Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Mulai nyaman


__ADS_3

Rambut Lara sudah mengering, tubuhnya pun demikian. Mba asni pamit pulang untuk memasak, dan akan membaginya dengan Lara nanti.


Setibanya dirumah, Mba asni terfikirkan oleh kata-kata yang diucapkan Lara tadi. Ia membolak balik ponselna dan sempat ingin menghubungi Dion, dan memberitahu semuanya, namun Ia tunda. 


"Lebih baik, aku saja yang mengontrol Lara sekarang. Jangan.... Jangan sangkut pautkan Dion dalam urusan ini. Setidaknya sampai Dion kembali kemari." gumamnya lagi, lalu melanjutkan pekerja'anya.


Mba asni memasak gulai ikan yang dibelinya dengan mamang sayur tadi siang,  yang sengaja Ia belah menjadi dua potong setiap ekornya, lalu dimasak menggunakan santan berbumbu kuning. Ia tahu betul jika Lara lebih menukai bagian kepala, dan bagian bawahnya akan Ia makan sendiri. 


Setelah semuana matang, Ia pun mengantarnya pada Lara dirumanya. 


"Makan dulu, setidaknya kamu harus punya tenaga untuk menuangkan semua isi kepalamu itu. Mba ngga akan terlalu ikut campur lagi sekarang. Tapi, jika Mba melihat atau mengetahui jika tindakanmu itu membahaykan nyawa Pak adam, jangan salahakan Mba jika Mba sendiri yang akan menggagalkan semua rencanamu." ucap Mba asni dengan nada kesal, lalu pergi meninggalkan Lara yang mulai memakan makananya dengan lahap.


***

__ADS_1


Malam tiba, Lara keluar dan duduk diteras untuk menikmati udara malam, dan memandangi bintang-bintang dilangit. Begitu indah dan terang, hingga membuat Lara tersenyum sendiri karenanya.


"Cantik sekali malam ini, mengingatkan ketika aku bersama Dion malam itu, menikmati pekandangan yang sama. Disini, dirumah ini." gumamnya. Namun, imajinasinya memudar ketika Adam menelpon.


"Hallo, Mas?"


"Hallo, Sayang, lagi apa?"


"Lagi memandang bintang, Mas. Cantik sekali malam ini."


"Lara cuma didepan rumah, Mas. Ngga kemana-mana, bentar lagi juga masuk, terus tidur."


"Yaudah, sampai ketemu besok ya, dikantor. Selamat malam...." ucap Adam, mengakhiri teleponya.

__ADS_1


"Mas adam, Oh Mas adam... Lara mulai nyaman denganmu. Mulai nyaman dengan semua perhatian dan cintamu, tapi Lara ini belum bisa sepenuhnya melupakan Dion. Aaargh... Aku tak bisa membayangkan, jika setelah menikah dengan Mas adam, aku akan tinggal disana, dan bertemu Dion setiap hari. Bisa-bisa makin gila aku." gerutu Lara, dengan mengacak-acak rambutnya.


Lara menjadi semakin tak bisa mengontrol dirinya dan perasa'anya sekarang. Hingga sesekali sering menjambaki rambutnya sendiri ketika mulai terpancing dengan keada'an yang memberatkan fikiranya. Ia kemudian kembali masuk, dan mengunci rumah nya rapat-rapat, lalu tidur dengan harapan dapat bermimpi indah malam ini.


💕💕


Pagi datang, Lara membuka matanya dengan nafas ceria. Ia kemudian mandi dan bersiap dengan seragam OBnya untuk bekerja. Tapi, kali ini berangkat sendirian, karena Mba asni sudah terlebih dulu berangkat karena ada tugas lainya.


Setibanya dikantor, Lara melakukan tugasnya seperti biasa. Menyapu, mengepel, dan mengelap semua jendela dan pintu yang terbuat dari kaca dikantor itu. Ia tak sendiri, ada Lima rekan kerja yang melakukan tugas itu bersamanya, sehingga lebih cepat diselesaikan.


"Lara....!" teriak seorang wanita yang begitu mengagetkannya, hingga hampir menjatuhkan peralatan yang Ia pegang.


"Hah? Mama ana?" lirihnya, dengan menatap kedatangan Wanita itu kearahnya.

__ADS_1


Mama ana sekarang berada tepat didepan matanya, suasana berubah tegang. Bukan hanya Lara yang gemetar dan takut, melainkan rekan lainya yang juga merasakan hal yang sama.


"Mama, kenapa kemari?" tanya Lara, dengan gugup.


__ADS_2