
"Kau bahagia bersamanya?" tanya Lara pada Dewi.
"Kenapa? Aku bahagia, bahkan sangat bahagia bisa selalu ada di sampingnya. Apalagi, jika kami secepatnya dikaruniai momongan. Pasti akan semakin bahagia." jawab Dewi.
Lara menatap Dewi dengan penuh tanya saat itu. Kenapa hingga sekarang, Dewi tak kunjung hamil. Padahal hanya dengan sekali melakukannya, Dion bahkan bisa menghamili Lara.
"Mereka sebenarnya berhubungan atau tidak?" gumam Lara dalam hati. Fikirannya semakin melayang jauh, terhadap sesuatu yang tak sepatutnya Ia fikirkan.
"Lara, kau diminta Mama agar cepat pulang." ucap Dion padanya.
"Apa, ada taxi disekitar sini?" tanya Lara, berusaha agar dapat tinggal lebih lama disana.
"Aku carikan taxi online saja." jawab Dion, tapi dicegah oleh Dewi.
"Antar saja Mas, sebentar. Mumpung masih sepi bengkelnya."
"Ta- tapi...."
"Udah, ngga papa. Nanti kalau ada orang, biar aku suruh tunggu sebentar." bujuk Dewi padanya.
__ADS_1
Akhirnya, meski dengan helaan nafas panjang, Dion bersedia menuruti maunya Dewi untuk mengantarkan Lara. Lara pun tersenyum bahagia, entah apa yang Ia fikirkan.
Setelah merapikan pakaian, Dion pun memanaskan mobilnya yang tersimpan di garasi. Tak mungkin Ia membawa Lara dengan motornya karena sedang hamil nesar. Terlebih lagi, begitu banyak kenangan mereka dengan motor itu. Sempat ingin menjualnya, tapi hati kecilnya melarang keras untuk hal itu.
Sepanjang jalan Dion hanya diam, tak mau menegur Lara yang duduk disebelahnya.
"Dion..." panggil Lara.
"Hmmm?"
"Kenapa Dewi tak kunjung hamil? Sedangkan, kau bersamaku....."
"Tapi ada, dan kenyataannya ada. Dia disini, ditengah kita."
Dion mengerem mobilnya mendadak, membuat Lara sedikit terbentur dibagian keningnya, dan perutnya sedikit keram.
Dion benar-benar merasa emosi kali ini terhadap semua tingkahnya. Amarah seolah tak terkendali lagi dalam lubuk hatinya terdalam.
"Sudah aku bilang, jangan pernah ucapkan, dan bahkan jangan pernah diingatkan. Kenapa kau begitu keras kepala!" bentak Dion padanya.
__ADS_1
Dion menarik lengan Lara, dan mengarahkan pandangan Lara tepat dimatanya. Menatapnya dan lagi-lagi dengan penuh emosi.
"Aku serius dengan ucapanku, Lara. Aku bisa saja pergi lebih jauh dari ini, bahkan hingga kau tak akan pernah bisa melihatku lagi."
"Dion... Tapi kau tak bisa mengelak, Dion. Dia hanya butuh pengakuanmu saja."
"Dan setelah mengakuinya, kau mau apa? Kau mau keluarga besar hancur? Kau berharap aku kembali padamu dan bertanggung jawab atas anak itu? Kau gila!"
"Aku memang gila, aku benar-benar gila sekarang.... Aku gila karena semua takdir gila yang menyakitkan ini! A-aku.... Aaarghhh!" pekik Lara dalam mobil itu, seolah lepas kontrol.
"Diamlah, kenapa kau berteriak! Hentikan atau?"
"Atau apa? Kau mau mengeluarkanku dari mobil ini? Kau ingin membuangku ke jalanan seperti Ibuku? Lakukan! Lakukan Dion,"
Dion akhirnya benar-benar nekat. Ia begitu jengah dengan Lara yang semakin tak terkendali saat ini. Ia keluar dari mobil, lalu menyeret paksa Lara keluar dari mobilnya.
"Turun kau, turun! Biar ku carikan taxi untukmu. Akuh malas berurusan denganmu lagi, sekecil apapun itu."
Lara benar-benar turun sekarang. Dion pun mulai sibuk memcarikan taxi untuk Lara pulang. Lara kini bersender di badan mobil Dion, kepanasan, dan hatinya kacau. Hingga sesuatuh mengalir melalui kakinya.
__ADS_1
"Dion...." panggil Lara, ketika melihat cairan putih itu mengalir dengn sedikit darah yang turun semakin deras..