Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Buang Dion, demi Adam


__ADS_3

"Wa'alaikum salam... Johan, kamu sudah pulanh dari luar kota." ucap Papa Farhan.


"Iya, sudah... Dan saya langsung kemari untuk sebuah laporan." ucap Pak johan, yang berdiri tepat disebelah Papa farhan.


Lara diam, sembari mencuri pandang pada sosok itu, yang sebenarnya sosok yang lebih Ia takuti dari Ibunya, Mama ana.


"Lara... Kenapa disini?" tanya Pak johan, yang belum mengetahui lamaran Adam.


"Saya.... Ehmmm. _"


"Kami, sebentar lagi akan menikah, Pak johan. Saya sudah melamar Lara." potong Adam.


"Owh.... Tidak apa, dengan statusnya? OB, dan yatim piatu?" tanya Pak johan.


"Tidak usah membahas itu disini, Johan. Ayo makan, saya tahu kamu lapar sekarang" tegur Mama ana.


Pak johan tak banyak bicara lagi, Ia menuruti apa kata Mama ana, dan bergabung untuk makan siang bersama meraka.


"Lara... Apa nama panjang kamu?" tanya Pak johan.

__ADS_1


"Lara.... Lara Salsabila, Pak. Kenapa?" jawab Lara, gugup.


"Hhh... Saya seperti pernah mengenal seorang anak dengan nama itu. Tapi... Anak itu menghilang, dan tak tahu lagi kabarnya." ucap Pak johan.


"Hah.... Mungkin, mirip saja namanya, Pak. Nama itu, kan pasaran." jawab Lara, berusaha tenang dengan semua yang Ia rasakan.


"Mungkinlah. Oh iya, selamat bergabung dengan keluarga ini. Kamu bersyukur, mendapat keluarha baru, yang tak akan melihat masa lalu kamu seperti apa. Mereka orangnya baik, dan tak memandang orang dari status sosial."


"Iya, Pak." jawab Lara.


Pak johan kembali menikmati makananya dengan santai, dan membuat perasa'an Lara sedikit lega karena setidaknya Ia tak begitu faham dengan Lara kecil yang Ia buang dahulu. Lara pun begitu, menalnjutkan makan siangnya, dengan tenang, dan mengumbar kemesra'an dengan Adam dihadapan mereka semua. Seolah dunia hanya milik berdua.


"Adam mau berangkat kekantor. Rapi'in jas sama dasinya, belajar jadi istri bos yang baik." perintah Mama ana padanya.


"Iya, Ma..." ucap Lara, lalu mengelap tanganya dan pergi kedepan.


Sesuai perintah Mama ana, Lara merapikan Jas dan dasinya. Lalu, meletakan sebuah bunga mawar disaku jas Adam.


"Eh, jangan metik yang itu. Itu bunga kesayangan Mama." tegur Adam, dengan senyumnya.

__ADS_1


"Mama ngga akan marah, kan calon menantunya yang ambil." colek Lara didagu Adam.


"Awas loh, Mas ngga tanggung jawab jika Mama marah." balas Adam, dengan mengecup kening Lara.


Adam menaiki mobilnya, bersama Ayah, dan pak johan yang menyetir. Lalu, setelah melambaikan tangannya, Lara kembali masuk kerumah untuk membereskan pekerja'anya.


"Loh... Kok Mama yang nyuci, biar Lara aja." ucap Lara.


"Ngga papa, Lara ngerjain yang lain aja, ya. Mama udah terlanjur basah." ucap Mama ana.


Lara mengangguk, lalu mengambil lap dan mengelap meja makan. Dibantu Mba dewi, Lara lalu melanjutkan untuk membersihkan rumah besar itu.


"Lara..." panggil Mama ana pada Lara yang sedang duduk ditangga.


"Iya, Ma. Kenapa?" tanya Lara.


"Mama ingat, ketika kamu pernah bicara jika kamu begitu dekat dengan Dion. Masihkah?" tanya Mama ana, yang sontak membuat Lara gugup.


"Aduh, sempat keceplosan aku kemarin. Masih ingat saja Mama dengan omonganku. Iya, Ma. Memang sempat dekat, tapi sekarang engga. Bahkan, Nomor Hpnya saja ngga punya." ucap Lara.

__ADS_1


"Bagus... Meskipun masih ada nomor hp Dion, ataupun semua kenangan tentang Dion. Tolong hapus, dan buang. Kamu sekarang milik Adam, jangan pernah sakiti Adam hanya karena Dion. Meskipun Dion sakit hati, setidaknya itu bisa sembuh. Tapi, jangan pernah menyakiti Adam, karena ketika Adam tumbang. Bisa saja Dia tak akan bisa bangun lagi. " pesan Mama ana, yang membuat Lara tertegun diam seketika.


__ADS_2