
"Hallo, Dion? Dion jangan dimati'in dulu Dion." panggil Lara.
"Dion, aku belum puas mendengar suaramu, aku belum siap berpisah jauh darimu. Aku bahkan belum siap, jika aku tak melhatmu esok hari, Dion....."
Namun Dion sudah berada dipesawat sekarang, menikmati perjalanannya dengan deraian demi derian air mata yang jatuh dipipinya. Bukan karna tak cinta, justru karna Ia begitu mencintai Lara, sehingga Ia ingin memperjuangkan Lara dengan caranya.
Begitupun Lara, Ia bangun, berdiri, lalu mengusap air matanya.
"Hanya Tiga tahun, yakin pasti bisa. Sesuai janji, kita akan bertemu dengan posisi yang saling membutuhkan. "
Lara kemudian bersiap, lalu pergi untuk mendaftar kuliahnya ke universitas yang sudah direkomendasikan perusaha'an. Berbekal surat keterangan dari perusaha'an , Lara langsung diterima tanpa proses Ospek. Itu semua, karena Lara mengambil Ekstensi, dan kuliah sembari bekerja, sehingga mendapat banyak kelonggaran disana.
"Bulan depan, tinggal masuk kuliah. Ajak Mba asni belanja pakaian, ah. Dia 'kan pinter milih baju." gumam Lara, selama perjalanan pulang.
Sesampainya dirumah, dengan begitu semangat Lara mengajak Mba asni, dan Mba asni pun menyambutnya dengan hangat, serta meladeni semua perminta'an gadis yang sudah dianggapnya adik tersebut.
*
"Udah cukup, Ra?" tanya Mba asni selepas berbelanja.
__ADS_1
"Udah, Mba, ini aja cukup. Lagian kuliah seminggu Dua kali aja, kalu akhir minggu. Jadi ngga perlu terlalu banyak pakaian." jawab Lara.
Selepas berbelanja, tak lupa Lara mengajak Mba asni untuk makan dipinggir jalan. Kali ini Lara sengaja mentraktirnya sebagai ucapan terimakasih, karna sudah mau menemaninya.
"Mba, makaisih ya, udah mau nemenin Lara belanja. Ma'af, cuma bisa nraktir disini aja."
"Ngga apa-apa, Ra. Santai aja, Mba malah yang terimakasih karna udah ditraktir makan. Hemat belanja Mba hari ini."
Dengan begitu lahapnya merek menikmati hidangan yang ada didepan mata, sembari menatap kendara'an yang melintas dihadapan mereka.
"Nanti, kalau ada rezeki, Lara mau beli motor lah. Biar enak, mau kemana-mana." ucap Lara.
"Iya, nabung aja dulu. Nanti, Mba bisa nebeng kalau mau kemana-mana."
"Banyak?"
"Lumayan, Dua Puluh Lima Juta." ucap Lara, dan Mba asni pun tersedak mendengarnya.
"Uang belasungkawa segitu banyak, dia siapanya nenekmu?"
__ADS_1
"Ngga tahu, uangnya Lara ambil, deh. Mau beli motor. Kuliah pasti repot kalau ngga punya kendara'an sendiri." ucap Lara.
*
Sesuai rencana, beberapa hari berikutnya Lara meminta uang itu, dengan menelpo Uni ema, dan langsung dikirimnya ketika itu juga.
Lara kembali mengajak Mba asni untuk mencari sebuah motor sesuai keinginanya.
"Itu aja?" tanya Mba asni.
"Iya, baguslah. Lumayan sisa uangnya buat yang lain." ucap Lara.
Tak butuh waktu lama untuk Lara belajar hingga bisa mengemudikan motor tersebut. Dan sekarang, perjalanan Lara menjadi lebih mudah kemanapun Ia pergi.
Semua berjalan lancar bagi Lara. Hubunganya dengan Dion pun semakin baik. Mereka sering saling menghubungi, untuk sekedar berbagi cerita, atau pun melepas rindu, hingga tak terasa, Dua tahun telah berlalu dari mereka berdua.
Dikantorpun, pekerja'an Lara semakin lancar dan baik, dan rekan kerja banyak memuji kinerja Lara yang begitu bagus, hingga mendapat gelar karyawan OB terbaik disana.
"Ra, kamu sibuk?" tanya Adam, yang tiba-tiba menghampiri.
__ADS_1
"Pak, Adam? Saya ngga sibuk, Kenapa?"
"Engga, cuma ngajak kamu makan bareng, boleh?" tanya nya, sembari duduk disebelah Lara, dan sontak membuat karyawan lain menatap mereka keheranan.