
Lara termenung lagi, akhir-akhir ini Ia memang terlalu sering termenunga dan melamun. Terkadang, hanya melamun pun membuat hatinya sakit, karena disela lamunanya, pasti ada sekelebat sosok Dion yang singgah.
Setelah jenuh, Lara kembali menyiapkan semua perlengkapanya dan pulang.
"Ah, Mba asni ngga ada. Padahal, mau bagi kebahagia'an kelulusanku. Tapi, yasudahlah... Nanti saja, sekarang beberes dulu." ujarnya, seraya memasuki kontrakanya.
Lara memulai pekerja'anya, mulai dari membereskan pakaian, melipat kasur tuanya, dan meletakan beberapa perlengkapan kedalam kardus hingga rapi.
"Apa yang bisa dibawa? Ngga ada kan? Disana serba lengkap. Tinggal dateng, duduk, pembantu juga ada. Mau bawa baju? Baju yang dimasih Mas adam yang boleh dipakai disana. Jadi, ya cuma segini aja." ucap Lara, menunjuk tas besar berisi pakaian.
Setelah lelah, Lara kembali duduk santai diterasnya, dengan menikmati secangkir teh hangat, menunggu Mba asni pulang dari kantor. Lara sesekali memandang langit dengan senyumnya, lalu turun lagi memandang tanah dengan kebencianya.
"Lara.... Ngapain?" tegur Mba asni yang heran dengan tingkah Lara.
__ADS_1
"Ngapain kenapa? Lara daritadi nungguin Mba pulang." jawab Lara dengan menghampiri Mba asni, lalu memeluknya erat.
"Mba... Lara lulus dengan nilai memuaskan." ucap Lara dengab bahagia.
"Subhanallah, alhamdulillah. Selamat Lara, semoga semakin sukses dengan gelar barunya." ucap Mba asni dengan begitu bahagianya.
"Sukses darimana, Lara mlaah diminta pindah kerumah Mas adam sama Mamanya, Ibu Lara maksudnya." Lara menundukan kepala.
"Lara... Mereka itu baik sama Lara. Kenapa tidak Lara jalani saja semuanya dengan baik-baik saja. Lupakan dendam itu, anggap saja Ibu Lara juga sudah mati, sepertu Dia menganggap Lara demikian."
"Lalu, harus bagaimana sikap Lara pada Mama ana?" tanya Lara.
"Anggap saja sepertu biasa. Sebagaimana Ia menjadi mertuamu, dan bukan Ibumu. Jalani apa adanya, seolah tak ada hubungan dengan kalian. Bukankah, Lara bilang yatim piatu pada mereka." buju Mba asni dengan lembut.
__ADS_1
"Mba... Apapun mau Mba, dan perintah Mba, akan Lara laksanakan. Tapi, tidak untuk yang ini. Bahkan, sampai sekarang Lara belum bisa menemukan makam ayah Lara. Mau bertanya dengan Pak johan, pasti harus punya alasan. Jika Lara bilang, Lara adalah anak yang Ia buang dulu. Bukanya malah Ia akan semakin gencar menyingkirkan Lara lagi? " jawab Lara.
Mba asni hanya menghela nafas panjang. Fikiranya tak sampai kesana untuk sekarang.
"Sekali saja, Lara ngga akan berbuat yang fatal. Hanya ingin memberi pelajaran pada Ibu yang telah membuang Lara begitu jauh." mohon. Lara.
"Baiklah, Mba awasi kamu dari jauh. Jika ada terjadi apa-apa, maka Mba sendiri yang akan menjadi saksi kejahatan kamu nanti." ancam Mba asni.
"Mba fikir, Lara mah bunuh orang? Engga lah Mba. Paling Lara buat gila, atau, Lara sendiri yang akan jadi gila. Nanti." jawab Lara dengan santai, seolah semua itu hanyalah bahan canda'an baginya.
Mba asni melangkah pergi, tak mau ambil pusing dengan semua perkata'an Lara yang mulai ngelantur sekarang. Baginya, hanya do'a dan kontrol istimewa, yang diharap bisa mencegah Lara dengan semua rencananya.
Larapun demikian, Ia masuk kedalam rumah, lalu merebahkan diri dilantai tanpa alas, karena kasur dan lainya, sudah Ia bereskan dan Ia lipat dengan rapi. Tak terasa dingin baginya, bahkan Ia tak takut jika harus masuk angin atau sakit kali ini. Yang ada dikepalanya, hanya obsesi, dan bayangan kepuasan akan apa yang Ia hasilkan nanti.
__ADS_1