
Mereka saling berpandangan dalam waktu yang lama, mata bertemu mata. Lara merasa degup jantung nya sedikit lebih kencang, hingga membuat nafasnya sesak.
Lara mengalihkan perhatian itu, lalu menepuk-nepuk dadanya, dengan menggerutu.
"Yaelah, ini kenapa lagi. Dasar aneh, cuma gara-gara disela cowok tengil aja langsung sedih." gumamnya.
"Kenapa? Jatuh cinta?" tanya Dion.
"Hah? Apa itu jatuh cinta?"
Dion terbelalak mendengar kata-kata Lara barusan, antara bodoh atau benar-benar lugu. Karna mustahil, wanita seusia itu, belum mengenal jatuh cinta sama sekali.
Ia tersenyum sembari memandangi Lara yang masih saja menepuk dadanya, dan mengatur nafas agar stabil.
"Loe... Darimana?" tanya Dion.
"Ngga darimana-mana,"
"Tinggalnya,"
"Owh... Saya tinggal numpang disebuah Rumah makan. Lumayan, daripada ngekos." jawab Lara, dengan begitu jujur.
"Hah? Ngga punya orang tua?" tanya Dion lagi.
"Kalau saya punya orang tua, apakah saya akan berada disini, ketika mereka merayakan hari Ibu?"
__ADS_1
"Owh... Ma'af," jawab Dion, dengan wajah menyesal.
"Kamu sendiri kenapa disini? Ngga punya orang tua juga?" tanya Lara.
"Eng... Engga. Gue punya orang tua, lengkap malah. Tapi, Mami gue lagi sibuk ngurusin Kakak gue, yang sakit."
"Owh... Anak terbuang ceritanya." ledek Lara.
"Eh... Jangan sembarangan ngomong Loe,"
"Terus, apa namanya? Anak tersisih?"
"Aish... Baru aja mulai akrab, udah mulai ngeselin."
"Ngga ngapa-ngapain loh, Pak." jawab Lara.
"Mencurigakan kalian. Ayo, keluar. Harus dapat hukuman sepertinya."
Dengan berat, Lara dan Dion mengikuti Satpam tersebut, dan meneriman hukuman darinya.
"Masa ngepel kamar mandi, Pak. Yang bener aja." ucap Dion.
Lara hanya diam dengan kekesalanya, lalu mau tak mau harus menerima hukuman itu. Diambilnya alat pel dan mulai mengerjakan tugasnya mengepel seluruh kamar mandi disekolah itu.
"Hey... Psssst... Lincah bener bersih-bersihnya," goda Dion.
__ADS_1
Lara hanya menarik nafas, dan berusaha tak menghiraukanya, tapi Dion selalu mengganggunya.
"Hey, anak baru. Kita dihukum sama-sama, harusnya ngerjain sama-sama. Jangan cuma nongkrong gitu. Saya laporin lagi kamu nanti." ancam Lara.
Pekerja'an selesai, dengan Dion yang masih diam ditempatnya tanpa mau menyentuh pekerja'anya.
"Nih...." ucap Dion, Sambil memberikan selembar uang biru padanya.
"Maksudnya, apa?" tanya Lara.
"Ya, Loe kan udah ngerjain semuanya, jadi ini ucapan terimakasih dari Gue. Terima ajalah. Lumayan, buat nambah uang jajan." balas Dion.
Lara untuk kesekian kalinya menghrla nafas panjang, melihat kelakuan Dion, lalu menerima uang itu.
"Terimakasih, Pangeran yang tersisih. Dengan membantu rakyat jelata seperti hamba, semoga saja Sang takdir akan memeperbaiki nasib anda menjadi lebih baik lagi." ucap Lara padanya, lalu menyimpan alat pel kembali digudang.
"Eh... Maksud Loe apa? Ngeledek Gue?"
"Lah... Emang kenyata'anya gitu. Punya orang tua kaya, tapi hadir kesekolah aja ngga mau. Mending saya, bener-bener ngga punya. Jadi, ngga harus meratapi nasib."
"Eh, cewek matre. Loe udah Gue kasih duit, masih juga ngebully gue."
"Ma'af, saya bukan matre. Saya sudah mendapat upah, seusai saya melakukan pekerja'an, dan itu semua saya rasa sesuai." balas Lara pada Dion yang menatapnya dengan wajah kesal.
Lara kemudian kembali kekelas, yang ternyata sudah membubarkan acara mereka. Kini yang ada hanyalah ruangan kosong yang begitu sepi, namun begitu disukai oleh Lara. Karna Ia bisa menikmati kesepian itu sendiri.
__ADS_1