
Malam tiba, semua berkumpul diruang tamu dengan keadaan biasa, karena telah mandi dan mengganti pakaian mereka masing-masing.
Mama ana dan Papa farhan sedang mengumpulkan semua sanak saudra dan para panitia untuk mengucapkan terimakasih atas bantuan tenaga mereka selama acara berlangsung. Duduk bersama diruang besar itu dengan saling melempar candaan dengan begitu gembiranya memanfaatkan moment yang jarang sekali mereka rasakan.
"Lara dan Adam istirahat aja, capek banget kan pastinya." Mama ana mengur mereka yang matanya sudah remang.
"Iya, ngga papa istirahat duluan. Kami ngerti kok, apalagi ini _....."
"Apa sih tante, ngga usah ngegodain mereka, mereka tahu dan faham kok." potong Dion dengan ucapan Tante retno.
"Diooon, Diooon.... Tante cuma menyarankan saja. Dion cemburu ya? Ayo, cepetan nikah juga. Udah ada belum calonya?" goda tante Naura pada Dion.
"Dion agak sensitif kalau ngomongi itu, Tan. Dion permisi dulu." pamitnya meninggalkan merek semua.
"Maaf, ya. Dion memang sensitif kalau ngomongin pacar. Soalnya... Belum lama ini diputusin pacarnya tanpa alasan yang jelas, jadinya gitu." Mama ana menengahi.
__ADS_1
Mereka hanya mengangguk, dan menunjukan wajah simpatinya pada Dion. Sedangkan Lara menjadi sedikit gugup, karea sebenarnya ialah yang sedang menjadi bahan pembicaraan.
"Lara... Pamit dulu Ma, tante." ucapnya dengan menggandeng Adam dan berjalan bersama naik kekamar.
"Mba ana..."
"Iya, No, kenapa?" Mama ana menghadapkan wajahnya ke tente retno.
"Mantumu kok, mirip banget ya sama Mba?" tanya Tanye retno pada Mama ana.
"Masa?" imbuh Mama ana.
Jika diperhatikan, wajah Mama ana dan Lara memang memiliki kemiripan. Hidungnya yang mancung, matanya yang sipit, serta bentuk wajah yang oriental. Terlebih lagi, jika ditambah dengan kemiripan yang lain.
"Cuma kebetulan aja, mungkin memang karena jodoh. Katanya, kalau jodoh itu memang punya beberapa sisi kemiripan kan?" tukas Mama ana, meskipun sebenarnya sedikit gugup dengan semua pernyataan itu.
__ADS_1
***
"Kenapa Lara buru-buru ngajak kekamar?" goda Adam, dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Lara.
"Mas lebih tahu, apa alasanya." balas Lara dengan merangkul leher Adam, dan mengedipkan matanya dengan begitu menggoda jiwa Adam.
Bibir mereka saling berpangutan, mereka melepaskan hasrat yang sudah lama mereka tahan. Dan malam ini, adalah saat bagi mereka melampiaskan semuanya.
Lara mendorong Adam ketempat tidur, dan semakin menggodanya dengan kegilaanya. Adam mengikuti permainan Lara, dengan membalik tubuh Lara, hingga sekarang Adam lah yang menindih Lara.
Namun, pandangan Lara seketika berubah. Ia seolah melihat Adam sebagai Dion, dan nyaris menyebutnya dihadapan Adam yang semakin asyik dengan semua aksinya.
"Kenapa? Kenapa bayanganya harus muncul saat ini. Kenapa?" batin Lara, seraya menikmati semua yang diberikan Adam padanya, dan berusaha menyeimbangkan perlakuan yang diberikan Adam ketika itu.
Permainan mereka selesai. Lara tertidur dengan kepala didada Adam saat ini, dengan Adam yang terus mengusap rambut Lara dengan begitu lembut dan penuh cinta darinya.
__ADS_1
Lara masih termenung, merenungkan kejadian yang baru saja Ia alami. Masih bertanya-tanya dalam hatinya, dan memggerutu seperti yang biasa Ia lakukan ketika senyap. Namun sekarang hanya dalam hati, karena Adam akan selalu ada disampingnya setiap malam.
"Obsesiku bukan Dion, tapi Ibu (Mama ana). Aku sudah bersumpah akan mengejar pengakuan Ibu, meski Dion membenciku. Tapi, kenapa justru sekarang bayangan Dion yang begitu kuat muncul dihadapanku? Aku benci keadaan ini. Bahkan sekarang, aku membenci diriku sendiri. "