
Setelah Papa keluar dari ruanganku, aku meraih Hp dan menelpon Adik kesayanganku disana. Entah kenapa, aku merindukanya. Ia biasanya orang tercepat yang akan memberiku selamat ketika aku bahagia. Tapi, kali ini tidak. Padahal aku sudah mengupload fotonya di IG ku.
"Apakah Dion sedang begitu sibuk dengan kuliahnya, sehingga tak terlalu memperdulikanku sekarang?" gumamku.
Nomor Dion menjadi nomor Dua dipanggilan tercepatku setelah Lara, dan aku segera mengklik nomor itu setelah menemukannya.
Sedikit lama untuk Ia mengangkat teleponku kali ini, hingga aku sempat bingung dan sedikit cemas dengan keada'anya.
"Halooo..." ucap Dion, dengan nada yang begitu berat.
"Hey Yon, kenapa serak suaramu? Sakit, apa abis nangis?" tanyaku dengan meledeknya.
"Hmmm, batuk dikit. Kenapa?"
"Sakit loe? Kalau sakit berobat dulu lah. Di negri orang, pakai sakit lagi."
"Sakit dikit, ah. Kenapa?"
"Loe ngga kasih selamat gue gitu? Gue abis lamaran ke cewek gue. Gue udah kirim videonya juga, kok diem aja."
__ADS_1
"Hhh, sibuk banget gue, Kak. Lagi skripsi, mana tugas banyak. Kadang ngga sempet lihat Hp. Bye the way, selamat ya, akhirnya Kakak gue nemuin cewek yang bener-bener menarik hatinya. Semoga langgeng sampai hari H." ucap Dion padaku.
"Hmmm, oke lah. Tapi, gue belum akan nikah sebelum Loe wisuda. Biar loe bisa jadi pendamping di akad gue nanti." ucapku dengan begitu antusias.
"Cinta banget emang, loe ama dia? Kenal berapa lama?"
"Dia wanita pertama yang menggetarkan hati gue Yon, loe kan tahu sendiri, gue gimana. Sa'at gue ketemu dia pertama kali aja, udah ngena banget rasanya."
"Iya, iya... Gue cuma bisa do'ain yang terbaik buat loe, kak. Do'ain gue disini secepatnya wisuda, dan kalian akan datang rame-rame kemari demi gue." ucap Dion.
"Aman, nanti gue juga akan ajak Lar datang."
Pov Dion.
"Mendengar namanya diucapkan Kak adam saja begitu sakit rasanya. Sakit menusuk hingga ke ulu hati ku. Bagaimana bisa aku menjadi pendampingnya untuk menikahi Lara? Gila... Ini semua akan menjadikanku gila!" gerutuku sendirian didalam kamar yang sengaja kubuat gelap.
Jujur, suaraku memang serak dan berat sekarang. Mataku memerah karna semalaman menangis dan tak dapat memejamkan mata. Masih bersyukur jika aku tak melakukan dosa malam ini. Aku stres, marah, dan benar-benar sakit karnanya.
Kreeek,! Naura datang membuka pintu kamar ku.
__ADS_1
"Dion... Sudah baikan? Ini aku bawain makan siang. Kamu udah telat makan loh." ucap Naura pada Dion.
"Ra... Apa aku terlihat menyedihkan sekarang."
"Menyedihkan kenapa?"
"Menyedihkan, hanya karna seorang wanita, aku sampai seperti ini." jawabku.
"Dion, itu tidak berlebihan. Kami tahu perjuanganmu untuk Lara, itu semua tidak mudah. Terlebih lagi, Kakakmu sendiri lah yang mengambilnya darimu. Itu pasti sakit sekali bukan?" tanya Naura, dengan menyuapkan sesendok nasi padaku.
"Makanlah, biar ku suapi. Tanganmu bahkan diperban utuh begitu, untung saja masih bisa memegang hp. Kakakmu yang menelpon?" tanya nya lagi.
"Iya, dia dengan bahagianya menceritakan tentang Lara padaku."
"Wajar, Ia sedang jatuh cinta sekarang. Lalu, bagaimana keputusanmu? Akan mempertahankan Lara, dengan memberitahukan semua ke Kak adam, atau?"
"Tidak... Kakak adam biarkan seperti ini. Ini pertama kalinya Ia mencintai seorang gadis, dan begitu dalam. Biarkan saja, Lara akan menjadi urusanku sendiri."
"Kamu dendam?" tanya Naura padaku. Tapi aku tak menjawabnya, hanya menyunggingkan senyum sinisku, dan membayangkan wajah Lara didepan mataku sekarang.
__ADS_1