Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Kenyata'an tentang Lara


__ADS_3

Tantangan dimulai, Lara mulai mendekati Dion, dan memancingnya untuk mau belajar. Meski sedikit sulit karna watak Dion yang keras.


Beberapa hari, Lara gagal menggapai misinya. Ia kecewa dengan dirinya sendiri, dan enggan mendekati Dion lagi.


"Ra... Kenapa sih, baru aja deket, udah menjauh lagi." tanya Dion.


"Ma'af, aku cuma pengen kedekatan kita berpengaruh positif terhadap sekolah. Waktu ku ngga ada buat bermain-main, Dion. Hanya sebentat saja membayangkan indahnya bermain, lalu sirna karna banyaknya tuntutan dalam hidup."


"Lebay.... Seberat apa hidup Loe? Gue lihat loe nyantai-nyantai aja. Jam istirahat tidur dikelas."


"Itu karna aku kurang tidur damalam hari. Tahukah kamu, aku bangujg di pukul Tiga pagi, dan mulai bekerja sa'at itu."


"Bohong! Beban hidup loe ngga sebera itu. Nyatanya loe ceria aja disekolah."


"Aku hanya ngga ingin terlalu fokus pada masalah hidup Dion. Nanti, mampir ya ke Rumah Makan diujung jalan sana. Disana tempat tinggalku, disana tempat kerjaku. Tempat belajar, bermain, dan semuanya disana. Itu bukan milik orang tuaku, bukan. Aku hanya menumpang disana, itupun direkomendasikan oleh Bos pertamaku. Agar aku tak perlu repot mencari tempat tinggal dan harus membayarnya. "ujar Lara.


Dion hanya menatapnya bingung, bingung dengan kebenaran kata yang diucapkan Lara barusan. Seolah tak ingin percaya, namun Lara pun tak menunjukan kebohongan sedikitpun. Wajahnya begitu serius, dengan tatapan dalamnya yang selalu bisa menggetarkan hati Dion.

__ADS_1


Lara berlalu tanpa menghiraukanya lagi, mengendarai sepeda tuanya. Berlalu pergi tanpa mau menengok kebelakang, dengan Dion yang masih menatapnya kosong.


Sorenya, Dion memenuhi undangan Lara untuk datang ke Rumah makan itu. Tapi, kali ini Dion menyamar sebagai pembeli.


Ia datang dengan jaket dan topi yang serba hitam, masuk dan mengambil makananya, serta makan dibangku paling belakang.


"Mana Lara? Apa dia bohong? Aslinta dia sedang duduk santai dikamar, dan mentertawaiku." batin Dion.


Tak lama kemudian, Ia melihat seorang gadis membawa se'ember besar piring yang baru saja dicuci, serta menyusunya di rak depan. Dengan wajah lusuh, rambut di'ikat seadanya, terlihat pula tanganya yang pucat berkerut karna kedinginan.


"Benarkah dia bekerja disini, karna jika Ia anak dari pemilik Rumah makan, tak akan mungkin Ia seperti itu." Batin Dion bertanya-tanya.


"Ra... Kalau mau makan, tadi Uni simpankan kepala ikan. Masih banyak dagingnya." ucap Uni evi.


"Iya, ini udah selesai. Lara makan dulu, ya." jawabnya, lalu kembali. Kebelakag.


"Kepala ikan? Lara makan sisa lauk? Astaga." gumam Dion lagi.

__ADS_1


Lara dibelakang, mulai menyantap makananya dengan nikmat. Tanpa sadar, seseorang sedang memperhatikan tingkahnya dengan derai air mata.


"Ra...." tegur Dion, yang masih dalam penyamaran.


"Iya, Ma'af Mas siapa? Kalau may kekamar mandi belok kanan." jawab Lara.


Dion menundukan kepalanya, lalu perlahan membuka topi dan jaketnya. Lara terkejut buka main, seakan inginĀ  langsung berlari kabur keatas, namun dicegaj Dion.


"Ra... Bukanya, loe yang ngundang gue kesini, kenapa kabur?" tanya Dion, menahan tangisnya.


"Aku... Aku malu, kamu lihat aku lagi makan, makanan sisa. Tapi itu bukan sisa kok, itu cuma udah nggakejual, dan Uni masak masakan baru." ujar Lara, membela diri.


"Beginikah kehidupan loe selama ini? Menderita seperti ini?" tanya Dion lagi.


"Ah... Engga, aku ngga menderita seperti yang kamu fikirkan. Aku sudah menikmati hidup seperti ini bertahun-tahun. Sudah terbiasa." jawab Lara, dengan mengembangkan senyumnya pada Dion.


Dion menarik tangan Lara, lalu memeluknya erat, erat sekali, hingga membuat Lara sulit bernafas.

__ADS_1


__ADS_2