
"Masa apa, Ma?" tegur Lara, yang menghampiri Calon mertuanya didapur.
"Hmmm? Masak gulai kepala ikan. Katanya Lara juga suka, benar?" jawab dan tanya Mama ana.
"Iya, Lara suka. Itu pavorit Lara, apalagi waktu dirumah makan, Lara sering dapet sisa buat makan itu. Tapi enak, disyukuri aja." ucap Lara.
Mama ana mendelik, menatap Lara dan berbela sungkawa atas kepedihan yang dialaminya selama ini.
"Sayang... Begitu miriskah hidup Lara selama ini, hingga harus makan sisa orang?"
"Iya... Kan Lara tinggal numpang di Rumah makan, jadi hemat biaya. Hidup Lara kan ngga ada yang biayain." balas Lara, yang semakin mengumbar kesedihannya.
Mama ana beranjak memeluk Lara dengan erat. "Mama turut prihatin sayang. Andai saja kita bertemu lebih cepat, mungkin kamu tak akan menderita seperti ini." ucap Mama ana, diselingi tangisnya.
"Iya, Ma... Andai saja." balas Lara. Pembohong, padahal kamu yang membuangku. Kita pun sudah bertemu, dan kamu masih tak mau mengakuiku.
__ADS_1
"Yasudah... Setelah ini kehidupan Lara akan berubah. Jangan terlalu diingat lagi sakitnya, buat bahagia saja sekarang. Mama dulu juga gitu, terluntang lantung kesana kemari. Untung saja, Papa mau nerima Mama apa adanya." ucap Mama ana, dengan memgusap air matanya.
" Iya, Ma... Lara bantun siapin makan siang, ya?" ucap Lara. Apa adanya, Benarkah bagaimana jika mereka tau kenyata'anya.
"Iya... Sebentar lagi, Papa pulang untuk makan siang." imbuh Mama ana.
Mereka bekerja bersama, menyiapkan makan siang, dan membereskan dapur bersama. Terlihat seperti Ibu dan Anak yang begitu kompak dan akur, padahal didalamnya, menyimpan luka masing-masing.
Perhatian Mama anak pada Lara begitu baik, itu nampak ketika Lara terkena panas dari gulai kepala ikan mereka. Dengan sigap, Mama ana mengobati Lara dan meniup-niup luka itu. Membuat hati Lara terenyuh sesa'at, namun pudar kembali jika teringat kejahatanya lebih banyak daripada kebaikanya.
"Lara lain kali hati-hati. Kalau susah, biar Mba dewi aja yang bawa itu kemeja makan. Kalau begini kan, nanti susah mau makan. Makan gulai ikan, enaknya pakai tangan, jangan pakai sendok. Ngga nikmat." ucap Mama ana.
Tap... Tap... Tap..! Adam turun dari lantai atas, dengan seragamnya. Begitu rapi, gagah dan tampan. Namun sayang, Lara tak begitu tulus mencintainya.
"Mas... Makan siang dulu, baru kekantor." ucap Lara.
__ADS_1
"Iya, papa belum pulang?" tanya Adan.
"Sebentar lagi, udah dijalan." sahut Mama ana, yang mesih duduk berdua dengan Lara.
"Assalamualaikum," Papa farhan datang, dengan salamnya.
"Waalaikum salam." ucap Mama ana dengan menghampirinya, mencium tanganya, lalu melepaskan jas dari tubuh suaminya, begitu serasi.
Semua kejadian itu, membuat Lara berkhayal, jika itu adalah Ibu dan Ayahnya. Semua bahagia dengan begitu ramahnya arti sebuah keluarga. Lara membayangkan, seolah Dia lah yang menjadi anak utama dalam keluarga ini, dengan ibu dan ayah yang saling menyayangi, bahkan Lara menggabungkan Ibu sambung mereka sebagai istri kedua dalam khayalan itu.
"Lara... Ayo makan." tegur Adam, yang membuyarkan semua lamunan Lara.
"Ah... Iya, Mas, Ayo..." ucap Lara, dengan menggadeng lengan Adam menuju meja makan.
Lara bahagia. Iya, bahagia hingga detik ini, ketika semua berkumpul dan bersenda gurau bersama ditengah hangatnya sebuah keluarga. Andai Lara dan Adam sudah menikah, pasti sudah tak canggung lagi dengan semua situasi ini. Lara pasti sudah bisa melayani Adam dengan baik sebagai Istri sahnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." ucap Seseorang, yang langsung masuk kedalam rumah.
Tubuh Lara bergetar, hatinya tak karuan melihat sosok itu. Sosok yang Ia nanti-nantikan untuk bertemu.