Dendam Cinta Lara

Dendam Cinta Lara
Kemana nenek?


__ADS_3

Seharian Lara berjibaku dengan kertas dan pena. Mengerjakan semua soal ujian dengan lancar, karna memang Lara sudah mempersiapkanya dari jauh-jauh hari. Lara ingin lulus dengan nilai terbaik, karna Ia mengincar beasiswa untuk masuk SMA dikota.


Setelah selesai dengan semua ujianya, Lara menyiapkan tasnya, dan berjalan pulang kerumah. Berjalan kaki melewati perumahan dan ruko tinggi, serta jalanan yang mulai padat karna ini adalah jam anak-anak sekolah pulang dan karyawan pergi keluar mencari makan siang.


"Nenek apa sudah ditempat Uni ema? Lara susul ah, biasanya ramai. Lara bisa bantu nenek cuci piring." gumamnya, lalu setengah berlari menuju Rumah makan.


"Assalamualaikum," ucap Lara.


"Hey, waalaikum salam, Ra, mana nenek?" tanya Uni ema.


"Bukanya disini, nyuci piring?"


"Belum ada, seharian belum kemari. Apa sibuk ngantar bawang, ya? Lara bantu Uni cuci piring, ya Nak."


"Iya, Lara niatnya mau bantuin Nenek, tapi malah neneknya ngga ada." jawab Lara, lalu bergegas pergi ketempat pencucian piring.


Dengan sigap Lara membersihkan semuanya lalu menyusunya rapi di rak.


"Ni, Lara pulang dulu. Mau cari nenek."

__ADS_1


"Ngga makan dulu?"


"Engga, makan dirumah aja. Pulang dulu, Ni." teriak Lara.


Lara berjalan menunduk disepanjang jalan pulangnya. Bukan karna sakit, namun Lara sembari mengulang lagi semua hafalan yang telah Ia pelajari selama mencuci piring tadi.


"Ra... Kenapa menunduk, nanti kesandung." tegur Uni deni.


"Eh, engga kok, Lara cuma sambil ngulang hafalan ujian." jawab Lara.


"Nenek mana, Ra? Kok seharian ngga kelihatan?"


"Ya uni kan nanya Lara, biasanya meskipun ngga kemana-mana, Nenek nyapu sambil beresin luaran. Nah ini ngga ada sama sekali."


"Hmmm, apa sakit, ya? Yaudah, Lara pulang dulu. Kali aja, nenek cuma ngantar bawang tapi ngga kelihatan sama Uni waktu keluar." jawab Lara, lalu pamit pergi.


Uni deni mengangguk, lalu masuk kedalam tokonya, sedang Lara melaju kembali kerumah.


Kreeek! Lara membuka pintu rumah yang sudah lapuk termakan usia itu. Ia memanggil Sang nenek, namun tak ada jawaban, lalu meletakan tasnya dan duduk dikursi yang tak kalah usang dengan peralatan lainya.

__ADS_1


Lara memejamkan mata sejenak, namun tak tidur. Melainkan mengulang lagi dan lagi hafalan yang perlahan masuk kedalam ingatanya.


Setengah jam berlalu, rasa haus mendera. Lara langsung berdiri dan menuju meja makan untuk mengambil minumnya. Namun, lain pula yang Ia temukan.


"Astaghfirullah, Nenek!" teriaknya.


Nenek Ratmi pingsan, dengan nasi berantakan dilantai. Lara mencoba membangungunkannya, namun tak ada respon sama sekali. Lara panik, Ia. Mencoba memberikan neneknya minyak angin untuk membangunkan, namun tak ada respon. Lara mencari penyebab kemungkinan nenek pingsan, dan ternyata disamping nenek terdapat muntahan bercampur darah dan beberapa duri ikan didalamnya.


"Apa nenek tersedak duri ikan yang Lara kasih tadi pagi? Nenek makan nya kapan, apa nenek pingsan nya sudah lama? Nenek udah dingin sekarang?" gumam Lara dengan panik.


lalu berlari keluar mencari bantuan.


"Ni.... Ni deni tolong Lara!" teriaknya didepan rumah Uni deni.


"Kenapa?"


"Nenek, tolongin Nenek." pinta Lara dengan tangisnya.


Bukan hanya Uni deni, tapi semua yang mendengar mereka ikut keluar dan memgikuti Lara sampai kerumahnya.

__ADS_1


Mereka semua menghampiri Nenek yang masih berada ditempat semula, mengerumuni, dan mencoba membangunkanya dengan panik, begitu juga Uni deni, yang tak kalah paniknya dengan yang lain, tapi berusaha tetap tenang dan memangku kepala Nek ratmi dengan perlahan.


__ADS_2