Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Lara dipecat


__ADS_3

"Ganti baju kamu. Ngga pantes kamu, calon istri Adam bekerja disini. Sebagai OB lagi." omel Mama ana.


"Tapi, Ma... Kerja'an Lara kan emang ini. Semuanya udah pada tahu."


"Itu dulu, dan sekarang beda. Kamu harus menjaga nama baik Adam sekarang. Bagaimana jika semua rekan bisnis tahu? Sekarang, kamu Mama pecat jadi OB."


"Tapi, Ma?" senggah Lara.


"Ngga ada tapi... Ganti baju kamu, peralatan itu berikan ke temenmu. Masalah uang, dan baiya hidup. Biar Adam yang tanggung. Malu-maluin kamu." Imbunh Nyonya ana, lalu pergi meninggalkan Lara yang mesih cemberut karena sikapnya.


Lara yang masih gemetar, lalu duduk dipinggiran sebuah tiang, dan menekuk lututnya.


" Udah, Ra. Ikutin aja omongan Nyonya, Beliau ada benernya loh. Kamu itu memang calon istri Pak adam, jadi harus jaga wibawa mereka. Lagian, biaya hidup aman juga kan. Tinggal diem, fokus kuliah, udah itu nikah dan jadi Nyonya." ucap Dinda, salah seorang rekan Lara.


"Udah biasa mandiri, Din. Rasanya kalau harus mengandalkan dari orang lain, berasa jadi pengemis. Ngga enak." jawab Lara.

__ADS_1


"Mereka bukan orang lain. Itu calon mertuamu, keluargamu, dan Pak adak itu calon suamimu. Wajar Beliau menghidupimu." ucap Dinda, memberi nasehat pada Lara.


Lara yang mulai pusing, kemudian kembali menjambaki rambutnya, dan memijat pelipisnya dengan ringan.


"Udah ah, mau ganti baju, terus laporan sama Calon suami. Kesel aku, belum apa-apa udah banyak aturan." ucap Lara dengan kesal, lalu pergi kembali kerumahnya.


Dengan mendengus kesal, Lara mulai mengganti pakaian dan membenarkan dandanannya. Bisa saja Lara melapor dan berkeluh jesah lewat telepon dengan Adam. Tapi, itu dirasanya tak etis karena banyak yang harus dibicarakan.


Setelah bersiap dengan dandanan yang lebih rapi, Lara kembali menuju kantornya. Masuk dengan tergesa-gesa, dab setengah berlari menuju ruangan Adam.


"Assalamualaikum, Mas. Sibuk ngga?" tanya Lara.


"Tadi Lara kerja seperti biasa, tapi tiba-tiba mama dateng dan marahin Lara. Mecat Lara dari karja'an sekarang. Mas, tolong beri pengertian Mama lah, Lara ngga bisa kalau ngga kerja. Biaya kuliah meskipun beasiswa, tapi masih banyak yang harus diselesaikan. Apalagi sebentar lagi skripsi." omel Lara


" Terus, bagaimana kata mama lagi? "

__ADS_1


"Katanya, urusan keuangan biar Mas yang tanggung semua, karena Lara akan menikah sama Mas. Tapi, Lar ngga bisa begitu. Nanti orang bilang, Lara cuma manfa'atin keada'an."


Adam berdiri menghampiri Lara dengan senyumnya, lalu memegangi pundak Lara dengan memberikan tatapan tajamnya.


"Bukankah, ucapan Mama itu benar? Lara calon istri Mas. Jadi semua kehidupan Lara itu tanggung jawab Mas. Apa kata kolega dan semua sahabat, jika calon suami Mas itu adalah OB dikantor Mas sendiri."


Lara kembali kesal, rasanya bercampur aduk sekarang. Peraturan baru ini membuatnya tertekan, dan ingin marah sebenarnya. Ia duduk disofa, lalu menegakan kepalanya menghadap langit-langit ruangan itu. Adam menghampirinya dengan secangkir air putih ditanganya, dan memberikan pada Lara.


"Sayang, ini minum dulu." ucap Adam.


Lara pun menerimanya, dan langsung meminumnya habis tak tersisa, lalu memberikanya lagi pada Adam.


"Heh... Haus banget kayaknya?" ledek Adam, dengan tersenyum memandang gelas kosong itu.


"Tadi, Lara jalan cepet-cepet, sambil emosi. Kesel Lara sama Mama."

__ADS_1


"Iya, Mas tahu. Lara itu orangnya mandiri, dan ngga mau terlalu menerima bantuan dari orang lain. Tapi, Mas ini calon suami Lara. Sudah sepatutnya Mas yang mebafkahi Lara. Mas akan kasih lebih dari gaji Lara selama bekerja sebagi OB disini." bujuk Adam.


"Ini bukan perkara uang, Mas. Ish... Kenapa ngga ada yang negerti'in sih. Ngeselin!" omel Lara pada Adam, lalu pergi dalam keada'an marah.


__ADS_2