Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Perhatian Mama ana


__ADS_3

Kelang Satu dari lamaran pada Dewi dikantor, saat ini dirumah Mama ana akan diadakan acara peresmian, untuk pertunangan mereka. Dewi yang memintanya, karena ia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu dalam waktu beberapa  bulan lagi. 


"kenapa ngga langsung aja, Wi? Kalau kayak gini kasihan Dion nunggu." ujar Mama ana yang sedang sibuk mempersiapkan semua undangan.


"Sebentar lagi kok, Bu. Dewi ngga mau kalau konsentrasinya terbagi. Nanti, malah ngga fokus ngurus suami." jawab Dewi yang ikut membantu mengurus undangan-nya.


"Maksudnya, takut kamu kelamaan, Mama udah repot ngurusin Lara yang hamil besar. Dia juga orangnya ngga bisa diem bantu-bantu. Malah kenapa-napa lagi." balas Mama ana.


"Iya, siapa tahu, nanti Dewi berubah fikiran." tukasnya.


Saat ini Lara dan Adam sedang memeriksakan kandungan Lara yang sudah menginjak Dua bulan. Adam semaki protektif, bukan hanya makanan, namun juga pekerjaan Lara. Begitu juga Mama ana, yang begitu perhatian menjaga calon cucunya.


"Assalamualaikum...." Lara dan Adam masuk kerumah bersama-sama.

__ADS_1


"Waalaikum salam... Mba Lara udah pulang, gimana chek upnya?" tanya Dewi dengan ramah.


"Alhamdulillah sehat semua, Wi. Lagi ngelipet undangan?" Basa basi Lara.


"Iya, ini aja sambil diomelin Mama karena minta tunangan dulu, dan ngga langsung nikah." Dewi melirik Mama ana dan menyunggingkan senyumnya.


"Ngegibah mertua didepan orangnya, ngga sopan." Mama ana menimpali.


"Kekamar dulu, ya, Pinggang agak sakit." pamit Lara pada semua.


Lara menatap foto bayinya yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Tersenyum penuh haru, namun sesekali menatapnya dengan kebencian. Lara sendiri tak tahu apa yang sebenarnya Ia raskan. Semua terasa gamang. Ia merasa tak fokus lagi dengan Sang ibu, melainkan berencana untuk menggagalkan pernikahan Dion dan Dewi.


"Mana yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus ku perbuat? Kenapa semua jadi begini, kenapa aku semakin menderita bukanya malah bahagia? Aku tertekan, hatiku sakit." tangisnya sendirian dengan meringkuk disebelah tempat tidurnya.

__ADS_1


"Lara....." Mama ana mengetuk pintu dan memanggil, dan Ia langsung berdiri dan mengusap air matanya dan mengembalikan senyum palsunya.


"Iya, Ma. Kenapa?" tana Lara yang keluar menghampiri Mama ana.


"Ini susu kamu, segera habiskan, baru istirahat." Mama ana memberikan segelas susu pada Lara, meskipun Lara sudah berklai-kali bilang kalau Ia tak suka, dan tak ingin meminum susu apapun sekarang. Tapi sesringna Lara menolak, Mama ana akan lebih sering membuatkan-nya susu, dan selalu bercerita tentang kesulitan masa lalu sahabatnya.


"Ingat, diminum susunya. Teman mama dulu jangan kan mau minum susu mahal. cuma pengen makanan murah sama makan ayam goreng aja ngga sanggup." Selalu itu yang diucapkan mama ana ketika itu.


Akhirnya, dengan terpaksa Lara menerimanya, karena menghormati perhatian itu. Tapi, selepas Mama ana pergi, Lara membuang susu itu dicloset kamar mandinya.


"Udah dibilang ngga suka, masih dibuatin. Alergiku tak difikirnya ternyata, perhatian tapi perlahan menyiksa." gerutu Lara, setelah membuang susu itu.


Setelah mengetahui kehamilan Lara waktu itu, Mama mirna memang semakin sayang, namun juga semakin aneh, karena selalu meminta Lara untuk memakan makanan yang Ia buat meskipun Lara tak menyukainya. Namun, selalu alasan yang sama yang Ia berikan untuk membujuk Lara. Lara sempat mengutarakan kekesalan-nya pada Adam, namun Adam hanya bilang agar Lara lebih sabar karena Mama hanya ingin yang terbaik untuk Sang cucu hingga akhirnya Lara diam dan pasrah.

__ADS_1


"Seolah-olah, aku dijadikan pelampiasan atas ketidakmampuan-nya ketika itu." gumam Lara dengan hatinya yang kesal.


__ADS_2