari dalam.


Dion menunggunya ditempat, tanpa bergerak kemana-mana, hingga Lara menghampirinya.

__ADS_1


"Masuk...." ajaknya.


Mereka duduk bersama, dan Lara memberikan secangkir teh pada Dion. Dion lalu meminumnya pelan, menarik sebuah nafas panjang, seolah menahan suatu beban yang sulit untuk diutarakan.


"Mau ngomong apa?" tanya Lara, sembari menyisir rambut panjangnya.


"Hmm, Ra... Aku,"


Kata-kata Dion terpotong. Begitu berat Ia mengucapkan isi hatinya, hingga air matanya menetes.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Lara.


"Mama sama Papa, minta aku kuliah di Singapur." jawab Dion, dengan menundukan kepalanya, tanpa mampu menatap wajah Lara.


"Ra, kamu ngga papa aku tinggal?"


Lara menatap Dion kosong, seolah tahu, jika memang Dion akan meninggalkanya.


"Kamu tahu? Ditinggalkan seseorang, ketika mulai begitu menyayanginya, seolah menjadi bagian dalam hidupku. Ditinggal Ibu kandung ketika bayi, ditinggal Ayah dan Bunda setelah merayakan hari Ulang tahunku, dan Nenek yang meninggal ketika aku memberinya makan. Dan sekarang, kamu. Kamu juga akan meninggalkanku, apa aku harus menangis?" tanya Lara.


"Tidak, justru aku yang begitu ingin menangis sekarang." ucap Dion.

__ADS_1


"Jangan dihadapanku, aku benci melihat pria menangis. Pergilah, dan cari tempatmu agar bisa menangis dengan kencang. Jangan disini," ucap Lara, mengusir Dion.


Sebenarnya hati Lara pun begitu perih. Baru saja mereka mengatur rencana, agar bisa masuk kuliah bersama, dan belajar bersama lagi seperti dulu. Bahkan, khayalan Dion sudah jauh untuk bisa menikahi Lara dikemudian hari.


Dion keluar, disertai rintikan gerimis meskipun matahari masih bersinar terik. Ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, hingga tiba disebuah danau.


Dion menangis sejadi-jadinya sa'at ini, begitu juga Lara, yang menangis dikamarnya, melipat dan memeluk lutut dipojokan kamar.


"Kenapa terjadi lagi, kenapa aku kembali harus ditinggalkan, ketika harapanku mulai besar kepadanya. Tak bisa kah tinggal? Menemani aku disini? Aaaarrrrghhh!" Lara berteriak, mengagetkan Mba asni yang tepat disebelahnya.


"Ra... Lara kenapa?" tanya Mba asni yang datang dengan wajah cemas.


Mba asni memeluk Lara, dan menyandarkan kepala Lara dipundaknya.


"Sabar, Lara kenapa sampai nangis histeris begini?" tanyanya lagi.


"Dion... Dion mau pergi, jauh, dan begitu lama. Dia mau ninggalin Lara, Mba." tangis Lara.


"Ra, bukanya dari awal Mba bilang, jangan terlalu bawa perasa'an. Ingat, Dion siapa, Lara siapa. Bagaikan langit dan Bumi, Ra."


"Apa ngga bisa, ada sedikit saja harapan. Apakah semua harus dibedakan dari status?"

__ADS_1


"Ra, untuk sekarang ini, memang iya. Status kita masih begitu dibawah mereka. Kita harus sadar diri, dan jangan pernah berharap lebih. Sakit Ra, sakit rasanya ditinggalkan ketika mulai begitu berharap." ucap Mba asni.


Memang benar ucapanya, karna itu yang dirasakan Lara sekarang. Perih, dan begitu sakit rasanya. Ia sudah terlanjur nyaman bersama Dion, bahkan mungkin mencintainya. Dan itu, adalah perasa'an cinta yang pertama kali tumbuh dalam hati Lara, untuk seorang Pria dewasa, yang diharap Lara akan bisa mengubah hidupnya menjadi penuh warna.


__ADS_2