
Kesookan harinya, seusai acara pernikahan. Dion membawa Dewi pulang ke apartementnya, dan mereka menempuh hidup baru disana.
Dion benar-benar berusaha mengilangkan bayang-bayang Lara dari hidupnya, sampai Ia harus keluar dari kantor, dan berusaha menciptakan perusahaan-nta sendiri yang Ia mulai dari Nol bersama Sang istri.
Kandungan Lara pun sudah semakin membesar, dan sudah mulai merakan gerakan aktif dari bayinya yang sehat. Adam tak henti-hentinya memberikan perhatian dan kasih sayang pada Sang istri. Apapun, kapanpun, semua akan diberikan Adam, hingga membuat Mama ana sedikit aneh.
"Kamu udah minta apa aja sama Adam? Mentang diturutin semua." omel Mama ana pada Lara.
"Ma, bukanya Mama yang bilang, kalau Lara harus bersyukur dengan keadaan. Tidak seperti sahabat Mama yang miskin itu?" jawab Lara.
"Tapi tidak seperti ini, jika begini yang ada boros. Mama ini menyandang gelar Ibu dan mertua yang baik, tapi kenapa menantu seperti ini jadinya? Apa kata orang nanti?"
"Bukanya Mama memang ngga pernah mengiraukan orang lain. Kenapa harus tertekan dengan omongan orang?" ucap Lara, bernada mengejek.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini sering ngelawan? Apa karena sedang dimanja Adam, jadi kamu seenaknya saja sekarang?"
"Ya, mungkin lah. Karena Lara juga udah lelah untuk Mama paksa dengan semua kemauan Mama yang aneh itu."
__ADS_1
"Bagian mana yang aneh? Mama melakukan semua untuk kebaikan kamu dan janinmu, kamu bilang aneh? Keterlaluan kamu."
"Katakan saja, jika Mama lah yang menjadi contoh ketika mengatur Lara, bukan- teman Mama. Mamma yang menderita ketika hamil, sehingga Mama melampiaskan semua kesialan Mama itu pada Lara." jawab lara.
"Kamu ngawur! Sudah Mama bilang Mama ini mandul, tak pernah hamil, bahkan punya anak. Darimana semua info bodoh itu?"
"Yang jelas... Lara tahu." jawab Lara, tersenyum puas ketika melihat Mama ana yang mulai syok.
Lara berjalan kekamarnya untuk sitirahat, namun lengan-nya ditarik Mama ana hingga nyaris jatuh.
"Mama, kenapa jadi kasar gini sih? Lupa kalau Lara lagi hamil? Kalau jatuh gimana?" hardi Lara, lalu melepas tangan-nya dari Mama ana.
"Bahkan seorang narapidana pun hatinya akan lebih bersih dari Mama. Karena mereka sempat dihukum dan beritaubat dengan kesalahan yang Ia buat. Sedangkan Mama, Mama hanya bisa lari dan sembunyi dari semua kenyataan yang ada."
"Kamu!" teriak Mama ana, dan mengangkat tangan-nya untuk menampar Lara. Namun, Papa farhan datang melerainya.
"Mama....!"
__ADS_1
"Pa-papa, kok pulang siang gini?" tanya Mama ana, dengan wajah begitu syok.
"Ngapain mau tampar Lara? Kenapa!" teriak Papa farhan dengan begitu kuat.
"La-Lara mulai menentang Mama. Itu membuat Mama marah dan kecewa." jawab Mama ana, gugup.
"Apakah semua orang bisa kamu didik seperti Dion dan Adam? Bahkan Dion yang tak bisa menuruti kemauanmu pun, kamu buang perlahan dari keluarga ini. Begitu kamu mau?"
"Pa.... Bukan begitu, Mama juga ngga ada buang Dion kan Pa. Mama hanya mau pendidikan yang tinggi, dan Dion bisa lebih mandiri." jawab Mama ana, terbata-bata.
"Papa tahu, Papa tahu apa rencana Mama pada Dion. Mama kan, yang berniat menjodohkan Dion dan Dewi sejak lama? Agar Dewi bisa mengontrol Dion?"
"Papa, siapa yang bilang?" tanya Mama ana.
"Papa tahu sendiri. Karena Papa memperhatikan tindak tandu Mama selama ini. Mulai sekarang, hentikan semuanya. Biarkan Dion dan Dewi dengan hidup mereka. Dan Lara, jangan pernah kekang dia lagi dengan keinginanmu yang aneh itu."
Lara hanya diam melihat pertengkaran itu, dengan sesekali mengusap lengan-nya yang sakit akibat tarikan Mama ana.
__ADS_1
Papa farhan lalu kembali ke mobilnya dan pergi, entah kemana. Sedangkan Mama ana, terlihat begitu syok, bahkan jatuh tersungkur dilantai.