
"Ayah baper, kami hanya main-main, Yah. Lagian, kalau Ayah minta kita ke Ring, kita pasti udah tahu siapa pemenangnya." ujar Dion, pamer otot.
"Itu juga karena gue yang nyerah duluan. Jantung gue ngga sehat pe'ak." balas Dion.
Papa farhan memelototi mereka, dan mereka diam seketika lalu saling lempar pandangan untuk saling menyalahkan.
"Keputusan Papa sudah bulat. Kamu disini saja semantara sambil belajar. Biar Kak adam konsen mempersiapkan pernikahanya." ucap Papa farhan.
Dion langsung mendengus kesal, dan menerima semua keputusan itu. Hidupnya sudah terlanjur seperti ini, yang tak memiliki kebebasan bahkan hanya untuk memilih sebuah posisi pekerja'an.
Setelah keputusan itu, Adam mengantar Dion keruangan barunya, dan memberi arahan untuk pekerja'an barunya.
"Seneng banget yang mau nikah. Itu keluarganya gimana? Si, Lara?" tanya Dion.
"Dia yatim piatu, ngga punya sanak saudara. Jadi menggunakan wali hakim saja. Semua sudah diurus oleh orang gue." jawab Adam.
"Orang, Siapa?"
__ADS_1
"Ada lah, kepo." ledek Adam.
"Gue ngga kepo, cuma mau kalau loe itu bener-bener cari calon istri, asal usulnya, semuanya. Jangan sampai ntar nyesel."
"Gue sebelum nyatain cinta ke Lara, udah cari infonya Brai, sampai nyewa detektif swasta." ucap Adam.
"Berarti, Detektifmu tak menyelidiki dengan detail. Yaudah, terserah lah. Selamat menjalani semua prosesnya." ucap Dion.
Adam pamit pergi, karena ada jadwal pemotretan dengan Lara untuk prewed mereka. Ia segera menyambangi Lara yang sedang disalon bersama Mamanya. Dengan wajah penuh senyum, dan keceria'an, Adam melaju kencang membayangkan setiap proses menuju pernikahan mereka.
*Disalon.
"Kamu harus rajin perawatan Lara. Bukan hanya pakaian yang dilihat, tapi wajah dan aura kamu juga akan dijadikan pusat perhatian nantinya. Apalagi mau foto prewed. Jadi harus benar-benar ekstra untuk mempercantik kamu. Ngga mungkin foto kalian biasa aja. Kita punya Sepuluh Ribu undangan nanti." jelas Mama ana, panjang lebar.
" Owh, iya Ma. Seribet ini untuk menikah dengan Mas adam. Apa akan sama, jika aku menikahnya dengan Dion?"
Dari dalam terlihat Adam yang datang dan sedang memarkirkan mobilnya. Lara ingin menyambut, tapi rambutnya sedang menjalani sebuah treatmen yang Ia tak tahu apa namanya. Sehingga Ia hanya menyambut Adam dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Mas... Udah dateng. Lihat, Lara diapain. Abis ini katanya mau di make up lagi." ucap Lara.
"Nurut aja sayang, biar Lara makin cantik." jawab Adam.
"Bagaimana Dion, sayang. Mau bekerja dikantor Papa?" tanya Mama ana.
"Mau lah, mana mungkin bisa nolak. Tapi, harus ada pengasuh buat Dia. Seorang sekretaris, yang sekaligus Dion segani. Lara bisa?" tanya Adam.
"Hah? Lara kenapa?" tanya Lara yang terkejut.
"Lara mau jadi sekretaris Dion? Nanti kalau udah resmi disana. Sekarang kan lagi magang. Kan jurusan Lara sekretaris." jawab Adam dengan santai.
"Kenapa jadi begini? Memang dulu cita-cita ku dan Dion, tapi sekarang kan beda." batin Lara.
"Jangan lah. Ngga enak sama orang diluaran sana. Dewi kan sebentar lagi lulus. Biar dewi aja, sekalian biar mereka pendekatan. Semakin akrab, lalu mau ketika dijodohkan." sahut Mama ana.
"Apa? Apalagi ini. Astaga, simalakama sekali bagiku. Aku tak ikhlas jika Dion dengan Dewi. Aku egois sekali." batin Lara lagi.
__ADS_1
"Owh, iya.... Dion lupa. Yasudah, Dewi sekalian masukin aja. Ngga papa belum lulus, kemampuanya sudah baik ketika magang kemarin." ucap Adam.
Lara memegangi dadanya, merasakan sesak dan berdebar begitu kencang. Serasa ingin menentang, tapi sadar akan posisi, dan tak ada kata dan keputusan lain selain pasrah. Ini sebuah konsekuensi dari keputusannya sendiri.