Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Dion dan Lara


__ADS_3

"Siapa itu Dion?" tanya Sang mama.


"Temen." jawab Dion, tanpa menoleh.


"Turun kasta sekarang? Temenya sama gembel?"


"Setidaknya mereka lebih terhormat, karna menerima takdir mereka dengan ikhlas, dan berusaha keras memperbaikinya. Daripada harus mengotori hidup dengan dosa."


"Siapa yang kamu sindir?"


"Tidak ada, hanya berdo'a, agar tidak memiliki keluarga seperti itu." jawab Dion, lalu pergi meninggalkan Mamanya.


Ia menghampiri Lara, dan membantu Lara membagikan nasi pada seluruh anak dipanti itu.


Satu persatu mereka bagikan, dengan tanda terima senyuman manis dari anak-anak disana. Dion merasakan sebuah rasa yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya, rasa yang jauh lebih tenang sa'at ini. Ia pun bingung kenapa.


"Karna, kamu ikhlas. Membagikan ini dengan senyuman, sehingga kamu juga menerima imbalan senyum terimakasih dari mereka." ucap Lara padanya.


"Apa... Ikhlas itu seindah ini rasanya?"


"Iya, seperti. Aku ketika berusaha ikhlas menerima takdirku yang seperti ini. Meski sulit, tapi aku bahagia." ujar Lara, lalu membereskan sampah yang berserakan.


Lara pulang bersama Bosnya tanpa berpamitan pada Dion. Baginya siapalah Ia buat Dion, sehingga merasa tak ada yang istimewa ketika itu. Sedangkan Dion sedang sibuk mencarinya hingga berkeliling panti asuhan.

__ADS_1


"Kemana? Kenapa pergi ngga pamit? Eh, tapi siapa gue bagi dia. Hhh, dasar otak sengklek." gumamnya.


Sementara didalam mobil, Lara duduk dengan sesnyum yang  mengembang, membuat Ubu evi dan Sang suami terheran dengan sikapnya.


"Lara kenapa?"


"Hah? Kenapa apanya?" tanya Lara.


"Itu, senyum sendirian."


"Ah... Engga, Lara cuma inget tadi, main sama anak-anak panti. Kok seneng, ya?" jawabnya.


"Anak panti apa cowok yang tadi, Ra?" tanya Uda.


Ke'esokan harinya, Lara kembali kesekolah dengan mengayun sepedanya dengan santai.


Bruuummm... Bruuummm!


Suata motor mengiringnya dari belakang.


"Ra... Bareng dong." teriak Dion.


"Gimana bisa bareng, kalau aku naik sepeda butut, sedangkan kamu naik motor sport, Njomplang lah." jawab Lara.

__ADS_1


Dion memelan kan motornya, menyesuaikan irama perjalanan Lara, hingga mereka beriringan sekarang.


Tiba dalam waktu bersama'an digerbang sekolah, Lara dan Dion menjadi pusat perhatian semua orang. Tak hanya siswa, namun juga guru dan para stafnya. Karna Lara terkenal pendiam, dan jarang bergaul dengan teman yang lain karn kesibukan dengan dunianya sendiri.


"Ra... Kamu sama Dion kenapa bisa bareng? Beriringan lagi." tanya Bu Laras, wali kelasnya.


"Hah... Engga, tadi Dion nyetep saya, waktu ditanjakan. Jadi ngga capek harus turun dan dorong sepeda. Kenapa, Bu?" tanya Lara.


"Ra... Bukan Ibu mau menghalangi pertemanan kalian. Tapi, kamu itu beprestasi. Bahkan sedang mengejar beasiswa untuk kuliah 'kan? Ibu hanya takut, bergaul dengan Dion, akan menghambat prestasimu selanjutnya."


"Dion... Kenapa? Begitu buruk kah?" tanya Lara.


"Dion sering berpindah sekolah, dengan ini sudah yang ke Lima kali. Itu pun dengan beberapa persyaratan. Ia adalah siswa yang terkenal bandel, bahkan nakal. Beberapa kali terlibat tawuran, bahkan pembulian. Ibu ngga ingin, Lara nenjadi korban Bully nya."


Lara berfikir sejenak, dan mencerna perkata'an Sang wali kelas, lalu memunculkan sebuah ide.


"Bu, bagaimana kalau... Saya membuat Dion menjadi anak yang penurut. Setidaknya, Ia akan lulus sekolah tahun ini."


"Kamu jangan main-main, Ra. Bagaimana bisa kamu mengajarnya, sedangkan guru Les Privat yang mahal saja tak mampu."


"Saya bisa, saya janji." ucap Lara dengan antusias.


Bu Laras hanya bisa mendo'akan dan mendukung ga dari belakang, serta mengawasi mereka. Karna biar bagaimanapun, Lara adalah gadis lugu, yang bisa saja dimanfa'atkan oleh perasa'an.

__ADS_1


__ADS_2