Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Menelusuri


__ADS_3

Lara begitu syok, hati, jiwanya begitu sakit dan terguncang. Ia telah menemukan Ibu yang selama ini Ia cari, namun Ibunya itu ternyata adalah Ibu dari Dion, pria yang begitu Ia cintai.


"Bagaimana ini, bagaimana denganku. Aku ingin bersamanya, tapi apa aku bisa, jika ternyata ibunya adalah Ibuku?" gumam Lara.


Lara berfikir semalaman sambil melamun. Ia tak dapat memejamkan matanya sedetikpun, namun Ia pun enggan mengangkat telepon dari Dion, meskipun Ia begitu merindukanya.


Lara berfikir keras tentang Ibunya, tentang semua yang ada disekitarnya yang mungkin saling berkaitan.


"Jika Dia ibuku, Pak johan adalah supir dan asistenya, dan dia menikahi orang kaya. Kenapa Ia membiarkanku dikampung bersama nenek, dan bahkan tak pernah menjenguk kami. Dan ayah, kenapa setelah ayah meninggal, ia langsung bisa dikuburkan tanpa dipulangkan kerumah? Dan paginya, Pak johan langsung menjemputku. Apa ini semua rencananya? Apa memang dia sedari awal ingin membuangku, seperti yang dikatakan Uni ema, bahwa sebenarnya aku ini adalah anak haram?" fikir Lara.


Uni ema memang pernah bercerita, jika Lara adalah anak yang tak di inginkan ketika itu. Sang ibu hamil diluar nikah karena sebuah kesalahan, dan ayah nya merelakan diri untuk bertanggung jawab. Setelah menikah, kehidupan merekapun penuh dengan keprihatinan, kemiskinan dan kekurangan. Hingga Lara lahir, dan Ibunya memberinya nama LARA SALSABILA. Lara adalah panggilanya, yang mrngandung makna kesengsara'an mereka waktu itu.


"Jahat, kamu jahat. Kenapa harus memperlakukanku seperti ini. Sekarang kamu bahagia? Bahagia diatas kesengsara'anku. Dan apakah, bahkan kamu mengingat jika memilikiku?" gerutu Lara, sendirian. Dipojokan kamar dengan suasana remang yang nyaris gelap. Segelap hatinya ketika mengetahui semua kenyata'an yang baru saja Ia dapatkan.


*

__ADS_1


Pagi hari tiba, Lara terbangun meskipun masih begitu berat untuk membuka mata. Namun sesuatu memaksanya berdiri, dan lebih bersemangat menjalani hidupnya.


"Mba, hari ini Lara libur, ya? Tolong Izinin ke Bu nora." ucap Lara pada Mba asni.


"Mau kemana?"


"Ke Rumah Sakit, hari ini Pak adam pulang. Semalem suruh nemenin katanya."


"Wah... Okelah, salam sama Beliau ya."


"Iya," ucap Lara, lalu pergi dengan dandanan rapi, berjalan menghadapi sebuah pertanya'an besar dibenaknya.


Lara menaiki motornya hingga sampai di Rumah Sakit. Dengan perlahan Ia mendatangi kamar adam, dan menyapanya dengan ramah.


"Selamat pagi," ucap Lara.

__ADS_1


"Pagi.... Eh, Lara dateng. Kejutan banget lihat kamu pagi ini, dengan dandanan yang berbeda. Kamu cantik," puji adam padanya.


"Terimakasih.... Saya ngga tenang, ngga bisa tidur semalem mikirin Bapak, makanya pagi-pagi kesini. Nyonya mana?" tanya Lara, melihat sekeliling.


"Mama keluar sebentar, ada keperluan. Kamu duduk aja, sebentar lagi pemeriksa'an dokter. Setelah itu, mungkin saya pulang." ucap Adam.


Lara menurut. Ia duduk disofa ruangan VVIP itu dengan membaca buku. Hatinya menunggu Nyonya Ana untuk datang, dan Ia bisa mengobrol bersama, hingga wajahnya berubah ceria, setelah semua inginnya terwujud. Nyonya Ana datang, dan langsung menatapnya dengan begitu dingin, seolah menemukan sesuatu yang paling tak Ia sukai dimuka bumi ini.


"Kenapa kesini lagi?"


"Ngga papa, cuma pengen jenguk aja. Ngga boleh?" tanya Lara, dengan sedikit berbisik.


"Apa gunanya? Kamu bukan siapa-siapa bagi kami."


"Hmmm, memang. Hanya ingin bersikap ramah saja." jawab Lara, memberikan senyumnya.

__ADS_1


"Nyonya, kenapa Nyonya begitu cantik, diusia sekarang ini, apa resepnya? Andai saja anda punya anak perempuan, pasti akan begitu cantik seperti anda. Benar bukan?" tanya Lara lagi.


"Andai saja saya punya anak perempuan. Tapi sayangnya tidak, bahkan saya tidak ingin memilikinya seumur hidup saya." jawabnya, yang sungguh membuat hati Lara begitu sakit dan perih tak tertahan.


__ADS_2