Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
JANJI Dion


__ADS_3

Sementara itu, Dion yang masih merenung dipinggiran danau, merasa menjadi Pria tak berguna, ketika tak bisa mempertahankan keinginannya, dan harus tetap hidup dalam dunia penuh aturan yang Ia benci selama ini


Ia merasa tak pernah bisa bebas memilih dalam hidupnya, harus terus diatur, bahkan untuk mengatur perasa'anya sendiri.


"Baiklah, hanya Tiga tahun. Tiga tahun aku akan bertahan berjauhan dengan Lara. Tiga tahun, tak boleh lebih. Bahkan, jika bisa hanya Dua tahun, aku harus kembali menjemput Lara, dan menjadikanya milikku." ucap Dion, menguatkan hatinya.


Dion berdiri, mengusap air matanya, lalu menegapkan tubuhnya.


"LARA.....! Aku janji, aku akan cepet lulus dari kuliah, dan segera akan ngelamar kamu. Aku cuma mau kamu, Ra. Bukan yang lain.!" teriak Dion.


Setelah itu, Ia kembali kerumah, dan mulai berkemas untuk pergi Lusa.


"Setidaknya, masih ada waktu sehari untuk Lara. Aku akan memberinya kenangan terindah, agar Lara semakin semangat menungguku."


"Cieee, yang mau kuliah diluar negri. Semangat bener," goda Mas adam pada Dion.


"Sebenrnya ngga mau. Tapi, ambil aja sisi positifnya. Semoga, setelah kuliah lulus, bisa langsung ngelamar puja'an hati." jawab Dion.


Kak adam mendekatinya, menepuk bahunya.


"Siapa sih, wanita puja'anmu itu? Penasaran," tanya Kak adam.

__ADS_1


"Ish, kepo... Ada lah, nanti ku kasih tahu, disamber lagi."


"Mana ada.... Kakak juga ada inceran, nih. Tapi, ah lihat besok aja deh, semoga aja jodoh."


"Heh? Siapa Kak? Jangan asal cari jodoh. Ingat, Kaka itu anak emasnya Mama. Kalau jodoh untuk Kaka itu, pastinya harus sempurna, setidaknya sedrejad dengan keluarga kita." ujar Dion.


"Hmmm, Benarkah? Bagaimana jika berbeda jauh, apa Mama masih bisa melarang?"


"Ya, ngga tahu. Pandai-pandailah calonmu itu merayu hati Mama. Demi kamu Kak adam, apa yang tidak Mama lakukan." bisik Dion padanya.


Kak adam hanya diam, tersenyum sendirian, entah membayangkan apa, dan memikirkan siapa dalam hatinya sekarang. Pembicara'an mereka terhenti, tatkala Sang mama memanggil, untuk memberi obat rutin pada Adam. Lalu Kak adam kembali kekamarnya untuk beristirahat.


*


"Kenapa jemput?" tanya Lara.


"Ngga boleh?"


"Dion, aku cuma ngga mau, nanti ada gosip macam-macam. Kan udah ku bilang kemarin, jangan terlalu deket. Bahakan jangan sampai ada yang tahu, kalau kita saling kenal." pinta Lara.


"Kenapa sih, Ra. Begitu amat sama aku?" 

__ADS_1


"Dion... Meskipun memang benar, jika kamu yang memasukan aku ke perusaha'an, aku ngga mau, kalau nanti orang lain mengecap aneh dalam hubungan kita."


"Apalagi? Aku memang cinta kamu. Apa salahnya?"


Ucapan Dion membuat hati Lara tersentak, lalu berdegup begitu kencang. Perasa'an Lara bersambut. Ia bahagia, namun tidak untuk sekarang. Belum waktunya untuk cinta bagi Lara.


"Dion, jangan bilang cinta dulu sekarang. fokuskan dulu ke masa depan kita. Kuliah, bekerja, dan bahagiakan orang tuamu. Setelah itu, barulah memikirkan jodoh antara kita."


Jawab Lara, lalu pergi meninggalkan Dion, yang masih diam seribu bahasa.


"Pasti, pasti akan ku lakukan semua yang kamu pinta. Setelah itu, aku akan menjemputmu." ucap Dion, sekali lagi dengan penuh harap.


Dion kembali kerumahnya, menyiapkan semua keperluan untuk kepergianya ke Australy, seperti Visa, pasport, dan semua perlengkapan bersama Sang mama.


"Kamu, disana tinggal masuk. Semua sudah siap." 


"Siap membuangku jauh?" tanya Dion.


"Ngga usah berfikiran macan-macam lagi. Ini semua demi kebaikanmu, kuliah yang baik, lulus dengan memuaskan, jalankan perusaha'an Papa dengan baik bersama Kak adam."


"Setelah itu, apakah aku bisa bebas menentukan hidupku selanjutnya? Aku sudah menuruti semua keinginan kalian, aku juga butuh imbalan untuk itu."

__ADS_1


"Terserah, tapi laksanakan dulu kewajibanmu, baru kamu berhak meminta Hak mu." ucap Sang mama, dengan nada tegasnya.


__ADS_2