
Lara mulai memejamkan matanya, namun masih terdengar jelas ketika suara langkah kaki melewati kamarnya saat itu.
"Dion?" Ia membuka matanya, lalu dengan cepet keluar kamar.
Benar saja, Dion sedang menuju kamarnya. Lara langsung menghampiri dan perlahan memanggilnya.
"Dion." lirihnya.
"Ya, kenapa belum tidur?" tanya Dion.
"Boleh aku minta sesuatu? Aku mohon." ucap Lara.
"Apa?" Dion menatap Lara penuh tanya.
Lara mengambil tangan kanan Dion, lalu menempelkan diperutnya yang sudah mulai membesar.
"Apa-apaan kamu?"
__ADS_1
"Sssssst... Diamlah, sebentar saja. Mas Adam sedang pergi, belailah anakmu sebentar." bisik Lara, sembari tersenyum dengan sentuhan dari tangan Dion.
"Kalian kenapa?" tanya Dewi yang melihat mereka. Dion langsung melepas tangan Lara, sedang Lara bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun.
"Wi, Maaf. Biasanya dedek bayinya di elus Mas adam dulu sebelum tidur. Jadi, karena Mas adam ngga ada, Aku pinjam tangan Dion sebentar." Lara beralasan.
"Owh, seperti itu. Tapi, sepertinya Mas Dion kurang nyaman." ucap Dewi yang menatap kaearah Dion.
"Iya, kaget aja. Entah, kalau nanti ngelus perut kamu Wi, yang disana sudah ada anak kita. Secepatnya ya, kita punya anak, jangan ditunda." Dion memggoda Dewi, dan membuat gadis itu tersipu malu. Tapi, membuat Lara semakin terasa sakit dihatinya.
Lara membalik tubuhnya dengan kasar, lalu masuk kekamar dengan menutup pintunya kencang. Dioj dan Dewi hanya saling pandang dengan tingkah itu.
Waktu sarapan tiba. Dewi sudah mempersiapkan semua dimeja makan dengan rapi, tinggal menunggu Lara dan Dion turun kebawah.
"Panggil Dion, Wi." pinta Mama ana dengan lembut.
Dewi meng'iyakan, lalu berjalan keatas. Namun ternyata mereka sudah melangkah turun bersama.
__ADS_1
"Mas, baru mau Dewi panggil." senyumnya pada Dion, yang menjadi bahan lirikan Lara.
Dion dan Lara duduk berhadapan, sedangnkan Dewi disebalah Dion dan melayaninya dengan baik. Sedang mama ana melayani menantu kesayangan-nya itu dengan tak kalah baiknya.
"Ma, Lara udah bilang, Lara ngga suka makanan ini. Tolong jangan betikan lagi." ucap Lara, dengan menyingkirkan sayuran yang paling Ia benci.
"Makan Lara! Kamu ngga bersyukur. Kamu hamil tapi bisa makan enak, semua serba ada. Kenapa selalu menolak?" Mama ana mulai memarahi Lara atas tingkahnya.
Lara menatap Mama ana nanar, matanya mulai berkaca-kaca. Orang yang biasanya begitu memanjakan-nya, kini berubah menjadi orang yang selalu memaksakan kehendak padanya
"Ma... Lara ngga suka, tiap makan itu Lara muntah. Muntah sampai habis dan perih hingga ke ulu hati." jawab Lara pelan.
"Itu bisa diobati. Sedia obat dan vitamin dalam kamar, jangan apa-apa manja. Kamu disini terlalu dimanja, jadi banyak mintanya. Sahabat Mama, dulu hamil pun masih bekerja kesras hingga menangis karena pinggangnya sakit." omel Mama ana lagi, sedangkan Dewi dan Dion hanya saling tatap melihat perdebatan mereka.
"Ma... Sudahlah, jangan siksa Lara seperti itu. Dia ngga suka, namanya orang hamil, kalau ngga suka pasti ngga mau. Jangan buat Lara tertekan batin-nya."lerai Dion.
"Dion, apa kamu tahu rasanya? Tentu tidak, karena kamu seorang laki-laki. Pengalaman itu begitu perih, hingga menyisakan trauma mendalam."
__ADS_1
"Pengalaman siapa? Pengalaman Mama? Lalu kemana anak Mama sekarang?" hardik Lara, yang membuat Mama ana terdiam membisu seketika.