Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Adu argumen Lara dan Asni


__ADS_3

"Lara... Bangun Nak, sudah sore." Mama ana membangunkanya.


"Iya Ma, Ma'af ketiduran." jawab Lara.


"Ngga papa, Mama tahu, Lara capek. Katanya mau kerumah temen buat ngundang. Pergi aja mupung masih sore. Temenya udah pulang juga mungkin."


"Hmmmh, iya." jawab Lara, lalu menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Lara mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower, dingin memang, tapi tak terlalu Ia rasakan. Ia hanya menikmati tiap guyuran air yang jatuh ketubuhnya, dengan sesekali mengusap wajahnya.


"Apa yang akan dikatakan Mba asni padaku lagi nanti. Apakah... Dia sudah bertemu dengan Dion? Apa yang akan mereka bicarakan?" gumam Lara, lalu menyandarkan tubuhnya didinding.


❤️❤️❤️


"Mba asni...!" teriak Dion, ketika melihatnya dikantor.


"Ma... Mas Dion?" ucap Mba asni, lalu berusaha kabur untuk pulang.


"Mba, tunggu. Saya mau ngomong." kejar Dion, namun Mba asni terus mengelak sampai hampir tiba dirumhnya.


"Mba, tunggu..." tarik Dion pada lengan Mba asni.

__ADS_1


"Dion kenapa?"


"Mba, saya mau nanya tentang...."


"Lara? Sebaiknya lupakan Dion. Lara sekarang milik adam." jawab Mba asni.


"Iya, saya tahu. Tapi saya mau nanya, adakah alasan tensendiri hingga Lara menerima semuanya. Karena kasihan, karena harta, atau... Ada alasan lain?" tanya Dion.


"Mba ngga tahu, tapi Lara ngga sepicik itu, mau menikah hanya karena harta. Bukankah, apa yang akan didapat sama saja ketika Dia akan bersamamu?"


"Hmmmm... Benar. Apa karena kasihan dengan Mas adam?"


"Dion tahu, jika ada yang Mba asni sembunyikan. Tapi, tak apa jika Mba asni memilih diam. Dion akan cari tahu sendiri." jawab Dion, lalu meninggalkan Mba asni.


"Lebih baik, Dion awasi saja dia. Jangan terlalu sering membiarkan dia sendiri. Dia sekarang gampang tertekan." ujar Mba asni, lalu berlari meninggalkan Dion.


"Apa maksudnya? Kenapa Lara tertekan?" gumam Dion.


Mba asni sedikit panik karena Dion bisa memahami bahasa wajahnya. Ia takut, takut jika Dion tahu yang sebenarnya, Ia akan menyakiti Lara. Tapi, jika tak dihentikan, maka Lara akan menyakiti orang lain, bahkan dirinya sendiri..


"Harus apa aku? Lara sekarang sepertu memiliki Dua kepribadian. Dia bisa bersikap manis dan biasa saja, ketika bersama yang lain. Tapi, Dia akan begitu berubah, ketika sedang sendiri, terutama jika sedang memikirkan sesuatu yang berat." lirihnya.

__ADS_1


"Mba kenapa ngomongin Lara?" tegur Lara, yang ternyata sudah masuk.


"Lara?" kejut Mba asni.


"Iya, Lara lihat, pintunya nggga dikunci. Jadi Lara masuk, Mba kenapa? Kok terkejut lihat Lara?"


"Engga, Mba cuma lagi kangen aja sama Lara. Lara apa kabar?" tanya Mba asni, berusaha tenang.


Lara langsung tersenyum, mendekati Mba asni lalu memeluknya dengan hangat.


"Mba... Lara bahagia banget, Mas adam begitu memanjakan dan mencintai Lara, begitu juga keluarganya. Lara bahagia...." ucap Lara.


"Tak cukupkah dengan begitu saja, Ra? Cukup ya, jangan dilanjutkan rencananya. Mereka kan sayang Lara, Lara juga ngga kekurangan disana. Lalu apalagi?" tanya Mba asni.


Lara sontak melepaskan pelukan itu, dan menatapnya nanar.


"Mba kok gitu, kenapa Mba ngga dukung Lara?" tanya nya.


"Mba dari dulu memang ngga pernah mendukung Lara, Mba hanya diam dan tak mau terlalu banyak bicara. Hentikan, Ra... Terima saja apa adanya." pinta Mba asni.


"Lara cuma mau kasih undangan ini. Cuma Mba yang Lara anggap sebagai saudara disini, yang lain tidak. Karena itu bisa merusak rencana Lara. Lara pulang!" ucap Lara dengan nada datarnya, lalu pergi meninggalkan Mba asni yang terdiam sedih menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2