Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Perpisahan 2


__ADS_3

Suasana berubah menjadi senyap. Hanya bunyi detak jam dinding raksasa yang terdengar dikeheningan itu. Dion menatap Sang mama, dengan senyum tipis penuh kebencian.


Sebenarnya, Sang mama begitu menyayanginya, namun Dion merasa kasih sayang yang diberikan padanya itu justru mengekang hidupnya yang berjiwa bebas. Bahkan Dion rela menjadi seorang anak yang nakal di sela semua kecerdasanya, demi memberontak Sang mama agar bisa membebaskan hidupnya.


"Sudah bicaranya? Puas? Hanya itu persyaratan dari mama dan papa. Setelah itu, aturlah hidupmu sendiri bersama calon masa depanmu. Mudah bukan? Tapi yang mama ingin adlah, kamu membanggakan kami, itu saja." ucapnya, lalu pergi.


"Hhhh, baiklah... Ku jawab tantanganmu." lirih Dion, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang, menghayalkan masa depanya bersama Lara.


Pov Lara.


Hari ini, seperti hilang semangatku dalam melakukan segala hal. Bahkan, untuk berdiri dan berjalan saja malas.


"Ra, kenapa, sakit?" tanya Mba asni padaku.


"Engga, ngga tahu, lagi males aja." jawabku.


"Nanti ketahuan pengawas loh, pak johan itu orang nya tegas. Hati-hati aja,"


"Hah? Pak johan, bukanya supirnya Dion?"


"Kamu tahu?"


"Iya, cuma pernah lihat. Waktu jemput Dion, disekolah pas kelulusan." jawab Lara.


"Owh, iya, Beliau merangkap jabatan, sebagai orang kepercaya'an Ibu besar" balas Mba asni.


Kepercaya'an? Siapa dia, kalau dia orang penting, apa hubunganya denganku? Harus mulai dari mana aku mencari tahu?


"Hey, sedang apa kalian? Disuruh kerja malah males-malesan." tegur seseorang.

__ADS_1


"Pak, johan." lirih Lara, menatap lelaki paruh baya itu itu tatapan begitu penuh rasa penasaran.


"Kamu... OB baru?"


"Iya, Pak. Baru seminggu kerja disini." jawab Lara, kikuk.


"Kerja yang bener, jangan macem-macem, dan jaga dandanan kamu." ucap Pak johan, lalu pergi meninggalkan mereka.


"Kenapa dandanan Lara?" tanya Mba asni.


"Ngga tahu, kampungan mungkin." jawab Lara.


Sere harinya Lara kembali kekontrakan, Dion sudah menunggu disana.


"Ra..." panggilnya.


"Iya, cuma mau kasih ini buat kamu." ucap Dion.


"Apa?" tanya Lara, dengan menerima sebuah bingkisan yang, Dion berikan.


"Hp, aku pengenya, meskipun kita jauh, tapi masih bisa saling berhubungan. Aku ngga bisa, Ra, kalau ngga denger kabar kamu sehari pun." ujar Dion.


"Iya, aku terima. Makasih, ya, meskipun belum ngerti cara pakainya, pasti aku belajar."


"Iya, aku pergi. Besok pagi-pagi, aku ke Bandara, aku akan telpon kamu dulu, Ra."


"Iya," balas Lara, dengan tetap diam ditempat, menatap kepergian Dion.


Hari ini, sore ini, adalah hari terakhir mereka bertemu. Tak ada kesan atau perpisahan yang berkesan, hanya pergi, dan Do'a untuk segera kembali bersama seperti hari kemarin.

__ADS_1


*


Lara bangun dengan berat hati, enggan membuka mata, hanya sesekali melirik layar Hp barunya, karna hanya itu yang Ia bisa.


Hari ini hari libur, Ia sebenarnya akan ke Universitas untuk mendaftar kuliahnya. Tapi, berdiri pun begitu enggan sekarang.


Ia duduk perlahan, memegangi Hp, dan kembali menatapnya.


"Katanya mau nelpon, kenapa ngga ada kabar?" gumamnya.


Setelah penantian panjang, akhirnya Hp berdering. Dengan sigap Lara mengangkatnya.


"Halo, Dion?"


"Ra... Lagi apa?"


"Nungguin kamu telpon. Mau telpon sendiri, belum ngerti caranya. Hpnya terlalu canggih buat aku."


"Ra, aku udah dibandara. Sebentar lagi berangkat, perjalanan sekitar Lima jam. Nanti aku hubungi lagi, ya?"


"Udah jalan baru nelpon, jahat kamu Dion. Aku belum ngomong apa-apa sama kamu, Lara belum ngucapin perpisahan, ataupun mendo'akan kamu. Kenapa langsung pergi?" tangis Lara pecah.


"Ra, Hey... Kamu ngga perlu ngucapin perpisahan. Kita ngga pisah, hanya sementara berjauhan. Aku balik lagi, cuma sebentar. Tunggu aja, ya. Ngga usah nangis."


"Gimana ngga nangis, aku ngga bisa nemenin kepergian kamu. Andai aku bisa aku akan berlari kesana, memeluk kamu sekarang." ucap Lara.


"Ra... Pejamkan matamu sejenak, rasakan hembusan angin yang menerpa tubuhmu. Anggap saja, angin itu aku yang datang menghampirimu. Dan setelah itu, peluklah erat." ucap Dion.


Lara mengikuti semua instruksi itu, dan berada dalam fase khayalnya, sedang memeluk Dion begitu erat, lalu menangisinya dalam pelukan itu.

__ADS_1


__ADS_2